Mengenai Saya

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Saya suka melakukan hal-hal yang menurut saya menarik dan orang-orang sulit melakukannya :) Saya suka bercerita tentang apa yang terjadi hari ini dan mendengarkan cerita teman-teman tentang betapa rumitnya hidup :P Saya selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk orang yang saya sayangi :* Sangat susah bagi saya untuk memilih, meskipun saya sudah menentukan prioritas. Seorang sanguinis- koleris yang perfeksionis namun berusaha untuk tidak terlalu idealis. Haha.

Selasa, 11 September 2012

Pernahkah?

7 September 2012, Pukul 7 sekian malam, tempat tambal ban di ujung Jalan Ganesha...

“Kamu pernah nggak Dys, sedih karena kehilangan orang yang disayang?”
“Disayang?”
“Iya, orang yang kamu sayang. Tapi bukan ayah, ibu, keluarga gitu. Yang lain, yang kamu sayang..”

Percakapannya kurang lebih seperti itu. Adegan setelah itu? Diem. Nggak aku jawab. Hehe

Bukan karena aku nggak mau jawab, bukan karena ada yang ditutup-tutupi. Tapi karena aku bukannya mencari jawaban, malah seakan-akan terhisap ke mesin waktu, terbawa ke masa lalu di mana memori menari-nari di pikiranku, dan... aku bingung mengutarakannya gimana.

Pernahkah kamu kehilangan orang yang kamu sayang terus kamu sedih karena itu?

Pernah? Pernah nggak?

Dijawab nih?

Pernah. Dan itu sakit.

Awalnya aku kira, jalan yang kutempuh sudah benar, pilihan yang aku ambil sudah tepat. Sering kali aku berpikir, dia memang benar-benar orangnya. Kami melalui hari dengan indah, saling dukung, saling support dan saling percaya. Kami beradu pendapat, berbagi pikiran serius, bekerjasama saling bantu tugas. Tapi memang ada satu hal yang belum kami putuskan, keseriusan kemana ini berjalan, kejelasan, komitmen.

Kenapa? Karena aku merasa itu nggak perlu. Mungkin dia juga. Aku merasa status hanya pajangan, hanya untuk anak-anak yang baru belajar dan mau pamer. Orang dewasa nggak perlu, cukup kata “Ya” yang dibuktikan dengan sikap. Orang lain nggak perlu tau semuanya, nggak penting.

Beberapa teman bilang, kami bertolak belakang. Kami sangat berbeda. Kami dua sisi koin yang tidak akan bertemu, kami dua mata pedang yang akan saling melukai. Caraku hidup, caranya hidup. Pandanganku, pandangannya. Caraku bergaul, caranya bergaul. Memang jauh dari kata sama, jauh dari kata cocok. Tapi bukannya dengan adanya perbedaan akan saling melengkapi? Jalan teruuus.....

Sebulan, dua bulan, empat bulan, enam bulan.....

Kemudian ada hal yang tiba-tiba merubah pandanganku, memunculkan pikiran Jadi selama ini apa?. Kemudian semuanya berubah 180o. Dan aku cuma bisa bilang Now you’re just somebody that I used to know..
Saat orang yang kita kira akan menjadi segalanya di kehidupan kita tiba-tiba  berbalik arah pergi hanya karena nggak terima kekurangan kita, saat itulah kita merasa sangat sakit. Saat itulah aku merasa kehilangan orang yang aku sayang dan sedih karena itu.

Haruskah diri kita sempurna untuk bersama seseorang yang kita harapkan kelak akan jadi matahari kita? Apakah dibenarkan kalau kita ditinggalkan dan dihindari karena kekurangan kita? Bukankah itu namanya nggak menerima sepenuh hati? Bukankah kekurangan masing-masing ada untuk dilengkapi satu sama lain? Untuk diterima sebagai penguat satu sama lain? Mengapa kekurangan harus dipandang sebagai satu masalah yang nggak bisa ditolerir keberadaannya dan jadi alasan untuk bilang I’m not into you?

“Aku sakit, skoliosis, tulang belakangku nggak normal. Minggu depan, aku terapi.” – dan itu mengubah segalanya

You leave because you don’t want to face it? We end up in this way? Why don’t we fight for ‘it’ together?  - Saat itu cuma itu yang aku pikirkan

Sedih boleh. Sakit boleh. Kecewa boleh. Tapi untuk benci, menutup diri dan menyalahkan Allah atas kekurangan yang Dia berikan, itu bukan caraku untuk merefleksi diri. Lagian sebenernya aku nggak bener-bener kehilangan kan, aku nggak pernah memilikinya, dia punya Allah. Allah bilang “Orang ini bukan Aku buat untuk dipasangin sama kamu, buat kamu nanti ada yang lebih baik dari orang ini.”. Ini mungkin pelajaran, Allah nunjukkin bahwa ada lho yang nggak mau nerima kekurangan orang lain sampai segitunya. Tapi bukan salah dia, ini skenario  Allah untuk bikin bahan belajar buat aku supaya lebih bijak dalam menjalankan hidup. Nggak ada yang sempurna di dunia ini. Orang yang mengejar kesempurnaan fisik, materi, duniawi, nggak akan pernah puas.

Dan sekarang, Alhamdulillah jangankan sedih, benci sama dia, nginget pernah ‘kehilangan’ dia pun aku udah nggak pernah. Yang dulu cukup diambil hikmahnya aja, bukan untuk jadi penyesalan seumur hidup, cukup jadi pelajaran aja untuk apa yang dijalanin sekarang. Karena aku yang sekarang, menjalani yang sekarang sama orang yang sekarang aku mengakui kalau aku lebih bahagia, aku nggak mau menyia-yiakan, aku mau terima apa adanya dengan ikhlas. Dan mudah-mudahan Allah punya rencana yang paling indah buat hambaNya yang ikhlas dan sabar. Insya Allah. Bismillah.

ps: ditulis oleh si nona yang duduk di belakang meja kerja, menunggu waktu pulang :)

Senin, 10 September 2012

Catatan Pengingat : Persiapan Sebelum Menikah

Baru-baru ini nemu kasus di mana seseorang, katakanlah X dan Y menikah. Agak miris juga sih. Sampai sekarang mereka hepi-hepi aja. Tapi mereka berada dalam beberapa masalah praktikal seperti, mau DP rumah tapi salary gabungan kurang cukup. DPnya juga kurang cukup. Mau DP pun anak sedang dikandung. Intinya they wanted to progress tapi ternyata ada beberapa hal yang sebaiknya mereka miiki sebelum nikah, belum mereka miliki sampai mereka telah menikah dan sedang mengandung anak.

I’m not an expert in finance but I do intend to share what I know. Semoga bisa jadi bahan rujukan adik-adik kita yang sedang berjalan menuju stage ini.

Gue rasa di jaman susah gini, gak ada salahnya pasangan yang akan menikah duduk bareng dan buka-bukaan soal uang. And as an individual, we want to be the part of the solution kan, bukan part of the problem.

Intinya gini. Ketika seseorang menikahi kita, dia akan mengabdikan semua dirinya untuk kita dan keluarga yang akan kita bangun. Oleh karena itu, mereka berhak untuk tidak menikah dengan masalah kita. Kalo kita punya utang, yuk coba sebaik mungkin bereskan dulu, demi kita dan demi dia. Masak iya udah lah dia mengabdikan semua hidupnya untuk kita, dia juga jadi susah beli rumah, gajinya yang seharusnya buat pensiun kita, abis buat utang-utang kita. Gak tega kan ya.

Sebaliknya juga gitu. Kita akan mengabdi pada dia selamanya. Kita berhak untuk mendapatkan pasangan yang bersih lahir batin. Soleh iya, namun kalo soleh tapi punya utang CC 20 juta dan credit score buruk? kita bisa terlantung-lantung 5 tahun gak bisa ajukan KPR.

Things you might want to check before marriage:

Debts
1.a. Pastikan kita sendiri gak punya CC debt. CC debt akan menurunkan credit score kita di BI. Ini akan bermasalah ketika pasangan akan membeli rumah. Bisa jadi pasangan kita bersih, eh credit score kita buruk. Kalo udah gini, kasian pasangan kita apalagi kalo dia udah mati-matian nabung.

1.b. Pastikan calon pasangan gak punya CC debt. Sebaliknya juga berlaku, dia harus kasian juga dong sama kita kalo kitanya yang udah hemat kiri kanan buat beli rumah, tapi KPRnya ditolak bank.

2.a. Pastikan bahwa selain CC, kita juga gak punya utang apa pun, berapa pun, dalam bentuk apa pun. Menikah adalah kegiatan di mana reputasi finansial (credit score) dan daya beli 2 individu menjadi satu. Menikah juga adalah titik di mana kita bukan lagi menjadi tertanggung namun menjadi penanggung dan penanggungan ini pertanggunjawabannya juga ditanya di akhirat nanti. So we might want to be ready and make sure there is no minus in our bank account before we start. Kita ingin memulai rumah tangga setidaknya dari titik nol, bukan dari titik minus. Jika masih minus, tidak apa-apa. That doesn’t make us a bad person. Tapi sebaiknya dibereskan dulu.

Mungkin ada beberapa lajang yang nyicil mobil. This is fine. Meski sebaiknya dilunasi dulu atau setidaknya jika belum, bisa lunas saat menikah, benar-benar didata dulu sebelum nikah. Konsekwensinya, cicilan mobil ini akan mengurangi daya cicil kita dalam mencicil rumah.

2.b. Pastikan kondisi utang pasangan juga sehat.

Dua hal di atas sangat realistis untuk dilakukan. Ini pasti bisa dilakukan semua orang.

Tanggungan
3.a. Data semua tanggungan sebelum nikah. Di sini mungkin orang mulai variatif. Mungkin ada orang yang bukan punya utang namun punya tanggungan seperti biaya kuliah adik, biaya sakit orang tua, atau kita mensupport orang tua. Ini jangan dihitung sebagai hutang namun sebagai tertanggung. Jangan juga dihitung sebagai beban. Mereka darah daging kita juga kan. Kalo gak ada mereka belum tentu kita seperti ini.
Yang jelas, tertanggung ini sebaiknya didata aja untuk memanage expectation.

Contoh kasusnya. Waktu pacaran, istri gak bilang bahwa biaya rumah sakit bapaknya 5 juta sebulan. Padahal suami sangat ingin beli rumah perdana. Setelah menikah, rencana itu terpaksa tertunda. Marahan. Dengan mendata tanggungan, pasangan bisa memanage expectation.
OK, 3 perihal pertama adalah tentang tanggungan dan yang minus-minusan ya.

Aset

4. Disarankan untuk memiliki asset, bukan liability (maaf terdengar seperti Robert Kiyosaki). Aset ini bisa semua hal definisi dari asset dari mulai jumlah tabungan yang cukup, atau saham, LM atau rumah. Kalo bisa beli rumah dari gaji single sendiri, itu fantastic. Malah sebaiknya beli rumah itu gak perlu nunggu nikah kok. Dan gak harus cowok yang beli rumah. Khusus untuk laki-laki, beli rumah sendiri berguna jadi mas kawin. Ntar kalo nikah bisa dijual, jadikan DP dan bersama salary istri beli rumah yang lebih besar. Perempuan juga begitu.

5. Disarankan untuk convert semua liability jadi asset. Ada temen yang realistis. Dia punya mobil kesayangan waktu dulu kuliah. Pas nikah, itu mobil dia jual, jadiin DP rumah dan dia+istri naek motor. Heart breaking? Yes. Tapi dia bilang that was the best decision of his life karena dia melihat harga mobilnya seidkit demi sedikit turun sedangkan harga rumah naik terus.

6. Buat cowok (dan muslim – maaf), biasakan beli emas sedikit demi sedikit dari awal kerja sampai menikah. Sunnah nabi menyatakan bahwa sebaiknya mas kawin dari pria utnuk wanita adalah sesuatu yang memiliki nilai gadai. Ini agar jika terjadi sesuatu, mas kawin itu bisa digadaikan dan membantu keuangan. Baiknya sih emas atau apa terserah (yang jelas bukan pompa aer). Yang jelas, sajadah dan seperangkat alat shalat, meski memiliki nilai agama yang tinggi, tidak memiliki nilai jual.

Let’s review how realistic the above 3 are. Semua mungkin, asal hitungannya dingin dan tidak pakai emosi. There is no such thing as mobil kesayangan. Yang ada hanya mobil. Atau mungkin dengan gaji 5-6 juta kita belum bisa cicil rumah 1.2 M. tapi gaji segitu bisa kok cicil rumah 40/90 di depok yang harganya 90-150 juta.

Lebih baik investasi kecil yang riil tapi naik ketimbang keinginan yang hanya tinggal keinginan.
Lebih baik murah dan sederhana tapi kebeli ketimbang yang jetset dan highclsss tapi gak kebeli-beli.
Meski kecil dan jauh, valuenya naik. Bisa jadi mas kawin, dan bisa jual dengan profit setelah menikah untuk beli rumah baru.

Finance

7. Ini untuk menjawab, berapa sih nilai tabungan+asset kertas yang sebaiknya seseorang miliki sebelum menikah? Di sini pasti jawabannya variatif dan secara nominal berbeda. Maka dari itu mungkin rumus ini bekerja:

Nilai tabungan+asset kertas minimum = ½ ongkos nikah + ½ DP rumah (jika belum punya rumah) + ½ ongkos melahirkan Caesar + 6 bulan biaya hidup

Semuanya ½ dengan asumsi pasangan kita akan cover setengahnya lagi. Atau dalam kasus ongkos melahirkan Caesar, dicover asuransi kantor.

DP rumah masuk rumus ini jika belum punya rumah. Memang bisa ngontrak atau bareng orang tua. Tapi alasan kenapa kita tinggal bareng orang tua atau ngontrak adalah karena kita mengumpulkan uang untuk suatu saat beli rumah sendiri kan? Jika pun bukan itu alasannya (mungkin untuk menemani orang tua), kepemilikan rumah oleh sebuah rumah tangga cukup penting sebagai tabungan asset keras. Malah jadi lebih untung akrena saat kita menemani orang tua di rumahnya, rumah itu kita kontrakkan dan autofinance dengan sendirinya.

Ongkos melahirkan masuk sana just in case kita subur wakakak. Seriously, ada beberapa orang yang tokcer dan gelagepan juga. Alasan kenapa ongkos melahirkan masuk sana juga karena ini: Kalo baru nikah dan ngejar beli rumah, ngejar lunasi CC, ngejar beli motor atau mobil. Biasanya untuk melahirkan itu suka aja kelupaan.

Kayaknya 7 faktor ini juga udah cukup ya for now. Gue sengaja segeneric mungkin karena gak mau menggambarakan betapa horornya menikah itu.

Semua factor ini ada dengan asumsi kita tidak diberi bekal oleh orang tua. Memang pasti orang tua berusaha memberikan yang terbaik ya. Ada yang bayarin nikahan, ada yang beliin rumah atau mobil. Tapi ketujuh factor ini gue pikirkan dengan asumsi kita tidak mendapat pertolongan dari orang tua atau mertua. Pemberian itu gak salah malah kita harus bersyukur ada yang meringankan.

Menikah itu bukan solusi. Menikah itu pekerjaan yang hasilnya akan ditanya pertanggungjawabannya di saat kubur nanti. Makanya untuk teman-teman yang menikah ‘untuk menghindari zinah’ percayalah jangan pakai alasan itu. Ada banyak masalah yang akan datang hanya karena gak tahan syahwat. Menikah tanpa bekal akan membuat tanggungan kita sengsara dan bukti bahwa kita tidak siap. terlebih lagi bisa buat orang tua kiat sengsara. gue kenal seorang ketua remaja mesjid, menikah saat kuliah. Ketika anaknya lahir, ibu dari ketua masjid itu harusjual emasnya untuk biaya lahir cucu. Alim? iya. Siap menikah? well, gue bilang sih seharusnya nanti dulu ya. Dia kan udah jadi penanggung, kok ya masih ditanggung sang ibu? Dan saat itu terjadi, kita (terutama laki sebagai kepala keluarga) dituntut petanggungjawabannya.

Makanya, gak ada salahnya seseorang mengambil prinsip:
waktu kecil gak nyusahin orang tua, udah tua gak nyusahin anak.

Gue sendiri gak ada satu pun yang lulus ketika gue menikah huahaha. But I was lucky to go to Africa. Kalo belum nikah gue pribadi akan memertimbangkan yang di atas.

Pertanyaan kedua mungkin adalah, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menjaga 7 faktor di atas? Regret there is a time frame for this.
55 adalah usia kita pensiun.
21 adalah usia anak terakhir lulus kuliah. Plus + 1 tahun in case dia gak naik kelas.
1 tahun adalah mengandung anak terakhir (kecuali hamil sebelum nikah).
Sediakan 1 tahun in case proses punya momongan gak terlalu tokcer.
55-21-1-1-1 = 31 tahun.

Time span seseorang untuk mengumpulkan 7 faktor di atas adalah dari dia mulai lulus kuliah usia 21-22 tahun, sampai umur dia 31 tahun. Sekitar 10-11 tahun. Jika ingin punya 2 anak, then time span is shorter.
Ini semua membuat kita sadar beberapa hal:
1. belum kerja? then mari cari kerja/buka usaha yang benar.
2. Udah kerja tapi gaji kecil? ini pertanda kita harus cari kerjaan lain.
3. pengen kerja tapi susah. Ini pelajaran bagi yang masih kuliah untuk belajar dengan benar. Miliki IPK yang baik agar keterima kerja yang bener atau buka usaha dengan perhitungan yang bener.
Semoga bermanfaat. I’m not an expert on this. I just intend to share.

from : http://suamigila.com/2011/05/16/persiapan-sebelum-menikah/

"wow, sebegitunya ya mau nikah harus pikirin ini itu... (O_o")"

Waktu

"Banyaknya waktu luang itu bisa ngelatih kamu lebih bijaksana manfaatin waktu yg kamu punya..."

Kalimat yang begitu aja meluncur dari pikiran aku saat seseorang bilang "waktu luang itu membunuh". Aku nggak sepenuhnya setujuuuu sama kamuu, hahaha :p. Waktu luang itu nggak membunuh, punya waktu luang itu ujian, mau pake waktu luang itu untuk happy-happy nggak jelas, atau maanfaatin itu dengan membagi-baginya untuk kegiatan yang  harus (atau merasa harus) kerjakan itu pilihan, sepenuhnya kehendak kita :)

Jadi menurut aku, semakin banyak waktu luang, tantangan semakin berat, sayang kan kalau punya banyak waktu kosong tapi dipake main aja? Hehehe. Kalau waktunya disia-siain, ya beneran membunuh sih. Hehe. Sebenernya punya waktu luang itu justru tantangan, Allah tuh kayak bilang "Hayo kamu Saya kasih waktu luang, coba kita liat, waktu yang Saya kasih kamu pake apaan?"

Malu sama Allah kalau kita punya banyak waktu kosong tapi cuma dipake hal-hal yang nggak penting, misalnya...main, tidur-tiduran nggak jelas, hiburan yang berlebihan..hehehe (kadang aku juga suka gini sih, semoga kedepannya nggak lagi, ado dong ingetin aku, eh, saling ngingetin maksudnya ;) )

Yuk kita manfaatkan waktu kita sebaik mungkin, sebermanfaat mungkin, supaya nggak nyesel. Cara manfaatinnya ya beda-beda, dengan nulis, baca, kerja, belajar, silaturahmi, ibadah, doa, macem-macem pokoknya. Menurut aku, selama kegiatan itu bawa manfaat bagi kita, ya waktu kita udah dipergunakan dengan baik.

Waktu luang kita, dipake apa?

ps: adys corat-coret karena di kantor udah nggak ada kerjaan, tinggal nunggu dijemput pulang :D

Berjalan Cepat

Bahkan kecepatan angin dan cahaya pun masih aku rasa lebih lambat dari bergeraknya waktu...

Dua bulan ini awalnya aku rasa sangat lama, tapi, sekarang, rasanya dua bulan aku lewati hanya satu kedipan...

Skripsi, seminar, sidang, revisi, tiba-tiba udah lewat aja. Rasa puyeng, capek, tertekan, khawatir tiba-tiba ilang, dan sekarang aku cuma bisa bilang "Oh, udah selesai ya? Kok jadi nggak kerasa ya?", selamat ya nona S.Si baru....

Bukan artinya aku mati rasa, tapi masih nggak percaya aja kalau sekarang udah nggak jamannya aku lagi untuk kuliah, nge-unit, nge-himpunan, jalan-jalan sama temen nunggu kuliah, udah nggak jaman deh pokoknya....

Mulai Senin malah aku bakalan mulai ngantor dan ngerjain proyek penelitian, bakal jarang ke kampus, jarang ngumpul sama temen, jarang ketemu sama orang yang akhir-akhir ini sering ketemu, pokoknya mulai Senin ini, 10 September 2012, aku harus membiasakan diri karena semuanya akan sangat berbeda...

Harus secepet ini ya, ya Allah? Beneran ini tuh nggak kecepetan?

Aku bukannya nggak bersyukur. Aku bersyukur banget. Keinget salah satu sahabat aku bilang....
"idup lo kayaknya so smooth! main iya, rajin iya, banyak temen iya, bisa cari duit segala. kuliah beres, lulus cepet, langsung kerja, bisa cepet bahagiain ortu........" - ya kurang lebih seperti itu kata-katanya..

Aku suka semuanya yang dikasih Allah ke aku, tapi yang masih kepikiran adalah,God, this is too fast...

Kalau kata Ibu, mungkin akunya masihshockgitu, jadi akunya belum siap karena jadi anak masih belum serius, habis lulus maunya main-main dulu sampai akhir tahun baru menjalankan rencana yang udah dirancang selama ini. Iya, awalnya aku ingin main, bertualang, pergi ke luar, apa yang orang-orang bilang menikmati hidup..

"Menikmati hidup itu bukan berarti kamu membuang waktui kamu untuk yang kamu suka, bukan cuma itu. Kamu bisa menikmati hidup dengan memaknai hidup kamu. Nah sekarang apa menurut kamu dengan jalan seperti itu (main, jalan-jalan, etc) kamu bisa memaknai hidup kamu? atau dengan jalan seperti ini (kerja, asistensi, belajar lagi, bagi waktu)?"

Aku udah pilih jalan yang kedua, dan inilah hidupku yang sekarang. Mohon doanya semoga aku fokus, teguh, konsisten, ulet, dan ilmuku bawa manfaat untuk orang banyak.

Selamat berjuang juga ya teman-teman, kita berjuang bersama!

Minggu, 09 September 2012


great quotes to live by ;)

ps: really thanks mas-mas yang nunjukkin quotes ini (aku kan cupu ya, jadi susah banget tau quotes yang keren. haha, padahal ini quotes terkenal). you're such a great and inspiring person, yes you are... :)

Mengejar Surga dengan Caraku..

Ingin menuliskan beberapa impian yang sebenarnya sangat diharapkan bisa terwujud. Beberapa waktu ini, yang terlintas dalam pikiran adalah, masuk ke kehidupan yang sebenarnya mau ngapain sih? Lulus kuliah mau ngapain sih? Hidup ini mau dihabisin dengan apa?

Mengejar surga...

Praktisnya setelah hampir 21 satu tahun hidup di dunia ini, aku masih punya banyak tugas sebelum usia habis (walaupun ya, usia kan nggak ada yang tahu). Masih banyak yang pengen aku lakukan ya Allah, tolong dikasih kesempatan yaaa...

Setelah lulus kuliah ini aku akan stay di Bandung dulu selama 1-2 tahun. Untuk apa? Untuk belajar, tapi bukan belajar dalam konteks kuliah. Selama 1-2 tahun ini aku akan ngumpulin bekal ilmu yang menurutku akan menunjang rencanaku kedepannya. Selama 1-2 tahun ini aku mau fokus ke keilmuanku, molecular biology, tropical disease, phatogenesis, and immunology. Meskipun passion aku nggak 100% tentang hal ini (someday aku akan fokus jadi writer, journalist, bahkan belajar broadcasting  dan psikologi insya Allah) aku memutuskan untuk menekuni dan memberikan cinta di setiap hal yang berhubungan sama keilmuanku. Aku mau fokus di riset dulu, belajar yang banyak, yang dulu nggak bisa dilakukan kalau di SITH, riset yang aku jalain ini harus bisa manfaat buat orang banyak. Semoga. Waktu sekitar 12-24 bulan ini selain aku pake belajar juga akan aku gunakan untuk belajar ngelola uang sendiri, ngelola waktu secara profesional, stay di HaloGanesha, ITBMagz, dan Protokol ITB (Ya Allah, aku nggak mau tinggalin mereka dalam waktu dekat ini) plus cari universitas dan beasiswa yang bisa di’tembak’ untuk kuliah S2. Bismillah..

Rencana setelah 1-2 tahun ke depan adalah KULIAH LAGI!! Iya, aku mau kuliah lagi, mau belajar lagi. Utamakan di luar negeri, di eropa. Kenapa? Karena di sana life sciences and technology sangat berkembang pesat. Sekolah dengan menekuni topik-topik yang sudah aku sebutkan di atas, atau topik-topik yang memang ingin aku pelajari, ini akan jadi sangat seru. Dan semoga bener-bener bisa terwujud. Bisa kok Dys, bisa! Yang penting usaha maka Allah akan kasih jalan. Kalaupun nggak dapet di luar negeri (udah ada sebenernya rencana mau ‘tembak’ univ. apa, tapi ngga seru kalo dibilangin), ya di ITB, ambil Bioteknologi dengan penelitian mostly biologi molekuler. Estimasi pendidikan S2 dua tahun. Ganbatte ne!

Setelah itu lalu apa? Menikah! Seseorang pernah nanya sama aku, rencana nikah kapan? Aku punya target nikah di usiaku yang ke 24-26 tahun. Jangan pada ketawa ya, nikah itu penting tau. Ingin punya tanggung jawab berbakti ngurus suami dan ngurus anak, ingin menyempurnakan ibadah. Hahaha (apaan, aku tuh masih suka dikatain bocah pasti diketawain orang kalo ngomongin nikah). Nikah itu tanggung jawabnya besar, jadi harus banyak persiapan dan banyak belajar. Nikah itu nggak main-main, jadi perlu kematangan. Dan menurut aku, kematangan diri aku (menurut pengukuranku sendiri) ya di usia yang udah aku bilang tuh, 24-26 tahun. Tapi kalau kata Ibu, lebih cepat kenapa nggak, toh kalau nunggu kecukupan hata, yang namanya nharta nggak akan pernah cukup buat manusia, kalau nuggu kesiapan, yang namanya kesiapan nggak akan pernah selesai. Nyemnyem...

Kemudian, dalam jangka 10 tahun ke depannya lagi (anggap usianya udah 35 tahun) kira-kira aku jadi apa ya? Masih bingung nggak kalau ditanya gitu? Hehe. Secara semi random, di usia 35 aku ingin mapan, bahagiain orang tua, berangkatin haji, bahagiain keluarga, sekolahin Candra, ingin punya perpustakaan pribadi, dan bangun perpustakaan buat umum yang bisa dipake anak-anak kecil main sekaligus belajar, punya keluarga dengan satu suami super plus anak laki-laki dan perempuan, punya anak asuh di panti asuhan di Bandung yang sekolahnya aku biayain sampai SMA, bahkan sampai kuliah, bisnis butik (Ya Allah, dari dulu aku pengen punya butik), bisnis catering untuk anak berkebutuhan khusus (Orang mungkin pikir ini random, tapi aku lihat ini bukan dari sisi keuangannya, tapi amalannya, membantu keluarga yang punya ABK supaya gizi mereka terpenuhi, karena menu ABK kan nggak sembarangan), punya karir yang menunjang dan manfaat, syukur-syukur bisa sekolah lagi sampai dapet gelar doktor.

Muluk-muluk ya mimpinya? Nggak, ini bisa diraih kok, asal ada kemauan, kesempatan, dan keberuntungan. Semuanya saling berhubungan. Semoga impiannya tercapai ya Dyshell, jangan lupa usaha dan doa yang giat. Jangan takut untuk nyoba, jangan capek usaha, jangan anggap sesuatu “Nggak mungkin”, jangan haus materi dan terbuai duniawi, yang penting amal shaleh kamu banyak, hidup kamu manfaat. Sekali lagi, tujuannya bukan tujuan duniawi, luruskan niat, inget, tujuan kita.. Surga #senyumlebar

Best Moments


Setelah sekian lama nggak nulis lagi, sekarang baru deh ada waktu untuk nulis. Kemarin-kemarin terlalu sibuk sama yang namanya skripsi, seminar, sidang, revisi skripsi. Ulala~

Hmmmm...nulis apa ya? Sebenernya kadang tiba-tiba aja gitu ad aide yang terlintas di pikiran untuk dituangkan ke dalam tulisan. Tapi waktu luangnya nggak ada. Hiks..

Mungkin dimulai dari kejadian-kejadian penting dan krusial (naoon...) aja ya. Best moments selama bulan Agustus – awal September. Sekedar untuk jadi pengingat dan penyemangat untuk pencapaian-pencapaian selanjutnya. Hehe.

10 Agustus 2012 – Seminar Tugas Akhir

Rasanya? Deg-dengan banget ya Allah. Setelah akhir bulan Juli nyerahin skripsi, Bu Erna langsung tembak jadwal tanggal 10 Agustus untuk seminar. Ini terlalu cepat! Bahkan temen-temen seangkatan lainnya aja baru seminar 30 Agustus (beda 3 minggu). Tapia pa mau dikata kan Bu Erna sama Bu Marsel mau berangkat post doc ke US dan baru pulang tahun depan. Kalau semua nggak diberesin sekarang, kapan lagi? Akhirnya aku sama Resti (anak bimbing Bu Marsel) ditentukan untuk seminar dan sidang duluan.

Ternyata ngurus seminar agak ribet yah, mungkin karena aku dan Resti paling awal dan diluar jadwal. Tapi untung Pak Nana yang ngurus jadwal baik, beliau mau lho mindahin tempat seminar ke Lab. Instruksional gara-gara R.Que (yang asalnya tempat kita seminar) terlalu sempit dan kitanya takut seminar disitu, macem disidang aja. Hehe..

Seminarnya lancar Alhamdulillah, meskipun sempet deg-degan dan khawatir takut nggak bisa. Pengujinya Pak Indra sama Bu Mae, dan aku sempet blank gitu ada pertanyaan yang ngga bisa jawab (tapi akhirnya bisa soalnya akhirnya inget jawaban itu tuh apa, haha). Akhirnya selesai! Hore, udah setengah sarjana. Seneng juga temen-temen seangkatan banyak yang dateng untuk dukung meskipun Gita si sobat unyu-unyu tercinta nggak dateng karena KP dan Ichang si pacar Panda pulang ke Padang.  Ada Via yang selalu temenin dari TA sampai kasih semangat terus-terusan, ada Choppiz si teman perjuangan Oktober yang kalau kenapa-kenapa / galau TA pasti cerita2. Apalagi terus dateng Mpi, Nana, Dimas (yang bawa macaroon 5 biji), Aga, sama Wasil. Aku kaget banget Wasil dateng, soalnya dia malemnya bilang nggak akan dateng karena ada urusan yang mesti diberesin, eh taunya bela-belain dateng. Hehe, aku bersyukur banget. Makasih yaaaa.....

Setelah seminar, persiapan buat sidang. Serem soalnya sidangnya kan kompre. Tapi kata Ibu, aku harus berani terus fokus dan belajar yang bener supaya pas sidang lancar. Bismillah!

28 Agustus 2012 – Sidang Sarjana

10 hari setelah lebaran, hari kedua masuk semester baru. Asli rasanya masih libur lebaran lah. Tapi show must goes on kan ya. Tanggal 28 Agustus 2012, jam 15.25 aku masuk ruangan sidang dengan penguji Bu Erna,  Bu Rizkita, dan Bu Marsel. Fyi, hal yang aku khawatirkan terjadi lah, diuji sama Bu Marsel, dari tingkat 2 aku tuh takut banget diuji sama beliau, soalnya orangnya super pinter, terus aku pernah dapet nilai jelek di kuliahnya, BC, ‘prestisius’ sekali. Heu..

Tegangnya banget, banget banget. Lancar meski sempet blank (lagi-lagi) soalnya mepet banget, persiapan aku kurang. Tapi Alhamdulillah pertanyaan dijawab dengan lancar, pertanyaan komprenya sangat diluar dugaan sodara-sodara. Aku ditanya mekanisme mutasi, struktur alveoli dan..kulit. Setiap jawab ditanya lagi, lagi, lagi, teruuus..sampai mentok. Eww.. –“

Keluar ruangan, aku shalat ashar terus masuk lagi ke ruangan pas dipanggil, setelah itu Bu Marsel kasih tau aku lulus dengan nilai AB. Alhamdulillah ya Allah, sesuai target dan ekspektasi. Begitu para penguji keluar  aku diem di ruang sidang. Bengong gitu lah, haha. Hah, init eh udah selesai nih yakin? Aku udah S.Si. dong berarti? HAH? Aku pengangguran dong berarti sampe wisuda? Hahaha. Setelah itu sobat-sobat aku masuk ke ruangan, peluk satu-satu. Ada Dewi lah, seneng banget, ada Via, Gina. Aaa....

Aku keluar ruang sidang jam setengah 6, terus dibawa Via ke Lab.Instruk, dan ada Gita, Choppiz, Ichang doooong!!! Seneeeng. Terus ada Ilam jugaaa, iya, Ilam yang anak penerbangan. Aku dikasi macem-macem makanan (pada tau aku tukang makan –“), terus kaluang apalah nggak tau yang bikin aku jadi kayak peri hutan. Absurd ih. Haha. Terus dateng Dimas dong! Iyaaaa, Dimas yang ituuuu, yang anak penerbangan itu. Haha, dia bawain frozen brownies dari Surabaya. Seneng sobat-sobat aku dateng semua. Tapi Om io, Aga, terus Wasil nggak ada sih. Heu. Sedih. Tapi ya, aku ngerti lah mereka kenapa nggak bisa dateng.

Belum lagi Ibu langsung sms, terus telepon, nanyain hasil sidang gimana. Ibu kayaknya deg-degan di rumah. Haha. Setelah tau hasilnya Ibu seneng Alhamdulillah. Minimal aku udah selesaikan tanggung jawab kuliahku sama orang tua #nyengirlebar

5 September 2012 – Teken Kontrak UPK Unpad-RSHS

Dua hari setelah lulus sidang sarjana, aku dapet panggilan interview sama dr.Bachti Alisjahbana di UPK FK Unpad-RSHS untuk ngisi research assistant di sana. Rasanya? Seneng! Karena ini sesuai banget sama rencana aku menjalani hidup setelah kuliah. Interviewnya dari janjian jam 1 baru dipanggil jam 3.30 dong. Jedeeer! Gara-gara dr.Bachti-nya sibuk. Pas interview rasanya nggak deg-degan sih santai aja. Tapi pas ditanya mau gaji berapa sama ditanya bisa WB, SB, ELISA, RT-PCR etc aku rada bengong juga. Ya soalnya emang di SITH aku belajar semua teori itu tapi enggak untuk praktiknya karena emang bukan kompetensinya S1. Jarang banget lah S1 ngerjain kayak gitu. Gahul brow!

Tanggal 5 September 2010, aku dipanggil lagi ke tempat yang sama. Alhamdulillah diterima dengan kontrak awal percobaan 3 bulan. Jadi selama 3 bulan ke depan aku harus tunjukkan kompetensi terbaik aku dan membuktikan aku punya kapabilitas yang oke untuk ngerjain proyek penelitian ini. Oiya, di kerjaan aku sekarang, aku pengan lab. molekuler TB jadi bakal banyak main sama bakteri Mtb, DNA, RT PCR, Spoligotyping dll pokoknya. Di lab ada analisnya tapi ya aku juga harus turun langsung, ngga bisa ngandelin analis doang. Jam kerja Senin-Jumat 09.00-17.00, tapi aku dikasih waktu luang untuk ngurus segala kerjaan yang aku tinggalin di kampus. Kurang baik apalagi coba?

Excited banget nunggu hari Senin, hari pertama masuk kantor. Oiya, kantor aku di R.TBWG lantai 5 di gedungnya FK Unpad yang di Jl.Eyckman, di depan RSHS. Enak tempatnya, mejanya deket jendela. Haha! Kayak apa ya rasanya kerja? Meski udah biasa part-time as a journalist, writer, and protocol tetep aja rasanya kerja kali ini aku yakin beda. Yeah!

Memang rasanya terlalu cepet ya, soalnya bahkan temen-temen aku baru mau sidang rabu depan. dan bahkan syarat wisuda aku belum aku urus. Tapi memulai sesuatu yang baik itu nggak harus nunggu waktu sesuai yang diinginkan kan? Kalau Allah berkehendak, ya jadilah. Gitu pokoknya. Aku memang bakal lebih cepet ‘ninggalin’ kampus, rutinitas kampus, temen-temen, nggak punya banyak free time, tapi aku percaya tanggung jawab aku yang baru ini bakal membawa aku being a better person. Jadi pengorbanan yang aku lakukan sekarang tak lain dan tak bukan demi kebaikan aku kedepannya. Ini namanya pilihan hidup yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Semoga Allah melancarkan segala niat baik aku ya. Bismillah!