Mengenai Saya

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Saya suka melakukan hal-hal yang menurut saya menarik dan orang-orang sulit melakukannya :) Saya suka bercerita tentang apa yang terjadi hari ini dan mendengarkan cerita teman-teman tentang betapa rumitnya hidup :P Saya selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk orang yang saya sayangi :* Sangat susah bagi saya untuk memilih, meskipun saya sudah menentukan prioritas. Seorang sanguinis- koleris yang perfeksionis namun berusaha untuk tidak terlalu idealis. Haha.
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Mei 2013

Maternity Supporting Belt and Scoliosis

Spesial, untuk rekan-rekan MSI :)

Ceritanya, istirahat makan siang ini aku pergi ke MiVi Baby Shop deket kantor untuk beli beberapa keperluan. Bukan aku yang lagi hamil, apalagi punya baby. Tentu saja tidak. Haha. Hanya nyari beberapa gift untuk temen. Kali ini aku pergi sama Kak Shinta, temen kantor yang juga ibu muda beranak satu.

MiVi ini sebelas-dua belas sama Lavie Baby House yang di Jl. Imam Bonjol. Cuma tempat ini menurut aku lebih nyaman, nggak terlalu penuh, terus lebih terang. Di bagian depan ada tempat makanan bayi, CD musik, baju, sepatu, aksesoris, perlengkapan ibu hamil dan menyusui. Di bagian tengah ada segala macem perlengkapan bayi mulai baju, selimut, kereta dorong, bedak-sabun-shampo-lotion-oil-cologne etc. Di bagian belakang ada mainan, buku anak, dan boneka.

Begitu sampai sana -untuk pertama kalinya- langsung excited liat beberapa bocah batita-balita lari-lari. Hihiii.. lucuuuu. Ada yang narik-narik baju mamanya minta dibeliin baju princess, ada yang dikejar-kejar papanya terus begitu ketangkep dikelitikin :D

Umm.. kepanjangan ya prolognya, sebenernya bukan itu yang mau diceritain. HAHA!
Jadi, ketika mampir di perlengkapan ibu hamil dan menyusui, aku nemu ini..


Baru pertama kali liat barang ini. Berdasarkan tulisan di kotak, dan penjelasan Kak Shinta, aku tau deh namanya elastic maternity belt atau pregnancy support belt. Bentuknya kayak ikat pinggang, bahannya kain elastis, dipake untuk nyangga perut supaya nggak ‘turun’ dan nggak kerasa terlalu berat. Belt ini juga menghalau rasa pegal di pinggang dan tulang punggung pas kehamilan semakin membesar...  –ber’ooh’ ria-

Sakit pinggang dan tulang punggung ­buat aku merupakan keyword yang merujuk ke satu kata, skoliosis. Aku juga udah sering denger kalau rata-rata yang punya skoliosis khawatir sama kehamilannya, meskipun kehamilan nggak terbukti selalu bikin skoliosis tambah parah dan sering sakit. Risk factor orang skoliosis yang hamil juga sangat kecil, sama aja dengan perempuan pada umumnya, tergantung kondisi masing-masing. Dan menurut aku adanya belt ini bisa sedikit banyak membantu kehamilan perempuan-perempuan skoliosis –yang sebenernya mayoritas udah super tangguh-

Sampai kantor langsung search ‘maternity belt for scoliosis’....
Hmm.. hasilnya cukup membawa angin segar :)

Supporting belt ini berguna untuk back pain management-nya.Beberapa forum keluarga, forum ibu hamil, dan forum kesehatan memang menyarankan untuk pakai supporting belt ini karena membantu mengurangi tekanan yang bikin tulang belakang nyeri. Aku belum nemu penjelasan medisnya secara detail, tapi ternyata lumbar supporting belt yang pernah beberapa kali aku pakai, menurut beberapa situs kesehatan juga bisa digunakan untuk supporting belt ketika hamil. Beban berat ketika hamil otomatis menarik otot bagian punggung, membuat otot sering tegang dan terasa nyeri. Supporting belt yang digunakan akan mengambil alih beban / menyokong otot punggung jadi overstretching yang menyebabkan nyeri bisa dicegah atau dikurangi. Nah, belt­ sebaiknya dipilih yang ada suspender-nya. Umumnya, merk yang disarankan ‘Gabrialla’ dari ITA-MED yang memang dibuat untuk memperbaiki postur, membantu mencegah dan mengurangi efek skoliosis dan masalah tulang belakang lainnya. Liat di Amazon harganya sekitar USD 30-40.

Oiya, kalau dari beberapa forum, kelebihan belt adalah nyaman dan cukup mengurangi tekanan yang bikin pegal pinggang dan tulang belakang, jadi nggak sering sakit atau linu-linu (pegel-pegel orang hamil sebenernya wajar dirasain kan ya..).Tapi kekurangannya bisa iritasi kulit / gatel dan jadi kurang nyaman pas hamilnya makin gede. Hmmm.. semoga itu cuma tergantung merknya yaa... Harus didiskusikan sama dokter dan fisioterapis juga –maaf aku belum nemu sumbernya kalau soal diskusi topik ini, maaf juga saya masih muda banget nggak berpengalaman kajian begini, haha-

Ini sedikit sharing aja kok, semoga bermanfaat untuk teman-teman, terutama scolioser ladies :)

Sumber: 1  (recommended, you must read!!), 2, 3, 4, 5, 6

Selasa, 05 Maret 2013

Keluarga Kecil Karina



Karina terbangun dari tidurnya, matanya terbelalak melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 6.30 pagi. Sambil bergegas ke kamar mandi, Karina sibuk meruntuki diri sendiri mengapa dia selalu dengan mudahnya tertidur sehabis shalat subuh. Tiba-tiba dia berhenti tepat di depan pintu kamar mandi, tersadar..

Eh, tunggu dulu. Aku mau kemana ya? Aku kan udah berhenti kerja....

Baru seminggu resign rasanya Karina kangen sekali sama suasana kantor. Ingin kerja lagi, ingin ketemu teman-teman lagi. Ingin ngerasain meeting lagi, menghabiskan jam istirahat di Coffee Club favoritnya, pulang kantor seminggu sekali shopping di Ciwalk atau PVJ bareng Nanda, Utari, dan Kinar, sahabat-sahabatnya yang sama-sama wanita karir.

Yah sekarang udah nggak bisa. Aku sekarang kan 100% ibu rumah tangga, ngurus anak sama suami. Padahal kalau mereka pergi, aku nggak ada kegiatan juga. Sepi. Kapan ya aku bisa kerja lagi?

Berhenti bekerja memang pilihan yang dilematis untuk Karina. Meskipun akhirnya dia memutuskan bahwa mengurus Didit yang sedang usia playgroup itu jauh lebih penting, rasanya ada yang hilang setelah berhenti kerja. Saking belum terbiasa ada di rumah, Karina sering lupa kalau udah resign. Dia jadi sering melamun dan mengeluh kesepian. Meskipun hari-harinya mulai dibiasakan lagi untuk sibuk dengan urusan Didit dan Mas Dika, tetap saja saat mereka berdua di luar rumah Karina merasa sepi sendiri, stress sendiri. Adiknya, Asti, yang masih kuliah tingkat akhir pasti akan meledeknya sebagai “wanita galau”. Uuh..

Karina tersadar dari lamunannya, sekaligus tersadar kalau rumah sepi sekali. Ditengoknya kamar Didit, kosong. Mas Dika pun nggak ada di mana-mana. Di dapur, kamar mandi, ruang TV, mereka nggak ada. Apa mereka pergi ke luar? Akhirnya sambil agak panik Karina kembali ke kamar karena mendengar handphone­-nya berbunyi. Telepon dari Mas Dika.

“Assalamualaikum, Mas? Mas sama Didit di mana?” 

“Hehehe..hehe..Ibu sayang selamat ulang tahun ya ibu.Hehehe.” Bukannya suara Mas Dika, malah suara Didit diselingi ketawa cekikikannya yang lucu yang terdengar di seberang sana.

Karin tertegun. Aku? Ulang tahun?

“Ibu, Yangti bilang Ibu ngga kerja karena mau nemenin Didit. Hehehehe..
Makasih ya ibu baik banget
Semoga Didit bisa cium peluk ibu tiap hari. Hehehehe..
Kado Didit sama Ayah ada di sini, cari ya Bu
Hehehehehe...
Didit sayang Ibu. dadah muaah”

Klik. Telepon di putus.

Belum habis rasa surprised karena telepon Didit tadi, pandangan Karina teralih ke meja di samping tempat tidur, ternyata ada surat tulisan tangan yang tadi luput dari pandangannya.

Hey Ibunya Didit,

Kamu inget kan ya sekarang tanggal berapa? 5 Maret. Dan sekarang ulang tahun kamu yang ke 28. Udah 4 tahun kita nikah, dan ternyata Ibunya Didit ini semakin cantik, semakin shalehah, semakin keibuan, dan Ayahnya Didit ini semakin cinta. Hehe.. unyuuu banget yah kalau kata anak muda :3

Mas nggak ngantor ah hari ini, hehe, bandel ya. Mas mau sama kamu, sama Didit, jarang-jarang kita di rumah bertiga selain weekend. Semoga di hari ulang tahun kamu ini impian kamu untuk jadi ibu yang the best buat Didit dan istri yang the best buat Mas dimudahkan prosesnya sama Allah SWT. I wanna be the best for you and Didit too, honey. I believe that you are the best thing that’s ever been mine.

Love,
Ayahnya Didit

Ps: Kita ngumpet sambil main di garasi. Didit pengen kamu nyari kita. Ssst.. jangan bilang Didit aku bocorin tempat ngumpetnya yaa..


Karina sadar, selain tawa kecil dan senyum yang merekah di bibirnya, ada air mata yang mulai menggenang dan mengalir dari sudut matanya. Terharu. Dan detik itu Karina semakin yakin keputusannya tepat dan mantap. Saat ini dia bukan ingin mengejar ambisi karir, tapi jadi 100% ibu rumah tangga, mendidik Didit supaya jadi anak yang pintar, shaleh, dan berbakti sama orang tua, plus mengurus suami yang sangat ia cintai, Mas Dika.

Karina nggak mau kehilangan momen berharga keluarga kecil mereka, apa lagi melihat tumbuh kembang Didit yang selama 2 tahun ini sempat Karina lewatkan. Karina janji, dia akan menjadi tempat pulang yang paling dirindukan dan paling indah untuk kedua jagoannya itu. Karina tak perlu pikirkan meeting, arisan, kerjaan kantor, shopping sepulang kerja, dan happy-happy di Coffee Club. Karina bersyukur memiliki keluarga kecilnya.

Karina pun berlari kecil ke garasi dengan senyum cerah dan  mata yang basah :)

Senin, 04 Maret 2013

Jon dan Sepasang Manusia



“Mas, iga bakar penyet satu, sop iga satu, jus strawberry satu, es cokelat satu ya..” 

Jon mengiyakan perkataan perempuan di depannya. Jon masuk ke dapur sambil sesekali menengok ke belakang, ke arah perempuan tadi. Perempuan manis itu duduk di meja nomor 12. Ah, lagi-lagi nomor 12. Di hadapan perempuan itu duduk seorang laki-laki. Laki-laki itu lagi, selalu laki-laki yang sama. 

Perempuan manis dengan lesung pipi. Jon tak mengenalnya. Tapi boleh jadi Jon akrab dengannya. Minimal Jon bertemu dia seminggu dua atau tiga kali setiap menjelang malam. Minimal Jon tahu menu favorit dia apa, sop iga dan jus strawberry. Sementara si laki-laki beruntung yang selalu bersamanya selalu pesan iga bakar penyet, apapun minumannya. 

“Mbak, Mas, ini pesanannya, selamat menikmati.”

Senyum mereka dan kata “Terima Kasih” yang terucap membuat senyum terbaik yang Jon siapkan terbalas indah. Jon suka binar mata mereka saat berbicara satu sama lain, hangat dan akrab. Setelah mengantar makanan, waktu Jon habiskan di depan kasir hanya untuk memandangi mereka bercengkrama.

Kalau boleh dibilang, Jon jatuh cinta. Bukan, bukan pada si perempuan manis, apalagi pada laki-laki kharismatik yang selalu bersamanya, Jon masih normal. Jon jatuh cinta pada mereka, jatuh cinta akan kebersamaan mereka. Jon sangat suka melihat mereka berdua bersama. Perempuan manis dan laki-laki kharismatik, terlihat serasi. Dua manusia yang menghiasi malam dengan senyum, dengan kejutan, dengan obrolan tentang mimpi dan masa depan. Dua manusia yang binar matanya terang, menghabiskan waktu dengan canda, akrab dan tentram. Semoga selalu seperti itu, semoga memang jodoh, begitu doa tulus Jon. Buat Jon, mereka pasangan favoritnya. Melebihi Anang dan Ashanty, bahkan David Beckham dan Victoria Beckham!

Demi Pesan Terakhir Ibu


Di sinilah aku duduk sekarang. Kantor yang terasa asing dengan hembusan kencang AC. Dingin. Sedingin tanganku mungkin, atau lebih dingin. Jantungku berdegup keras dan cepat. Aku menggigit-gigit bibir, ragu, nervous, campur aduk.

“Mbak Ratri,”

“Ya..”

“Mbak ditunggu Bapak di dalam. Silakan masuk Mbak, lewat sini.”

Aku berjalan menyusuri lorong menuju ruangan Pak Rahmat Harsodjo. Ruangannya terletak di pojok lorong, sunyi, sepi. Pintu dengan gantungan tulisan namanya malah membuatku ciut untuk mengetuk meminta masuk. Aku tergugu di depan pintu. Kalut, gamang.

“Ratri, kenapa diam? Masuklah.” Terdengar suara dari dalam, seakan tahu aku yang ada di luar.

Dengan berat aku melangkahkan kaki ke dalam ruangan. Isinya sudah ku duga, sama sekali tidak ingin kulihat. Foto keluarga ukuran besar terpasang di dinding, foto lainnya di meja pojok ruangan, di meja kerja. Aku yakin foto-foto itu usianya tak lebih dari lima belas tahun. Kalau lebih dari itu harusnya di foto itu ada wajah yang akrab di mataku, wajah yang aku rindukan.

“Waktu berjalan begitu cepat Ratri. Dua puluh delapan tahun umurmu, lima belas tahun aku pergi, dan aku terlambat kembali. Tapi seperti yang kita bicarakan di pemakaman kemarin, rencana ini akan tetap berjalan. Maafku tulus, Ratri. Aku menyayangimu. Aku meminta maaf karena selama ini aku tak ada untukmu. Izinkan aku menebusnya selama sisa hidupku.”

Aku menyayangimu, dan ibu jauh lebih menyayangimu. Aku tahu maafmu tulus, tapi sesungguhnya luka ini belum kering.

“Kamu tahu, aku tidak mungkin meminta Ken. “

Tentu saja aku tahu, karena Ken anakmu dari Astrid masih 13 tahun umurnya.

“Kamu lah yang aku banggakan, Ratri. Aku mau kamu, kamu yang mempimpin perusahaan ini. Kamu cantik, cerdas. Kamu kuat. Kamu unggul, Ratri. Maya, ibumu, mendidikmu dengan sempurna.”

Sempurna? Lalu kenapa kau tinggalkan?

“Ayahmu ini sudah tua, Ratri. Aku bahagia kamu mau kembali, aku bahagia kamu masih peduli pada ayahmu yang payah ini.”

Aku, Ratri Harsodjo, kembali bukan karena kau, Ayah, meski aku menyayangimu. Bukan karena kau tapi demi pesan terakhir almarhumah Ibu, yang memintaku untuk memaafkan Ayah dan mau hidup bersama keluarga baru Ayah, tante Astrid dan Ken. Sejujurnya aku mengorbankan perasaanku.

Minggu depan, saat aku mulai menempati ruangan ini, barang-barang yang akan aku singkirkan pertama kali adalah foto keluarga baru Ayah. Semuanya.

Senin, 25 Februari 2013

Ice skating, seluncuran...



Ngerasa pengen nyobain banyak hal baru sebanyak mungkin dan sesering mungkin membawa aku benar-benar menuju dunia kenekatan. Main ice skating! Iya, aku yang keseimbangannya nggak-bisa-dibilang-bagus-banget dan jelas-jelas nggak bisa seluncuran pake in line skate atau roller blade plus sempet trauma naik sepeda gara-gara jatoh kebanting di tikungan kantin bengkok, berani-beraninya main ice skating! Ini semua gara-gara Gita Salmah Nuraisah. Hazet...

Berawal dari whatsapp-whatsapp mengiba Gita (eh, nggak juga sih, kelakuan aku sama Gita emang sebelas-dua belas), dan keinginan dia untuk main ice skating di Gardenice tapi nggak kesampaian mulu gara-gara nggak ada temen, akhirnya dengan rela hati aku ikut Gita ke PVJ. Sejujurnya karena penasaran juga sih. Haha!

Gita bilang nggak banyak yang tau di PVJ ada tempat main ice skating *iya gitu?*, tapi kemaren weekend kita ke sana emang sepi banget sih, cuma ada sekitar 10 orangan gitu. Minat orang Bandung main ice skating rendah kali ya? *ya kali Bandung lagi dingin mana ada yang mau main ice skating..* Kalau dibandingin Sky Rink MTA yang selalu penuh sih jauuuuh pokoknya. Sebenenrnya setahun lalu sempet ada niat mau main ice skating di MTA sama Gilang, Seno, Celeng, Kiki, tapi ya itu, penuh banget jadi baru liat udah males duluan *lagian dulu belum siap mental*. Hehe.

Setelah bayar tiket masuk dan naro barang di loker, aku sama Gita ukur sepatu. Gita ukuran 38 dan aku 37. Hahaha. Badan lebih kurus Gita, tapi kenapa kaki dia lebih gede (-_-“). Setelah pake sepatu, hap hap hap mulailah kami berdua melangkahkan kaki di lantai es yang dingin sambil pegangan pembatas ice ring. Hahaha. Langsung deh ketawa-ketawa bego berdua entah maksudnya apa, plus sambil ngobrol dan nyanyi-nyanyi ngikutin lagu yang diputer. Tapi setelah beberapa keliling akhirnya aku bisa lepas pegangan dan meluncur dengan lancar termasuk meluncur ke tengah meskipun jaraknya pendek-pendek. Tentu saja ini perjuangan, setelah 3-4 kali jatuh terduduk di lantai es yang dingin dalam waktu 90 menit! Ouch!

Manfaat main ice skating (buat yang belum bisa) :

  1. Latihan, biar bisa seluncur-seluncur, belok, dan muter-muter kayak yang udah pro! Yoi!
  2. Refreshing dengan cara yang beda, bosen kan belanja sama makan mulu.
  3. Latihan berdingin-dingin, siapa tau nanti keluar negeri terus main salju *halah, eh-tapi-Aamiin*
  4. Menertawakan kebodohan sendiri dan teman, terutama yang kerjaannya megangin pinggiran dan jatoh-jatoh mulu. Hahaha!
  5. Olahraga, kalau udah bisa meluncur sama belok bisa lomba-lombaan ngelilingin ice ring-nya. Asyik kalau di Gardenice sekali bayar sepuasnya mainnya mau dari buka sampai tutup juga ngga ada yang protes *kalau kuat fisik bisa aja sih..*


Kerugiannya cuma satu : MAHAL! Hahaha. Weekend 75rb belum termasuk loker, weekday 60rb. Tapi tenang, ada harga mahasiswa kok, dan jauh lebih murah. Yeyeyeye! *ngga ngaruh padahal, udah bukan mahasiswa*

Ayok main ice skating lagi, next time aku ajak kalian :D

Kamis, 21 Februari 2013

Cerita sedikit...



Seorang teman lelaki curhat ke saya tentang pacarnya yang ngambek karena dia temenan sama seorang perempuan. Sang pacar pikir hubungan pertemanan mereka ‘ada apa-apanya’ padahal sama sekali nggak. Teman saya ini orangnya jujur, baik, dan saya tahu dia pasti tulus sayang sama pacarnya (aseeek..dipuji lo :p), nggak mungkin lah dia pikirannya aneh-aneh. Teman saya itu pusing (uring-uringan mungkin ya?) dan mencoba berpositive thinking mungkin pacarnya memang lagi ada masalah atau emosinya lagi naik-turun. Kemudian dia cerita ke saya.

Hmm.. saya bukan sekali ini dicurhatin tentang masalah yang sama persisi kayak gini. Jangankan dicurhatin, ngalamin sendiri juga pernah. Haha. Kemudian setelah sadar kayaknya masalah kayak gini emang sering banget terjadi di hubungan anak muda (cieeeh, apa pula bahasanya). Saya coba kasih pendapat saya deh, siapa tau bisa jadi masukan yang baca saat membina hubungan serius (menikah ya, menikah.) nanti. Toh apa yang terjadi sekarang itu memang bakal jadi pelajaran buat kita di masa depan.

Perempuan pada dasarnya memang diciptakan lembut hatinya, perasaan halus, sangat peka, mudah tersentuh, dan perasa. Nggak aneh menemukan perempuan gampang nangis, bertutur kata baik, bersikap manis, dan sensitif karena memang umumnya perempuan cenderung ke salah satu atau lebih sifat tersebut. Terus kalian, para lelaki, pasti pada bingung atau mungkin sebel ya kalau perempuan keluar sifat sensitifnya.

Studi kasus : A (lelaki) sebut aja punya pacar namanya B, mereka memutuskan untuk menjalani hubungan dengan serius, bukan pacaran anak SMA. A ini punya sahabat perempuan namanya C yang B nggak kenal sama sekali. Sebelum A sama B jadian, A sama C udah lama berteman, sering cerita-cerita, jalan bareng, saling bantuin, saling nyemangatin, canda-candaan, pokoknya best friend deh. Terus B yang sekarang jadi pacarnya A bete banget kalau tau A sama C ketemu atau masih deket. Bawaanya ngambek. Pokoknya B takut kalau C ada perasaan sama A ataupun sebaliknya. Tapi B sungkan bilang sama A jadi keliatannya malah kayak ngambek nggak beralasan gitu. B nggak benci sama C, tapi nggak suka aja sama cara berteman C sama A, terlalu deket kalau kata B. Hmm.. mungkin B merasa terasingkan ya.

Kalau ada di posisi itu, coba terangkan kalian mau gimana? Misal kalian para lelaki jadi si A, apa yang akan kalian lakukan. Kalau para perempuan jadi B apa tanggapan kalian? Atau jadi C, menurut kalian, kalian harus gimana? Saya sendiri pernah ada di posisi B, maupun C. Saat di posisi B saya sering mangkel sendiri, bete sendiri, saya ngerasa banget kalau soal ini hal kecil berbau negatif pun bisa sangat mempengaruhi pikiran si B. Lucunya saat saya ada di posisi si C, saya lebih sering berpikir “Apa banget sih B, santai aja kali...” dan sering saya jadi segan sama sahabat saya, sampai terkesan “Enaknya gw jaga jarak aja deh, gw nggak enak sama cewek lo..”

Huhah! Untuk menanggapi masalah seperti itu, yang sebenarnya kecil tapi kalau dibiarkan malah jadi duri dalam daging and will ruins everything, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan di sini...

Untuk para lelaki : 
Perempuan yang dekat dengan kalian / sedang menjalin hubungan dengan kalian umumnya nggak terlalu suka kalau kalian akrab sama perempuan lain meskipun itu cuma teman. Konteksnya kalian cuma teman, tapi ada kalanya mereka akan mikir yang aneh-aneh, semisal teman perempuan kalian seuka sama kalian, atau kalian ada main sama teman sendiri. Pikiran itu memang non sense, nggak tentu logis tapi bukan sesuatu yang nggak mungkin terjadi. See? Akan ada suatu waktu dimana perempuan memunculkan sifat posesifnya dan menunjukkan kecemburuannya. Sewaktu-waktu bisa jadi mereka nggak percaya. Makanya mereka harus diyakinkan.

Bikin mereka yakin jadi suatu kewajiban apalagi kalau kalian memang serius sama mereka. Salah satu caranya adalah perbaiki komunikasi dan kenalin sahabat perempuanmu ke perempuan yang sedang dekat / menjalin hubungan denganmu, dengan begitu dia akan berpikir kalau temanmu teman dia juga. Dia akan dengan mudah berdamai. Toh ketika menikah nanti kalian memang tidak seharusnya punya sahabat lawan jenis yang terlalu dekat, I bet you know the reason, man... *kalau serius, harus siap sama ketentuan dan konsekuensinya*

You can't go around being all nice and friendly with someone when you're clearly with someone else. It's misleading, it's frustasting, and it's not fair...

Untuk para perempuan (as B) : 
Terlalu cemburu dan posesif itu nggak baik. Yang ada para lelaki malah akan lari dari kalian. Belajarlah yakin pada lelaki yang kalian percayakan hati kalian padanya. Oke, intinya belajarlah percaya, nggak berpikiran negatif, kurangi dan tahan sifat overposesif dan cemburuan. Cemburu sama teman pacar? Boleh, tapi harus beralasan dan nggak berlebihan. Kamu juga nggak dilarang punya teman lelaki kan. Kalian belajar untuk bijaksana dan berpikir positif. Yakin, yakin, dan yakin. Jangan mudah kemakan omongan orang apalagi kalau nggak ada bukti. 

Tapi kalian juga harus mengingatkan kalau lelaki udah mulai kelewatan. Mungkin mereka memang belum tentu sepenuhnya bersama kita (terutama belum ada ikatan pernikahan), tapi bukan berarti nggak punya komitmen kan? Pertanyakan ulang komitmen yang dibuat ketika kalian merasa para lelaki sudah kelewatan. Visi kalian harus sama, harus jelas mau dibawa kemana. Kalau cuma main-main untuk apa dijalani? Selain itu, nggak suka cara berteman lelaki dengan perempuan lain bukan berarti kalian nggak suka sama pribadinya. Itu salah besar! Cobalah untuk saling menerima dan minta dikenalkan ke perempuan yang jadi sahabatnya, siapa tahu kalian bisa berteman juga. Santai, and make it simple.. percayalah, kalau jodoh nggak akan kemana.

Untuk para perempuan (as C) : 
Sungkan? Risih? Merasa dibenci pacar sahabat sendiri? Jangan mikir seperti itu, karena belum tentu kejadian. Jangan uring-uringan. Santai aja tapi coba lihat diri kita. Coba kita renungkan, apa bener kita terlalu dekat sama sahabat lelaki kita? Apa kita terlalu berlebihan, terlalu perhatian? Apa ada rasa lain selain sekedar menganggap teman? Coba jujur sama diri sendiri, introspeksi diri sendiri. Dalam hal ini mungkin kita dianggap duri dalam daging, atau pengganggu hubungan orang. Ha! Padahal kita nggak seperti itu. 

Coba bicara dengan sahabat lelaki kita dan juga pacarnya / perempuan yang dekat dengannya. Coba untuk saling terbuka untuk menciptakan suasana yang nyaman. Kita nggak cari musuh, kita cari teman. Nah, kalau ternyata kita punya perasaan ‘lain’ pada sahabat lelaki kita selain mengganggap teman, bagaimana menghadapi pacarnya? Hmm.. omongin baik-baik pasti bisa. Ayo lah, kalian sama-sama perempuan.

Semoga cuap-cuap saya bermanfaat :)