Mengenai Saya

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Saya suka melakukan hal-hal yang menurut saya menarik dan orang-orang sulit melakukannya :) Saya suka bercerita tentang apa yang terjadi hari ini dan mendengarkan cerita teman-teman tentang betapa rumitnya hidup :P Saya selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk orang yang saya sayangi :* Sangat susah bagi saya untuk memilih, meskipun saya sudah menentukan prioritas. Seorang sanguinis- koleris yang perfeksionis namun berusaha untuk tidak terlalu idealis. Haha.
Tampilkan postingan dengan label Memories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Memories. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Mei 2013

Railway



Mereka bersandar di bawah pohon mahoni. Saling duduk membelakangi. Terdiam. Tak ada satu kata pun keluar setelah sekian puluh menit. Sibuk dengan angan masing-masing. Dengan tatapan jauh, padang rumput, semilir angin...

Railway..” Si gadis menggumam, sambil menutup buku yang sebenarnya tak benar-benar ia baca. Pandangannya masih terus menerawang menjelajahi padang rumput luas.

“Huh?” Si pemuda memutar kepalanya sedikit, berusaha mencari makna kata dalam bening mata si gadis, tak ditemukan.

“Iya, seperti rel kereta api. Kita.” Si gadis, telunjuknya mengacung bergerak-gerak seakan membentuk ilusi gambar, rel kereta katanya?

“Maksudmu, sejajar?” Si pemuda mencoba mengerti. Sejak dulu si gadis memang rumit, tak pernah ia pahami meski ia mencoba sekuat hati dan pikiran. Hingga ia menyerah saja, si gadis terlalu kompleks untuknya.

“Iya, sejajar. Beriringan. Bertemu dan bersinggungan kemudian kembali terpisah. Jauh.”

“Jauh sekali ya..?” Pandangan si pemuda menerawang, membayangkan hidup dia dan si gadis yang dianalogikan seperti rel kereta api. Sejajar, seiring, selaras, mendekat, bertemu, bersinggungan lalu terpisah. Ah, logika macam apa ini..

“Yaa, mungkin amat sangat jauh.” Si gadis mengangguk mantap. Sungguh, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mengendalikan setiap kata dan juga rasa agar tak berlebihan. Ini hidup, naik dan turun. Tidak boleh ada tangis. Hal yang tak berubah adalah perubahan. Dia hampir berhasil. Toh seiring waktu semua akan terlewati.

“Seperti... kau mengambil jalan utara, aku ke selatan?”

“Bagiku, inilah warna hidup. Dan itu pilihan..” Pandangan si gadis beralih menatap mata si pemuda.

“Dan bukan untuk disesali..” Si pemuda menimpali.

“Dan jadi pelajaran..” Si gadis menambahkan.

“Dan...” dilanjutkan atau tidak ya? Si pemuda terdiam. Mungkin sebenarnya dia hanya tak tahu apa yang dia lakukan. Tapi apa yang dia rasakan ini sungguh terasa benar..

“Dan?”  tanya si gadis menunggu jawaban, menaikkan alis seperti biasa.

“Dan aku bersyukur sempat mengenalmu.” 

“Meski ternyata bukan aku orangnya, ya..” Si gadis tertawa kecil, ah seandainya si pemuda tahu di balik tawa riang si gadis ada berjuta tempaan yang lebih dulu ia terima hingga ia sekuat ini. Tapi hati si gadis begitu ringan, karena ia yakin Tuhan akan memberikan kesempatan sepasang anak manusia yang saling mencari untuk saling menemukan. Sepasang yang terbaik.

“Entah. Sejujurnya aku bimbang. Bagaimana jika aku kemudian kembali?”

 “Bukankah aku pernah bilang. Beberapa orang akan selalu memberikan arti untukmu tanpa harus selalu ada di harimu. Beberapa orang akan selalu memiliki ruang di hatimu tanpa harus ada di kehidupanmu.. Dan –mungkin- aku adalah salah satunya.”

“.......”

“Aku yakin, baik aku, maupun kamu, akan mendapatkan yang terbaik untuk diri kita. Oh iya, dan mimpi aku dan kamu sama-sama masih banyak. Jadi, tak usah khawatir, kita akan baik-baik saja...” Ujar si gadis sambil tersenyum. Tapi mengapa si pemuda malah semakin merasa beku, beku yang menyakitkan.

Di bawah pohon mahoni dialog dua anak manusia mengalir. Kemudian mereka kembali dalam diamnya angan dan gumam masing-masing.

Bandung, 07/05/2013

Rabu, 10 April 2013

Menghitung



satu, dua, tiga, empat, lima, enam...
entah sudah berapa, keberapa kalinya
aku menghitung, tanpa sadar aku menghitung
berapa orang bilang, berapa orang rasa, berapa orang luka, berapa orang salah
yang sepertinya sama
apa saja, siapa saja,
juga kata-kata yang dari dulu –hingga sekarang- mereka hembuskan ke telinga,
begini dan begitu
aku bukan golongan mereka, kamu tahu, aku tak sama
aku tak mau dengar, tak mau dengar
aku tak mau, dan tak akan percaya
karena apa? karena kebenaran hanya Tuhan yang berikan
bukan omongan comel orang-orang di luar
yang aku ikuti hanya kalimat “jangan pikirkan, jalan ini panjang”
yang aku pikirkan hanya bagaimana tetap jadi bijak
sebelum pikiran dan jiwa kita dibajak oleh tingkah orang-orang tak bertanggung jawab
yang aku ingin, kalaupun benar, semoga kebenaran Tuhan ada padaku, padamu

Rabu, 20 Februari 2013

Mang Ade

Subuh hari Minggu kemarin sekitar jam 5 kamar aku diketuk-ketuk. Pas aku buka ayah sama ibu nyelonong  masuk tergesa-gesa buka-buka laci di meja rias. Bingung aku, pada nyari apa. Oh ternyata nyari amplop. Begitu ketemu amplopnya ayah cepet-cepet keluar terus kedengeran suara pintu luar dibuka. Ayah pergi ngga tau kemana. Sementara ibu duduk di pinggir kasur aku, mukanya sedih.

Innalillahi wainnailaihi raji'uun..” kata ibu bikin aku kaget, “Siapa Bu yang meninggal?”

“Mang Ade, Mbak...” kata ibu lagi. Aku yang awalnya cuma ngomong setengah sadar langsung melek maksimal begitu denger jawaban ibu.

Mang Ade, yang berjasa memanjakan perut orang-orang sekomplek dengan bubur ayam dan pempeknya yang super enak, ternyata pulang ke sang Khalik.

Innalillahi wainnailaihi raji'uun..

Spontan nangis. Adik aku juga nangis.

Baru kemarin sorenya aku bangun tidur siang dibeliin pempek Mang Ade yang super enak sama Ayah, terus kami makan sekeluarga. Baru kemarin paginya aku sarapan bubur bikinan Mang Ade. Iya, Mang Ade yang super ulet dan gigih itu jualan bubur ayam di pagi hari, terus setelah dzuhur jualan pempek di lingkungan rumah kami. Orangnya baiiiik banget, terus hapal sama orang-orang rumah, care. Sering banget tiap aku beli bubur pagi-pagi, beliau pasti ngajak ngobrol “Neng kuliahnya gimana? Kapan beres?”, “Alhamdulillah udah beres ya Neng? Udah kerja juga ya. Alhamdulillah.”, “Putri gimana neng sekolahnya?” dll.dll. Udah lebih dari 10 tahun Mang Ade jualan di lingkungan rumah. Nggak heran, tetangga-tetangga juga pasti udah akrab banget sama beliau.

Sekitar 4 tahun lalu Mang Ade sakit stroke, nggak bisa ngapa-ngapain. Badannya yang dulu gempal kayak Sinterklas jadi kuruuuus banget. Tapi beliau nggak nyerah. Begitu sembuh, beliau jualan lagi. Iya, jualan lagi ditambah jualan pempek siang harinya. Beliau juga rajin ke masjid deket rumah aku. Kalau shalat suka disitu, kata ayah kadang ayah suka liat beliau bada maghrib atau isya ngaji di masjid. Rumahnya emang nggak jauh dari masjid. Selain itu beliau suka bantu-bantu warga dan murah hati. Jajan suka dibonusin, dan suka bersedekah. Pokoknya orang baik.

Sepulang ayah ngelayat, ayah cerita kalau Mang Ade banyak banget yang ngelayat, banyak banget yang bantuin dan ingin ngatar sampe makam. Pokoknya tempat kontrakannya penuh, sampai-sampai pemilik kontrakan nyediain rumahnya untuk jadi tempat ngelayat. Banyak yang sedih banget, kehilangan banget meskipun nggak ada hubungan darah sama Mang Ade. Banyak yang sayang sama beliau.

Nggak perlu jadi pejabat untuk dihormati. Nggak perlu jadi orang kaya untuk disegani. Nggak perlu sekolah tinggi untuk dipandang orang. Yang penting jadi orang soleh, yang berahlak mulia. Mang Ade membuktikannya.

Semoga Allah SWT menerima amal ibadahnya, mengampuni dosa-dosanya, dan menguatkan keluarganya. Aamiin..

Hard to say goodbye, semua orang Cigereleng bakal kangen pasti, Mang Ade :)

Selasa, 11 September 2012

Pernahkah?

7 September 2012, Pukul 7 sekian malam, tempat tambal ban di ujung Jalan Ganesha...

“Kamu pernah nggak Dys, sedih karena kehilangan orang yang disayang?”
“Disayang?”
“Iya, orang yang kamu sayang. Tapi bukan ayah, ibu, keluarga gitu. Yang lain, yang kamu sayang..”

Percakapannya kurang lebih seperti itu. Adegan setelah itu? Diem. Nggak aku jawab. Hehe

Bukan karena aku nggak mau jawab, bukan karena ada yang ditutup-tutupi. Tapi karena aku bukannya mencari jawaban, malah seakan-akan terhisap ke mesin waktu, terbawa ke masa lalu di mana memori menari-nari di pikiranku, dan... aku bingung mengutarakannya gimana.

Pernahkah kamu kehilangan orang yang kamu sayang terus kamu sedih karena itu?

Pernah? Pernah nggak?

Dijawab nih?

Pernah. Dan itu sakit.

Awalnya aku kira, jalan yang kutempuh sudah benar, pilihan yang aku ambil sudah tepat. Sering kali aku berpikir, dia memang benar-benar orangnya. Kami melalui hari dengan indah, saling dukung, saling support dan saling percaya. Kami beradu pendapat, berbagi pikiran serius, bekerjasama saling bantu tugas. Tapi memang ada satu hal yang belum kami putuskan, keseriusan kemana ini berjalan, kejelasan, komitmen.

Kenapa? Karena aku merasa itu nggak perlu. Mungkin dia juga. Aku merasa status hanya pajangan, hanya untuk anak-anak yang baru belajar dan mau pamer. Orang dewasa nggak perlu, cukup kata “Ya” yang dibuktikan dengan sikap. Orang lain nggak perlu tau semuanya, nggak penting.

Beberapa teman bilang, kami bertolak belakang. Kami sangat berbeda. Kami dua sisi koin yang tidak akan bertemu, kami dua mata pedang yang akan saling melukai. Caraku hidup, caranya hidup. Pandanganku, pandangannya. Caraku bergaul, caranya bergaul. Memang jauh dari kata sama, jauh dari kata cocok. Tapi bukannya dengan adanya perbedaan akan saling melengkapi? Jalan teruuus.....

Sebulan, dua bulan, empat bulan, enam bulan.....

Kemudian ada hal yang tiba-tiba merubah pandanganku, memunculkan pikiran Jadi selama ini apa?. Kemudian semuanya berubah 180o. Dan aku cuma bisa bilang Now you’re just somebody that I used to know..
Saat orang yang kita kira akan menjadi segalanya di kehidupan kita tiba-tiba  berbalik arah pergi hanya karena nggak terima kekurangan kita, saat itulah kita merasa sangat sakit. Saat itulah aku merasa kehilangan orang yang aku sayang dan sedih karena itu.

Haruskah diri kita sempurna untuk bersama seseorang yang kita harapkan kelak akan jadi matahari kita? Apakah dibenarkan kalau kita ditinggalkan dan dihindari karena kekurangan kita? Bukankah itu namanya nggak menerima sepenuh hati? Bukankah kekurangan masing-masing ada untuk dilengkapi satu sama lain? Untuk diterima sebagai penguat satu sama lain? Mengapa kekurangan harus dipandang sebagai satu masalah yang nggak bisa ditolerir keberadaannya dan jadi alasan untuk bilang I’m not into you?

“Aku sakit, skoliosis, tulang belakangku nggak normal. Minggu depan, aku terapi.” – dan itu mengubah segalanya

You leave because you don’t want to face it? We end up in this way? Why don’t we fight for ‘it’ together?  - Saat itu cuma itu yang aku pikirkan

Sedih boleh. Sakit boleh. Kecewa boleh. Tapi untuk benci, menutup diri dan menyalahkan Allah atas kekurangan yang Dia berikan, itu bukan caraku untuk merefleksi diri. Lagian sebenernya aku nggak bener-bener kehilangan kan, aku nggak pernah memilikinya, dia punya Allah. Allah bilang “Orang ini bukan Aku buat untuk dipasangin sama kamu, buat kamu nanti ada yang lebih baik dari orang ini.”. Ini mungkin pelajaran, Allah nunjukkin bahwa ada lho yang nggak mau nerima kekurangan orang lain sampai segitunya. Tapi bukan salah dia, ini skenario  Allah untuk bikin bahan belajar buat aku supaya lebih bijak dalam menjalankan hidup. Nggak ada yang sempurna di dunia ini. Orang yang mengejar kesempurnaan fisik, materi, duniawi, nggak akan pernah puas.

Dan sekarang, Alhamdulillah jangankan sedih, benci sama dia, nginget pernah ‘kehilangan’ dia pun aku udah nggak pernah. Yang dulu cukup diambil hikmahnya aja, bukan untuk jadi penyesalan seumur hidup, cukup jadi pelajaran aja untuk apa yang dijalanin sekarang. Karena aku yang sekarang, menjalani yang sekarang sama orang yang sekarang aku mengakui kalau aku lebih bahagia, aku nggak mau menyia-yiakan, aku mau terima apa adanya dengan ikhlas. Dan mudah-mudahan Allah punya rencana yang paling indah buat hambaNya yang ikhlas dan sabar. Insya Allah. Bismillah.

ps: ditulis oleh si nona yang duduk di belakang meja kerja, menunggu waktu pulang :)

Selasa, 27 Maret 2012

Nice (Mind) Discussion


Siang ini gw lewati bersama mbak Choppiz buat makan siang setelah kuliah AMDAL yang agak menjemukan dan bikin ngantuk. Awalnya obrolan cuma sekitar keanehan beberapa temen sekelas yang tiba-tiba ngebahas suatu-hal-apalah-nggak-tau-gw-juga sampai tiba-tiba Choppiz mempertanyakan suatu hal yang menurut gw ya agak menohok dan ngebalikin pikiran gw yang selama ini bless ilang aja gitu.
"Lo sama si A kenapa? Kok tiba-tiba bilang nggak lagi?"
Gw nyengir pait. Hahaha.
Well, ini nggak tau udah kejadian berapa kali. Saat lo mencoba untuk serius sama orang , try to care and love him, tapi jauh di dalam pikiran lo, lo bilang "He's not the one", "He's not worth", "He's just not into you", "You're not for him, he doesn't love you for serious". Dan akhirnya lo memutuskan untuk memenggal, meng-cut apa yang selama ini lo rasakan. Meskipun sebenernya lo nggak tau kalian sebenernya apa (atau gimana?) karena nggak ada yang bilang.
Yap, itu terjadi sama gw. Haha.
Gw nggak mencoba untuk sok kuat, sok tegar, atau ketawa sarkastik. Tapi itu kenyataannya. I face the truth, see the realities. Gw tahu, makanya gw putuskan untuk melakukan itu. Gw tau, gw sama dia mungkin emang nggak cocok untuk bareng-bareng. Entah gw yang terlalu picky, egois, atau apalah, atau dia yang emang ngga serius, yang emang sebenernya biasa aja (tapi mungkin dulunya penasaran terus ngga penasaran lagi).
Dan akhirnya gw menumpahkan semua unek-unek gw ke Choppiz lah, siapa lagi. Dan mungkin emang karena kita pernah ada di suasana yang sama jadinya nyambung banget. Dari dia gw dapet banyak masukan yang bikin pikiran gw makin ringan sama si oknnum A ini, yang tadi pagi nggak sengaja papasan di parkiran *eh*.
Gw nggak mau kejadian lagi yang dulu-dulu, jadi gw memutuskan untuk santai. Nggak usah terlalu dibawa ke perasaan. Ikhlas adalah kuncinya. Jangan terlalu dipikirin meskipun mau gimanapun dia akan selalu ngisi pikiran lo. Kalau takdir bilang "Iya", pake cara apapun pasti bakal ketemu lagi kok, itu kan rencana Tuhan. Dan kalau memang bukan takdirnya, lama-lama lo nggak akan masalah kok, nggak bakal ngerasa kehilangan juga. Lo akan dapet yang lebih baik, gw yakin itu *ngomong sama diri sendiri*.
When you love someone, let him go. If he's back he's yours, love is yours. If he's not so you'll have someone better :)

Sabtu, 28 Januari 2012

(Y)Our New Page

Jauh hari aku telah menganggap bahwa masa lalu kita yang indah dan menyenangkan telah kita tutup dengan senyuman. Tidak ada tangis, meski awalnya ada rasa menyesal karena tidak sempat memperbaiki kekurangan-kekurangan sebelumnya, kita ,atau tepatnya aku, akhirnya menerima, we're not meant to be. I'm just not into you and so you too.

Kita telah selesaikan lembar terakhir buku kita beberapa tahun yang lalu. Ya, buku kita sudah habis. Setelah itu, aku akui terkadang aku iseng membuka-bukanya lagi, hanya untuk melihat seberapa banyak kata-kata yang kita tulis bersama, seberapa banyak hari yang telah kita lewati, seberapa banyak kenangan yang kita buat, dan seberapa lugu kita dulu.Tapi sejak hampir dua tahun lalu, aku putuskan untuk tidak akan pernah membuka buku itu lagi, aku tidak akan pernah menyentuhnya lagi.

Kamu adalah sekelumit kisah belajarku. Setelah itu awalnya aku berjalan sendiri, hidup harus berjalan terus kawan. Kau jadi kawanku sekarang, dan selamanya. Iya, aku berjalan sendiri, mempersiapkan buku baruku, dan aku rasa aku telah menemukannya.

Kita sudah dewasa, dan pikiran ini harus menjadi lebih bijaksana dalam menjalani kehidupan, benar kan? Karena itu, telah lama aku simpulkan, bagiku, kita ini adalah masa lalu. And now I'm facing the future, so you too. Ya, usia 17 itu memang penuh lika-liku dimana kebijaksanaan terbentur keteledoran, kedewasaan terbentur kekanak-kanakan.Tapi kini aku 20 tahun, time changes, feelings change.

Dan sekarang akhirnya kamu berhasil membuka satu halaman pertama buku baru kehidupanmu. Buku yang berbeda. Buku yang bukan kamu dan aku yang ada didalamnya. Aku berdoa agar tidak ada lembaran-lembaran berisi sesal, berisi kesia-siaan, berisi tangis, luka, kekecewaan, pengharapan yang tak selesai, di buku barumu, juga aku, karena itu sudah terlalu banyak aku baca di buku kita dulu. Aku senang karena akhirnya kita bisa membuka lembaran buku kita masing-masing, yang akan kita isi dengan cerita kita masing-masing. . Aku juga senang karena setelah tiga tahun tanpa buku, kamu akhirnya punya buku untuk menuliskan hari-harimu dengan dia, dan bahagia :)

And as I've said brother, there's no 'US', only 'YOU' and 'I'.
Thanks for all the memories buddy!
I wish you for all the best brother, all the best.

Terima kasih Allah, satu beban dalam kehidupanku (dan pikiranku) akhirnya benar-benar hilang sudah :)

Rabu, 03 Agustus 2011

Rumah Baru, Rumah Lama..

Seperti halnya orang pindahan rumah, bukan suatu hal yang mudah untuk menemukan calon rumah yang baru, yang sesuai dengan kemauan dan cocok dengan calon pemilik barunya. Ada banyak pertimbangan dalam memilih rumah baru. Interiornya, apakah sesuai dengan yang diinginkan? Letak kamar? Luasnya? Halamannya? Warnanya? Dan yang jelas, terpikirkan juga seberapa besar effort yang dilakukan demi mendapatkan rumah baru itu...

Seperti halnya orang pindahan rumah, bukan suatu hal yang mudah untuk mendapatkan rumah baru yang diidamkan, akan butuh banyak perjuangan untuk mendapatkannya. Siapa tahu, ada orang lain juga yang ingin memiliki rumah baru yang kita incar, bahkan mungkin sudah lebih melangkah lebih jauh dalam usaha mendapatkan rumah baru. Bahkan mungkin teman kita sendiri menginginkan rumah baru yang sama, atau rumah itu dulunya memang milik teman kita / kerabat yang mereka tinggalkan.

Seperti halnya orang pindahan rumah, butuh waktu dan proses untuk melakukannya bukan? Berat rasanya meninggalkan rumah yang lama untuk pindah ke rumah baru. Tapi mungkin kita memang harus melakukannya. Semuanya mungkin telah berubah dan itulah yang mengharuskan kita pindah rumah. Akan banyak kenangan di rumah yang lama yang akan selalu diingat meski telah pindah ke rumah yang baru. Bahkan saat sedang bosan di rumah baru, sedang penat, atau saat rumah yang baru ternyata mengecewakan, bukan tidak mungkin jika kembali mengingat rumah yang lama, bahkan cenderung membanding-bandingkannya.

Saat meninggalkan rumah yang lama, kita berharap rumah yang kita tinggalkan kita mendapatkan pemilik baru yang jauh lebih baik dari kita.

Dan jika rumah itu diibaratkan sebagai hati seorang manusia, silakan simpulkan sendiri..

Sabtu, 23 Juli 2011

Kaget..sedikit


Hari Minggu pagi, adik aku yang perempuan, Putri, udah berangkat ke Secapa di Hegarmanah karena ada kegiatan ekskul. Aku sama ibu ngobrol-ngobrol di ruang tamu. Pas lagi 'skip' bentar tiba2 mata tertuju ke sebuah notes kecil warna biru di pojok sofa. Penasaran, baru liat notes ini sekarang, dulu -dulu nggak pernah liat. Mungkin ini notes 'datang' ke rumah pas aku KP kali ya..

"apaan nih?" *buka-buka notes*
"oooh, punya Putri.." *masih iseng buka-buka*

halaman demi halaman....

list barang yang harus dibeli untuk asrama, list pelajaran, corat-coret kartun, nomer telepon temen, list tugas, resep masakan..

pas buka halaman berikutnya...

"EEEHHHH????"

agak kaget soalnya di notes itu ada tulisan nama aku dan nama orang yang pernah deket sama aku pas jaman TPB...

"Dyshelly Nurkartika - ***** *****"

dan itu tulisan adik aku banget...

aku kaget bukan karena dia tau nama orang itu tapi lebih ke karena...
kenapa nama aku sama nama orang itu ditulis disitu yang jelas2 notes pribadi dia?
itu kan udah lama banget, kenapa masih diinget?

"Tuhan,
Jika dia dan kakak saya ditakdirkan berjodoh
Jaga mereka dan dekatkan...
Tapi, jika dia bukan jodoh kakak saya,
Segera pertemukan kakak saya dengan orang yang jauh lebih baik dari dia"

Thanks sister for the du'a.... :*

    Minggu, 17 Juli 2011

    Seeing from The Distance


    Aku orang yang sangat suka bersosialisasi, aku adalah orang yang doyan banget ngobrol. Aku seneng karena punya banyak temen yang bisa diajak ngobrol, ketawa-ketawa, seneng-seneng, beberapa dari mereka bahkan selalu ada saat aku susah, saat aku sedih, saling menghibur. Aku seneng berada di deket orang-orang yang membuatku sangat nyaman. Berada di sekitar orang yang menyenangkan.

    Tapi ada orang yang hanya bisa aku lihat dari jauh. Orang ini bukan artis, apalagi presiden. Orang ini bukan orang penting juga, apalagi buronan yang membuatnya harus jauh-jauh dari orang lain. Hahaha.

    Dia adalah orang yang tetep bisa membuatku nyaman meski kami berjauhan.
    Tapi selalu aja ada alasan aku untuk melihat orang ini dari jauh. Just seeing from the distance.

    Aku melihat orang ini dari jauh, orang ini memilih hanya tersenyum saat teman-temannya larut dalam kegembiraan, tertawa-tawa keras. Orang ini memilih mengobrol dengan pak tua pengumpul sampah/gelas plastik sementara teman-temannya bercanda tawa di beberapa sudut. Orang ini memilih tersenyum dan hanya mengamati sementara teman-temannya berjoget-joget gembira dan menjadi pusat perhatian. Tapi buatku, orang ini yang jadi pusat perhatian.

    Orang ini tentu nggak melihatku, toh aku memperhatikannya dari jauh.

    Ini bukan stalking…

    Kalau pun aku bisa, aku juga nggak ingin cuma melihat orang ini dari jauh. Kalau pun aku bisa, aku akan menarik tangan orang ini, mengajaknya bergabung bersama aku dan teman-teman yang lain. Membuatnya memiliki lebih banyak teman, membuatnya merasakan ikut berbagi. Melihat senyumnya lebih jelas dan lebih dekat. Mengobrol tentang banyak hal yang menyenangkan, bukan hanya sekedar berpandangan kemudian membuang muka.

    Ya, but for now, I just can seeing from the distance…