Mengenai Saya

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Saya suka melakukan hal-hal yang menurut saya menarik dan orang-orang sulit melakukannya :) Saya suka bercerita tentang apa yang terjadi hari ini dan mendengarkan cerita teman-teman tentang betapa rumitnya hidup :P Saya selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk orang yang saya sayangi :* Sangat susah bagi saya untuk memilih, meskipun saya sudah menentukan prioritas. Seorang sanguinis- koleris yang perfeksionis namun berusaha untuk tidak terlalu idealis. Haha.

Rabu, 15 Februari 2012

Surat Cinta Untuk Kamu


Kamu bilang kamu akan berusaha mencintaiku
Kamu bilang kamu akan lewati waktumu bersamaku
Kamu bilang kamu akan curahkan pikiranmu untukku
Kamu bilang kamu akan habiskan tenagamu demi aku

Tapi mana buktinya? Mana?

Seringkali kamu lebih memilih pergi bersama temanmu daripada mendatangiku
Seringkali kamu lebih memilih tidur daripada mengakrabiku
Seringkali kamu abaikan aku dengan alasan “Aku stress sama kamu!”

Katakan, apa yang kau rasakan setelah tiga bulan denganku? Katakanlah.

Aku rindu saat kamu membuka buku tentangku dan berkata “Aku ingin memahamimu”
Aku rindu saat kamu bertanya pada seniormu tentang bagaimana membuat hubungan kita lancar
Aku rindu saat kamu menulis tentang aku di buku tebalmu, buku yang selalu kamu simpan di meja kerjamu

Aku tahu kamu serius dengan hubungan kita
Jangan terburu-buru memahamiku, itu butuh waktu
Maka aku harap kita bisa terus bersama
Maka aku harap kamu bisa mencintaiku dengan sungguh-sungguh

Kita pasti bisa!

Yang selalu menjadi milikmu,
TUGAS AKHIR

Selasa, 14 Februari 2012

"If you're planning for a lifetime, educate people"


If you’re planning for a year, plant rice
If you’re planning for a decade, plant trees
If you’re planning for a lifetime, educate people
Kata-kata di atas saya dapatkan dari sebuah slide powerpoint mata kuliah “Pengelolaan Ekosistem Pesisir dan Laut Tropika” hari Jumat kemarin. Pak Noorsalam, dosen matakuliah tsb, mengatakan bahwa beliau mengutipnya dari sebuah pepatah cina. Inspiratif.
Kalimat terakhir, yakni “If you’re planning for a lifetime, educate people”, sangat mengilhami saya membuat tulisan ini. Saya teringat, betapa beruntungnya saya bersama teman-teman yang lain yang memiliki kesempatan menuntut ilmu lebih jauh, lebih tinggi karena menurut UNDP tahun 2011 rata-rata penduduk Indonesia hanya mengenyam pendidikan selama 5.8 tahun (tidak memenuhi wajib belajar 9 tahun). 
“If you’re planning for a lifetime, educate people”
Saya teringat kalimat dosen saya yang lain, Ibu Ayda T. Yusuf yang mengatakan “Orang yang pandai, orang yang berilmu, dapat dibuktikan dari seberapa banyak dia membagikan ilmunya pada orang lain, bagaimana dia membuat pengetahuan orang lain bertambah karena ilmu yang dia bagikan.” Intinya, ilmu yang kita dapatkan selayaknya kita teruskan pada orang-orang.
Setelah lulus nanti, mungkin teman-teman (termasuk saya) bertekad untuk sekolah lagi, mencari pekerjaan, membuka usaha. Tapi apakah kita terpikir (memiliki niatan) untuk membagikan ilmu yang kita dapatkan pada orang-orang? Terutama yang tidak seberuntung kita?
Dan saya selalu kagum pada kakak-kakak dan teman-teman saya yang meluangkan waktunya untuk membagikan ilmu mereka pada adik-adiknya, pada masyarakat, pada mereka yang butuh bantuan, pada mereka yang belum beruntung. Mengamalkan ilmu, bukan hanya dalam bentuk mengajar, tapi juga lewat kegiatan apapun yang memberikan manfaat dengan ilmu yang kita punya.
Ilmu yang tidak diamalkan hanya akan menjadi sekedar pengetahuan, fitnah, dan penyesalah di alam akhirat. Saya harap, saya adalah salah satu orang yang beruntung menjadi salah satu orang yang dapat membagikan dan mengamalkan ilmunya sebelum sisa umur saya habis.
Bekal kita adalah iman dan amal shaleh, sedangkan ilmu yang kita dapatkan akan menjadi bekal apabila terwujud menjadi amal shaleh (diamalkan). Semakin banyak ilmu yang diamalkan maka semakin tinggi derajat kita di sisi Allah SWT :)

Kamis, 09 Februari 2012

Gathering : ‘Random’ Version

Sebuah SMS masuk ke Hp saya siang ini, dari salah satu anggota ‘geng Cibodas’. Namanya Aga, anak Geodesi 2008.

“Adys, diajakin makan ama Wasil nih traktiran, mau ngga? Haha.. Ajakin yg laen juga ya, gimana?” – Aga

Membacanya tentu saya senang. Siapa yang nggak mau ditraktir? Hahaha. Dengan semangat saya mengiyakan ajakan tersebut dan segera mengirim SMS pada teman saya yang lain, sesama ‘geng Cibodas’. Hmmm...simpel sih kenapa namanya ‘geng Cibodas’, ini istilah seru-seruan aja karena kita pernah jalan-jalan bareng ke Kebun Raya Cibodas Januari 2011 lalu. \(^o^)/


Singkat cerita, kami janjian di Kantin Bengkok jam 13.00. Saya dan Choppiz pergi duluan, sementara Ichang bilang mau nyusul dan Gita nggak bisa ikut karena ada kuliah tropis dan ngurusin KP. Ternyata Aga dan Wasil udah nunggu di sana, saya dan Choppiz menghampiri mereka berdua dengan muka ceria. Ya iyalah mau ditraktir!!!!

Gilanya, harapan traktir tinggal harapan, ternyata Aga bohong lah, Wasil bukannya mau traktir, dia mengeluarkan jurus “Urang nggak bawa apa-apa”-nya. Hahaha. Jadi intinya Aga iseng doang bilang Wasil mau traktir, padahal mah bohong. Zzzzz.

Meskipun nggak ada traktiran, bukan berarti kita nggak jadi ngumpul. “Ya udah, sekarang kita tetep makan siang, menu pilih sendiri, bayar sendiri-sendiri, gimana?” kata saya. Akhirnya kesepakatan diambil, makan bareng, bayar sendiri-sendiri. Biarin lah daripada ngumpul sia-sia, lagian udah mau ujan dan laper juga.

Saya, Choppiz, Ichang, Wasil, dan Aga duduk di bangku kantin bagian belakang. Sepanjang makan isinya nggak jauh dari obrolan ajaib, candaan, ejek-ejekan. Pokoknya nggak jelas. Hahahaha. Entah kenapa ngeliat orang-orang ngaco ini terhibur banget, terutama gara-gara Choppiz sama Wasil yang suka cela-celaan, Aga yang ngakunya udah nggak galau lagi, Ichang dengan segala maha-advicenya bahkan sumbangan advice untuk cara ngedeketin gebetan. Dan cuma di depan mereka saya bisa ngomongin makanan sebebas-bebasnya, karena mereka tau saya emang doyan makan. Super nyengir lebar-lebar. Hahaha.

Kengacoan dilanjutin di selasar SITH, karena Gita nunggu disana. Sampai disana pun obrolan nggak jauh dari cela-celaan, ketawa-ketawaan, ketemu Aryo pula, dan kondisi semakin random karena Aryo ngenalin hampir semua adik kelasnya yang ngelewat di selasar SITH, iseng banget sih emang. But that’s why I love spending time with you guys!

Anyway, thanks buddies!! Ke-random-an kalian bener-bener bikin stress aku ilang hari ini. Seneng banget ketemu kalian!!!!! Bener-bener ngehibur. Dan kita harus sering kumpul bareng kayak sore tadi, untuk saling ngyemangatin dan ngebangun semangat lagi di semester delapan, meski dengan cara ya.....ehm, random dan ngaco.

Seriusan lah, hari ini keren!

In Love w/ KlungBot


Hari itu, 4 Februari 2012, saya menelusuri Ganesha Cave, sebuah wahana yang dibuat oleh mahasiswa Teknik Geologi ‘GEA’ ITB dalam rangka event ITB Fair yang digelar di kampus Ganesha. Pagi-pagi sekali saya coba wahana itu, kebetulan emang sengaja dateng pagi sih, soalnya mau TA juga. Hehehe. Secara umum si Ganesha Cave ini menarik, bentuknya macem gua, didalamnya banyak informasi tentang Geologic Time Scale, mitigasi bencana, batuan, fosil etc.

Tapi sebenernya, bukan Ganesha Cave yang saya bahas disini. Hahaha. Maaf, maaf, paragraf pertama tadi hanya pengalih pembicaraan. Yang ingin saya bahas disini adalah apa yang ada di pintu keluar Ganesha Cave, yang membuat saya jatuh cinta, sampai sekarang…

Ya, saya jatuh cinta, hingga sekarang. Suaranya masih terngiang...

KlungBot, KlungBot, KlungBot namanya. Awal saya menyadari keberadaan dia adalah saat saya berada di ujung Ganesha Cave. Saya mendengar suaranya melantunkan “Laskar Pelangi”, yang membuat saya mengalihkan perhatian dari mbak/mas mahasiswa/i GEA yang lagi nerangin tentang fossil dll.

Saya keluar dari Ganesha Cave, dan mendapati ia berdiri sambil terus melantunkan lagu itu. Saya tersenyum, saya rindu suaranya, saya tergetar karena saya memang rindu akan getaran bambunya. Ya, KlungBot ini bukan manusia, tapi singkatan dari “Angklung Robot”.



Mata saya menyapu pandangan sekitar saya. Beberapa orang berdiri sejajar dengan saya, ikut menikmati suaranya. Ini memang unik! Sangat unik! Sebuah lagu yang dilantunkan angklung biasanya dimainkan oleh satu team yang umumnya terdiri lebih dari 10 orang kini di depan saya dimainkan secara otomatis. Angklung bergetar otomatis, bergetar sendiri (haha), tak ada manusia yang menggetarkannya. Di depan saya hanya terdapat 1 set angklung dan sebuah laptop. Diatur oleh suatu sistem.


KlungBot. Robot ini merupakan perangkat mikroprossesor yang dilengkapi dengan banyak motor dan lengan mekanis. Satu robot memiliki 12 lengan, cukup untuk memegang set angklung 1 oktaf. Dengan demikian diperlukan 3 buah robot untuk unit angklung 3 oktaf. Ketiga robot ini kemudian dikontrol oleh sebuah komputer.


KlungBot yang dikembangkan di Teknik Fisika ITB ini dapat memainkan angklung secara manual maupun otomatis. Secara manual, papan kunci pada layar komputer dapat dimainkan, mirip seperti bermain piano, KlungBot akan memainkan nadanya. Selain itu aransemen lagu dengan notasi not angka dapat disimpan dalam playlist dan dimainkan secara otomatis.


Dengan adanya KlungBot ini, salah satu modernisasi alat musik tradisional telah muncul. Tanpa mengurangi maknanya, budayanya, dan kelestariannya. KlungBot ini saya pastikan akan menarik perhatian, membuat jatuh cinta banyak orang pada angklung.


Meskipun saya biasa mendengar suara angklung lewat CD, bahkan jauh lebih menyukainya saat dimainkan oleh team, lebih jauh lebih suka lagi jika saya pun berada di dalamnya, KlungBot ini tetap bisa menutupi sebagian kerinduan saya pada suara angklung, pada permainan angklung yang saya gemari sejak SMA.

Lagu yang dimainkan KlungBot berganti, kali ini Bohemian Rhapsody! Saya semakin betah memandangi dia...


Hari Ke-55


9 Februari 2012

Terhitung 55 hari sejak saya masuk Lab. Genetika, 55 hari sejak saya memutuskan memulai penelitian Tugas Akhir saya, yang waktu itu saya mulai dengan penuh rasa ketidakpastian, keraguan. Apa saya bisa? Apa saya mampu? Apa saya kuat? Apa saya mengerti dan bisa melakukannya dengan baik? dan…. Apa saya bisa lulus? Hehe..

Jujur saya sempat takut, apalagi ada beberapa pihak yang bukannya mendukung tapi malah bilang “Lo ngapain TA pake topik susah-susah begitu? Gw sih ogah ya, lo nggak takut lulusnya lama?” yeeeeee.. (-_-“)

Saya sempat down, tiap hari kepikiran. Rasanya hidup nggak tenang, kepikiran terus sebulan ke depan, dua bulan, tiga bulan, hingga Juli tiba, atau bahkan hingga Oktober tiba, atau bahkan hingga April 2013 tiba.

Lebih terintimidasi lagi sama orang-orang yang udah mulai TA duluan dan udah mau selesai. Kok rasanya enak banget gitu. Orang-orang yang udah masuk Lab. Gene duluan, kok rasanya udah fasih banget pake alat-alat Lab., sementara saya masih pake spektro aja masih harus ditemenin gara-gara paranoid harga kuvetnya mahal. Saya masih butuh bimbingan kalo mau bikin sel kompeten, transformasi. Pake PCR aja saya belum ngerti lho. Hahaha.

Tapi, semakin hari saya semakin percaya, Allah nggak akan ngasih cobaan yang tidak bisa diatasi hambaNya, tidak akan memberikan tugas yang tidak dapat diselesaikan hambaNya. Saya berusaha menssuport diri sendiri kalau saya bisa! Hal ini kecil, belum apa-apa kalau dibandingkan kehidupan saya di masa depan. Jalan menuju kebahagiaan dan kesuksesan memang tidak selalu mulus.

“Justru kamu harus bersyukur masih bisa mikirin TA, itu artinya kamu peduli sama TA kamu, kamu pengen ngelakuin yang terbaik buat TA kamu, jika pun ada hasil yang belum memuaskan, itu bukan kegagalan melainkan sebuah proses…”

TA saya worth, TA saya visible, TA saya possible! Dan ini memang pilihan saya, apa yang saya inginkan.

Sekarang, hari ke-55, saya harus kerja lebih keras lagi, usaha lebih giat lagi, biar hasilnya bagus. Biar hasil penelitian TA saya nggak cuma bikin saya puas, tapi juga bikin puas pembimbing saya, dan orang-orang yang ngedukung saya. Ini semua harus jadi pembuktian untuk orang-orang yang kemarin hari menyangsikan saya dan topik TA yang saya pilih (kekeuh..haha)

Dan terima kasih Allah, karena ditengah proses ini Kau selalu memberikan kejutan-kejutan indah, Kau selalu memberikan ‘hadiah’ setelah saya mengalami kegagalan. Intinya saya percaya Allah selalu menghargai usaha hambaNya. Saya mengerti bahwa kegagalan-kegagalan pada awalnya Allah berikan agar saya berusaha lebih keras dan giat agar hasilnya membahagiakan, indah pada waktunya. Saya juga bersyukur karena Allah juga memberikan sumber-sumber kekuatan, suntikan semangat, lewat diri saya sendiri maupun orang-orang yang saya sayangi.. (^-^)

 “Hal yang berat akan terasa lebih ringan dan mudah saat kita mengerjakannya dengan ikhlas”, kata-kata yang selalu terngiang di pikiran saya. Ya, saya belajar untuk mencintai apa yang saya kerjakan, ikhlas dan sungguh-sungguh dengan apa yang saya tekuni. Kelak, saat saya merasa down dan sudah tidak mampu lagi, saya akan kembali membaca tulisan ini untuk membakar semangat saya lagi karena ini lah sumber kekuatan saya. Bismillah! Semuanya untuk masa depan yang lebih cerah.

Sabtu, 28 Januari 2012

(Y)Our New Page

Jauh hari aku telah menganggap bahwa masa lalu kita yang indah dan menyenangkan telah kita tutup dengan senyuman. Tidak ada tangis, meski awalnya ada rasa menyesal karena tidak sempat memperbaiki kekurangan-kekurangan sebelumnya, kita ,atau tepatnya aku, akhirnya menerima, we're not meant to be. I'm just not into you and so you too.

Kita telah selesaikan lembar terakhir buku kita beberapa tahun yang lalu. Ya, buku kita sudah habis. Setelah itu, aku akui terkadang aku iseng membuka-bukanya lagi, hanya untuk melihat seberapa banyak kata-kata yang kita tulis bersama, seberapa banyak hari yang telah kita lewati, seberapa banyak kenangan yang kita buat, dan seberapa lugu kita dulu.Tapi sejak hampir dua tahun lalu, aku putuskan untuk tidak akan pernah membuka buku itu lagi, aku tidak akan pernah menyentuhnya lagi.

Kamu adalah sekelumit kisah belajarku. Setelah itu awalnya aku berjalan sendiri, hidup harus berjalan terus kawan. Kau jadi kawanku sekarang, dan selamanya. Iya, aku berjalan sendiri, mempersiapkan buku baruku, dan aku rasa aku telah menemukannya.

Kita sudah dewasa, dan pikiran ini harus menjadi lebih bijaksana dalam menjalani kehidupan, benar kan? Karena itu, telah lama aku simpulkan, bagiku, kita ini adalah masa lalu. And now I'm facing the future, so you too. Ya, usia 17 itu memang penuh lika-liku dimana kebijaksanaan terbentur keteledoran, kedewasaan terbentur kekanak-kanakan.Tapi kini aku 20 tahun, time changes, feelings change.

Dan sekarang akhirnya kamu berhasil membuka satu halaman pertama buku baru kehidupanmu. Buku yang berbeda. Buku yang bukan kamu dan aku yang ada didalamnya. Aku berdoa agar tidak ada lembaran-lembaran berisi sesal, berisi kesia-siaan, berisi tangis, luka, kekecewaan, pengharapan yang tak selesai, di buku barumu, juga aku, karena itu sudah terlalu banyak aku baca di buku kita dulu. Aku senang karena akhirnya kita bisa membuka lembaran buku kita masing-masing, yang akan kita isi dengan cerita kita masing-masing. . Aku juga senang karena setelah tiga tahun tanpa buku, kamu akhirnya punya buku untuk menuliskan hari-harimu dengan dia, dan bahagia :)

And as I've said brother, there's no 'US', only 'YOU' and 'I'.
Thanks for all the memories buddy!
I wish you for all the best brother, all the best.

Terima kasih Allah, satu beban dalam kehidupanku (dan pikiranku) akhirnya benar-benar hilang sudah :)

Jumat, 09 Desember 2011

See You Next Time Eyang Mama, We Love You :)


Sebenernya aku udah lama ingin nulis tentang eyang mama di blog-ku. Tapi karena kemarin-kemarin bener-bener nggak ada waktu uuntuk nge-blog bahkan untuk buka tumbrl sekalipun aku nggak sempet nge-post apa-apa. Untungnya hari ini setelah UAS beres, aku sempet nulis sesuatu. Something about my lovely grandma…

Sejak Mei 2011, eyang mama didiagnosis kanker serviks stadium akhir. Eyang mama emang udah sakit lama sebelum hari itu, tapi setiap diperiksa ke dokter nggak ada indikasi apa-apa. Setelah dibawa ke dokter spesialis onkologi barulah keluarga besar kami tahu kalau sakit eyang udah cukup parah.

Segala macem cara dilakuin keluarga besar untuk bikin eyang mama sembuh, mulai dari berobar ke dokter sampai herbalist. Mulai dari suplai obat-obatan sampai membujuk eyang mama untuk minum teh daun sirsak dan sarang semut tiap hari. Tapi nggak termasuk kemoterapi lho ya, karena dokter bilang, badan eyang terlalu lemah dan malah mungkin nggak akan kuat sama obatnya.

Aku masih inget, 31 Agustus 2011, keluarga besar semua kumpul di Cimahi untuk lebaran bareng. Saat itu eyang mama masih bisa bangun, ngobrol panjang, meski nggak segesit dulu. Bahkan di tanggal 2 September kami sekeluarga besar pergi ke kampung halaman eyang mama untuk menghadiri nikahan keponakannya beliau. Di acara itu, aku sempet jadi fotografer dadakan motretin sodara-sodara termasuk motretin ibu dan tante aku bareng eyang mama. Setelah foto eyang mama selalu minta liat hasil fotonya, “eyang kelihatan sekali sakitnya ya mbak dys?” kata beliau. Well, setelah sakit eyang mama emang kehilangan banyak berat badan. Tapi aku cuma senyum dan bilang, “tapi eyang kelihatan lebih seger kok yang dengan baju yang eyang pakai..”. Baju gamis kuning pupus itu hasil pilihan ibu dan aku waktu belanja di minggu kemarinnya…

Rabu, 31 Agustus 2011, waktu sungkeman lebaran eyang mama ngedoain aku untuk cepet lulus, dapet jodoh yang baik, dan bahagiain orang tua sama keluarga besar. Eyang mama juga minta doaku supaya bisa liat aku wisuda. Aku bahagia banget sekaligus terharu. Dan waktu itu aku sama sekali nggak ada pikiran kalau hari itu adalah lebaran terakhir bareng eyang mama…

Hari ini, 10 Desember 2011, genap sebulan eyang mama meninggal dunia.

Setelah bolak balik rumah sakit Borromeus, Advent, dan RSHS dimana selama itu beliau selalu ditemenin ibu aku , keluarga besar, dan aku yang juga bolak balik rumah sakit-kampus. Kadang aku suka senyum-senyum sendiri kalau aku lagi nengok eyang mama terus pamit kuliah, beliau selalu bilang “mbak dys, nanti balik lagi yaa…” atau suka minta dibeliin makanan yang enak-enak. Ujung-ujungnya aku yang disuruh makan, soalnya eyang mama harus makan makana rumah sakit.

Setelah perjalanan panjang beliau berjuang ngelawan penyakit kanker serviks yang menggeroti tubuhnya. Penyakit eyang mama udah sistemik dan nyerang fungsi organ. Di hari-hari terakhir, beliau nggak sadarkan diri dan dirawat di ruang HCU plus bergantung sama alat-alat yang ada disana. Dua hari setelah masuk HCU, tubuh eyang udah menolak obat dan alat-alat udah nggak bisa berefek apa-apa lagi. Alat-alat pun akhirnya dicabut..

Jumat, 11 November 2011, tepat pukul 00.00 sebelum pergantian hari, eyang mama menginggal dunia. Innalillahi wainna ilaihi rajiuun…

Jam 3 pagi aku sampai di Cimahi, eyang mama udah terbujur kaku berbalut kain kafan, bersiap menghadap Allah seperti yang eyang pernah ceritakan. Aku, sama kayak anggota keluarga lainnya, sedih banget. Tapi ibu selalu bilang kalo kita harus ikhlas. Kita selalu minta Allah kasih yang terbaik buat eyang, dan mungkin Allah menentukan inilah yang terbaik..

Jam 8 pagi eyang dishalatkan di masjid yang dulu sering kita datengin bareng-bareng untuk pengajian, shalat maghrib, isya, shalat tarawih. Eyang dulu pesen kalau wafat minta dilepas dari masjid ini..

Jam 11 siang eyang sampai di tempat yang selalu eyang bilang sebagai tempat eyang nunggu kita untuk sama-sama masuk surga..

I’ll remember those moments, eyang…

Aku juga akan selalu inget eyang sampai kapanpun. Eyang yang selalu ngingetin aku untuk ibadah, yang selalu nemenin aku belajar dan yang selalu nemenin aku tidur setiap jam 4 pagi sampai aku bangun waktu aku masih di bangku SD dan tinggal sama eyang…

Eyang yang selalu nasehatin aku supaya kuliah yang bener, yang selalu ngingetin aku untuk bantuin ibu, yang selalu bilang kalau eyang suka banget aku sama ratih pake jilbab..

See you next time eyang mama, we love you J