Tuhan,
Jadikan aku selalu mencintaimu
Jadikan cintaku padaMu lebih besar dari apapun, jadikan cintaku pada seseorang adalah karenaMu
Jangan berikan aku kecintaan akan harta, berikan aku kecintaan pada sesama
Jangan butakan aku dengan cinta, jadikan cinta membuka mataku lebih lebar
Jangan jadikan cinta sebagai alasanku berdusta, jadikan cinta senantiasa membuatku jujur
Jangan kunci hidupku dengan cinta, jadikan cinta membuatku bebas berkarya
Jangan hetikan aku dengan cinta, semoga cinta memberiku kekuatan melangkah lebih jauh
Jangan biarkan aku mengatasnamakan cinta untuk perbuatan-perbuatan yang tak Kau izinkan
Jadikan cinta mengikat erat tali persaudaraan keluargaku, orang-orang yang kusayangi
Jadikan aku mencintai hidupku agar aku dapat mengabdi dengan tanggung jawab dan memberi manfaat
Jadikan aku mencintai diriku agar aku senantiasa bersyukur
Ini cerita cinta, ini doa..
Mengenai Saya
- What's On My Mind?
- Bandung, Jawa Barat, Indonesia
- Saya suka melakukan hal-hal yang menurut saya menarik dan orang-orang sulit melakukannya :) Saya suka bercerita tentang apa yang terjadi hari ini dan mendengarkan cerita teman-teman tentang betapa rumitnya hidup :P Saya selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk orang yang saya sayangi :* Sangat susah bagi saya untuk memilih, meskipun saya sudah menentukan prioritas. Seorang sanguinis- koleris yang perfeksionis namun berusaha untuk tidak terlalu idealis. Haha.
Selasa, 19 April 2011
Selasa, 05 April 2011
Kata Siapa Laki-laki Tidak Sedih?
Terinspirasi dari sebuah obrolan panjang aku dan seseorang sebut saja Faisal, karena namanya memang Faisal, terciptalah tulisan ini. Mungkin setelah dibaca agak buruk, karena baru kali ini aku menulis dengan sudut pandang orang lain, dan yang ini, sebagai laki-laki. Dan tidak ada tujuan lain selain menumpahkan apa yang Faisal tumpahkan ke aku, yaitu omongan-omongan yang dia anggap sampah, dan aku jadi tempat sampahnya. Aku ingin menuliskan ini hanya karena aku sadar, aku sebagai perempuan kadang berpendapat laki-laki itu begini begitu tanpa memikirkan apa yang sebenarnya mareka rasakan, haha. Untuk teman yang kebetulan membaca, jika tidak suka silakan katakan, dan jika berminat, tinggalkan komentar :)
Aku sudah sering melihat banyak perempuan yang menangis saat merasa tidak nyaman, kecewa, terutama saat hatinya merasa tersakiti oleh laki-laki, dan aku sungguh mengerti. Aku sudah terbiasa melihat perempuan menangis lama bahkan terkorek kembali lukanya meski kejadiannya sudah bertahun-tahun. Namun terkadang, kesedihan itu sirna atau berkurang karena mereka punya banyak sahabat yang menjadi tempat berbagi dan ibu yang selalu menemani, mendengarkan keluh kesah dan tangis mereka.
Lalu bagaimana dengan kaumku? Yang seringkali dijadikan 'tertuduh'? Yang sering dijadikan 'pelaku' oleh mereka yang tersakiti? Dan aku sadar betul, banyak sebagian dari kaumku yang enggan meneteskan air mata sedikitpun meski batinnya terguncang hebat, karena ayah selalu bilang, 'Laki-laki tidak boleh manja, laki-laki tidak boleh menangis'. Aku menjadi yakin dengan apa yang aku sadari bahwa laki-laki, saat hatinya terluka, mungkin tak akan ada air mata yang menetes namun bisa jadi yang muncul hanya raut kebencian dan kekecewaan yang sangat mudah dikenal.
Sejujurnya aku ingin meluruskan pandangan perempuan terhadap laki-laki, terutama anggapan bahwa laki-laki tidak merasakan sedih. Serin ak7 mendengar kata-kata seperti "Dia sih enak laki-laki, masalah nggak dia pikirin, sedih juga nggak. Dasar nggak peka, nggak sensitif". Hei, laki-laki juga manusia, yang jauh di lubuk hatinya pun pasti pernah ada kesedihan yang mendalam. Bohong kalau laki-laki tidak pernah sedih, karena meski waktu telah lama berlalu, apa yang menimbulkan luka pasti akan selalu diingat. Manusia bukannya memang begitu ya?
Aku laki-laki, dan aku menangis saat ibuku sakit atau saat ibuku menangis karena aku nakal, aku menangis saat ayahku kecewa padaku karena aku tak sebaik beliau, aku menangis untuk nilai-nilaiku yang jelek dan usahaku yang tidak maksimal, aku menangis saat menyadari bahwa aku tak cukup dapat memberi manfaat untuk orang di sekitarku, dan aku menangis saat orang yang aku sayangi meninggalkanku, lebih menangis lagi saat melihat dia sekarang bersama orang lain yang bukan aku.
Tapi memang, tangisku hanya dalam hati, dan kurasa banyak laki-laki melakukannya...
Dan kata siapa pula laki-laki mudah melupakan? Itu bohong. Ya, di depan 'mereka' aku bisa bilang aku 'lupa', tapi tahukah kalian, setiap ada waktu kosong untuk merenung, pikiranku akan melayang ke kejadian apapun yang tiba-tiba terlintas, randomized. Tentu saja, hal ini tidak akan terjadi sekali, tapi berulangkali. Sehingga terkadang, aku merasa tersiksa perasaannya jadi lelaki.
Laki-laki pun bisa jadi lemah dan rapuh
Laki-laki pun bisa jadi pribadi yang tertutup
Laki-laki pun bisa jadi pura-pura tegar
Laki-laki pun bisa merasa lelah
Dan laki-laki pun bisa jadi sulit mengatakan cinta
Uniknya kami, laki-laki, kami berusaha menutupi dan tetap memperlihatkan sikap sewajarnya untuk memulihkan perasaannya kami sendiri. Jangan ada yang lain yang merasakan, kami enggan berbagi...
Kami tidak ingin langkah kami berhenti dan hidup yang kami lanjutkan tanpa keceriaan, karena itu banyak dari kami memilih bungkam. Waktu luang kami pakai merenung, bukan untuk bercerita, seperti layaknya kaum perempuan. Inilah kami, sebagai ciptaan Tuhan, sama kompleksnya dengan perempuan.
Buat kami, teman adalah segalanya, dan banyak dari kami rela berkorban demi seorang teman. Buat kami semua teman adalah sahabat, berbeda dengan perempuan yang lebih selektif dalam bersosialisasi, sehingga, aku sendiri, sebagai laki-laki seringkali dibuat bingung dengan tingkah perempuan di kehidupan sosial. Sekali lagi, buat kami teman adalah segalanya, namun bukan berarti selamanya dapat berbagi, karena kami, dalam hal ini pendapatku, harus belajar untuk menangani segala masalah ataupun kondisi sendiri.
Kami sebenarnya tidak ingin mengungkit-ungkit, kami ingin membiarkan segala berjalan apa adanya. Kami lebih tidak ingin meratapi kesedihan karena larut dalam kesedihan hanya akan membuat kami semakin terpuruk. Kami ingin berbagi, tapi hanya pada orang-orang tertentu agar beban di pundak terasa lebih ringan, dan yang jelas, pandangan bahwa kami tidak sedih adalah ketidak-benaran semata.
Kata siapa laki-laki tidak merasakan sedih?
Mohon maaf bila ada kata yang kurang mengena atau kurang mengenakkan, namanya juga yang nulis perempuan. Ahaha. Aku menulis ini bukan untuk apa-apa, para lelaki jangan marah ya. Aku hanya mencoba memandang sesuatu dari sisi laki-laki lewat curahan hati seorang teman.
thanks for Faisal Aziz Arrafiq, one of my bestfriend, for the inspiration....
emm, and for someone that I can't mention his name...
Aku sudah sering melihat banyak perempuan yang menangis saat merasa tidak nyaman, kecewa, terutama saat hatinya merasa tersakiti oleh laki-laki, dan aku sungguh mengerti. Aku sudah terbiasa melihat perempuan menangis lama bahkan terkorek kembali lukanya meski kejadiannya sudah bertahun-tahun. Namun terkadang, kesedihan itu sirna atau berkurang karena mereka punya banyak sahabat yang menjadi tempat berbagi dan ibu yang selalu menemani, mendengarkan keluh kesah dan tangis mereka.
Lalu bagaimana dengan kaumku? Yang seringkali dijadikan 'tertuduh'? Yang sering dijadikan 'pelaku' oleh mereka yang tersakiti? Dan aku sadar betul, banyak sebagian dari kaumku yang enggan meneteskan air mata sedikitpun meski batinnya terguncang hebat, karena ayah selalu bilang, 'Laki-laki tidak boleh manja, laki-laki tidak boleh menangis'. Aku menjadi yakin dengan apa yang aku sadari bahwa laki-laki, saat hatinya terluka, mungkin tak akan ada air mata yang menetes namun bisa jadi yang muncul hanya raut kebencian dan kekecewaan yang sangat mudah dikenal.
Sejujurnya aku ingin meluruskan pandangan perempuan terhadap laki-laki, terutama anggapan bahwa laki-laki tidak merasakan sedih. Serin ak7 mendengar kata-kata seperti "Dia sih enak laki-laki, masalah nggak dia pikirin, sedih juga nggak. Dasar nggak peka, nggak sensitif". Hei, laki-laki juga manusia, yang jauh di lubuk hatinya pun pasti pernah ada kesedihan yang mendalam. Bohong kalau laki-laki tidak pernah sedih, karena meski waktu telah lama berlalu, apa yang menimbulkan luka pasti akan selalu diingat. Manusia bukannya memang begitu ya?
Aku laki-laki, dan aku menangis saat ibuku sakit atau saat ibuku menangis karena aku nakal, aku menangis saat ayahku kecewa padaku karena aku tak sebaik beliau, aku menangis untuk nilai-nilaiku yang jelek dan usahaku yang tidak maksimal, aku menangis saat menyadari bahwa aku tak cukup dapat memberi manfaat untuk orang di sekitarku, dan aku menangis saat orang yang aku sayangi meninggalkanku, lebih menangis lagi saat melihat dia sekarang bersama orang lain yang bukan aku.
Tapi memang, tangisku hanya dalam hati, dan kurasa banyak laki-laki melakukannya...
Dan kata siapa pula laki-laki mudah melupakan? Itu bohong. Ya, di depan 'mereka' aku bisa bilang aku 'lupa', tapi tahukah kalian, setiap ada waktu kosong untuk merenung, pikiranku akan melayang ke kejadian apapun yang tiba-tiba terlintas, randomized. Tentu saja, hal ini tidak akan terjadi sekali, tapi berulangkali. Sehingga terkadang, aku merasa tersiksa perasaannya jadi lelaki.
Laki-laki pun bisa jadi lemah dan rapuh
Laki-laki pun bisa jadi pribadi yang tertutup
Laki-laki pun bisa jadi pura-pura tegar
Laki-laki pun bisa merasa lelah
Dan laki-laki pun bisa jadi sulit mengatakan cinta
Uniknya kami, laki-laki, kami berusaha menutupi dan tetap memperlihatkan sikap sewajarnya untuk memulihkan perasaannya kami sendiri. Jangan ada yang lain yang merasakan, kami enggan berbagi...
Kami tidak ingin langkah kami berhenti dan hidup yang kami lanjutkan tanpa keceriaan, karena itu banyak dari kami memilih bungkam. Waktu luang kami pakai merenung, bukan untuk bercerita, seperti layaknya kaum perempuan. Inilah kami, sebagai ciptaan Tuhan, sama kompleksnya dengan perempuan.
Buat kami, teman adalah segalanya, dan banyak dari kami rela berkorban demi seorang teman. Buat kami semua teman adalah sahabat, berbeda dengan perempuan yang lebih selektif dalam bersosialisasi, sehingga, aku sendiri, sebagai laki-laki seringkali dibuat bingung dengan tingkah perempuan di kehidupan sosial. Sekali lagi, buat kami teman adalah segalanya, namun bukan berarti selamanya dapat berbagi, karena kami, dalam hal ini pendapatku, harus belajar untuk menangani segala masalah ataupun kondisi sendiri.
Kami sebenarnya tidak ingin mengungkit-ungkit, kami ingin membiarkan segala berjalan apa adanya. Kami lebih tidak ingin meratapi kesedihan karena larut dalam kesedihan hanya akan membuat kami semakin terpuruk. Kami ingin berbagi, tapi hanya pada orang-orang tertentu agar beban di pundak terasa lebih ringan, dan yang jelas, pandangan bahwa kami tidak sedih adalah ketidak-benaran semata.
Kata siapa laki-laki tidak merasakan sedih?
Mohon maaf bila ada kata yang kurang mengena atau kurang mengenakkan, namanya juga yang nulis perempuan. Ahaha. Aku menulis ini bukan untuk apa-apa, para lelaki jangan marah ya. Aku hanya mencoba memandang sesuatu dari sisi laki-laki lewat curahan hati seorang teman.
thanks for Faisal Aziz Arrafiq, one of my bestfriend, for the inspiration....
emm, and for someone that I can't mention his name...
Minggu, 27 Maret 2011
Sebuah Kejujuran Dariku
Malam ini aku mengumpulkan keberanian untuk mengungkap semua tanya yang berminggu-minggu ini bercokol di pikiranku. Aku mungkin bertanya pada diriku sendiri, ada apa dengan kamu, aku, ada apa dengan kita teman? Kamu bukan teman yang paling istimewa tapi aku mengakui bahwa ada sebagian yang hilang saat terjadi sesuatu, menurutku keanehan, antara kita. Kamu, seperti teman-temanku yang lain, memiliki bagian masing-masing di otakku, dalam memoriku. Bagaimanapun ingatanku tentang kamu tidak akan bisa dihapus, sama pula dengan yang lainnya, hanya kamu sedikit berbeda.
Aku ini sulit memulai. Namun rasa heranku yang besar mengalahkan kesulitanku. Ya, jujur aku heran "kemana" kamu selama ini? Tiba-tiba menghilang. Apa kamu menghindar? Atau aku yang menghindar? Aku membuatmu tidak nyaman? Sungguh?Atau karena kamu sibuk? Kalau karena itu ya aku mengerti. Apa kesalahanku pada kamu kemarin masih membuatmu tidak enak atau kesal? Kalau iya tolong katakan. Aku melakukan ini karena aku merasa tidak nyaman dan aku tidak ingin kehilangan teman. Hei, kita masih teman kan?
Aku memulai meski bukan dengan kata "halo", atau "apa kabar". Aku ingin memulai secara wajar, tapi memang dasar bodoh aku tidak bisa. Mungkin di depanmu aku hanya jadi orang dengan pembicaraan konyol, membingungkan, atau jenaka. Mungkin di depanmu aku hanya mengganggu yang sulit diatur dan tidak jelas keinginannya apa, jangan-jangan lama-lama aku jadi menyebalkan, dan itulah alasan mengapa selama ini aku tidak mencoba SMS, YM, atau morning call seperti yang aku lakukan biasanya. Aku takut mengganggu.
Selama kita "bicara" hari ini, aku menyadari sesuatu, waktu telah berjalan dan banyak hal telah berubah. Aku dan kamu sama-sama sudah dewasa dan mulai bisa mengerti apa yang terjadi bukan? Aku melihat responmu berubah, tidak banyak lagi canda, tidak banyak lagi tanya, tidak banyak lagi peduli. Atau ini hanya karena kita tidak berbicara dengan bertatap muka? Dan harusnya kamu tahu, aku berusaha mencari-cari kata untuk bertanya, meski hanya kamu jawab pendek dan akhirnya hanya aku balas dengan "oh...". Hei, aku bukan tak peduli, tapi aku tidak tahu apa yang harus aku bilang setelah membaca jawabanmu yang super pendek itu.
Setelah mengamati kebekuan-kebekuan, aku sadar, mungkin perkiraanku benar bahwa kita tidak bisa bicara lagi untuk beberapa waktu kedepan. Kalau mau kau boleh anggap aku bodoh karena jujur aku sama sekali tidak tahu ini terjadi karena apa. Bisakah kamu menjelaskannya? Aku sangat menghargai pertemanan kita, karena lewat kamu Tuhan memberiku banyak pelajaran, dan aku sangat menyadari hal itu. Tapi mungkin sekarang kita sudah sampai di jalan keluar labirin suatu bagian kehidupan dimana ada aku dan kamu berpapasan didalamnya.
Jalan keluar ini, aku akui sangat indah. Mungkin kamu tidak mengerti maksudku, tapi mungkin karena meskipun aku kehilangan satu bagian namun beberapa masalah telah aku jalani dan selesaikan dengan baik. Jalan keluar ini, aku akui merupakan jalan yang paling baik, karena aku merasa senang, dan tenang karenanya. Tapi setelah ini mungkin kita akan pergi ke arah yang berbeda. Jalan keluar ini, kurasa, ternyata harus dibayar dengan mahal, mungkin dengan kehangatan yang berubah menjadi kebekuan yang aku rasakan sekarang. Atau ini hanya perasaanku saja?
Jika aku salah, beri tahu aku. Jika kamu pun masih merasa bahwa kita ini teman, apakah kamu akan mengakuinya? Bagi kamu, mungkin, apa yang aku tuliskan, menjadi berlebihan. Tapi inilah aku, dengan segala pikiranku.
Aku hanya berharap suatu hari kamu membaca ini temanku yang baik. Karena aku merasa segan bicara di depanmu. Aku tidak mau lagi mencoba-coba karena aku takut akan semakin merusak. Sekali lagi aku hanya berharap suatu hari kamu membaca tulisan ini temanku yang baik, meskipun mungkin sulit terwujud nampaknya. Kalau kamu sudah baca dan jadi tak suka, katakan padaku, dan aku akan menghapusnya. Dan setelah ini aku tak akan menyesal meski kamu membenciku, karena pada dasarnya aku hanya ingin kamu tahu, aku hanya ingin menunjukkan ini, sebuah kejujuran dariku.
Terimakasih
Karena aku menjadi berani menuliskan ini, meski belum berani untuk aku utarakan langsung.
Aku ini sulit memulai. Namun rasa heranku yang besar mengalahkan kesulitanku. Ya, jujur aku heran "kemana" kamu selama ini? Tiba-tiba menghilang. Apa kamu menghindar? Atau aku yang menghindar? Aku membuatmu tidak nyaman? Sungguh?Atau karena kamu sibuk? Kalau karena itu ya aku mengerti. Apa kesalahanku pada kamu kemarin masih membuatmu tidak enak atau kesal? Kalau iya tolong katakan. Aku melakukan ini karena aku merasa tidak nyaman dan aku tidak ingin kehilangan teman. Hei, kita masih teman kan?
Aku memulai meski bukan dengan kata "halo", atau "apa kabar". Aku ingin memulai secara wajar, tapi memang dasar bodoh aku tidak bisa. Mungkin di depanmu aku hanya jadi orang dengan pembicaraan konyol, membingungkan, atau jenaka. Mungkin di depanmu aku hanya mengganggu yang sulit diatur dan tidak jelas keinginannya apa, jangan-jangan lama-lama aku jadi menyebalkan, dan itulah alasan mengapa selama ini aku tidak mencoba SMS, YM, atau morning call seperti yang aku lakukan biasanya. Aku takut mengganggu.
Selama kita "bicara" hari ini, aku menyadari sesuatu, waktu telah berjalan dan banyak hal telah berubah. Aku dan kamu sama-sama sudah dewasa dan mulai bisa mengerti apa yang terjadi bukan? Aku melihat responmu berubah, tidak banyak lagi canda, tidak banyak lagi tanya, tidak banyak lagi peduli. Atau ini hanya karena kita tidak berbicara dengan bertatap muka? Dan harusnya kamu tahu, aku berusaha mencari-cari kata untuk bertanya, meski hanya kamu jawab pendek dan akhirnya hanya aku balas dengan "oh...". Hei, aku bukan tak peduli, tapi aku tidak tahu apa yang harus aku bilang setelah membaca jawabanmu yang super pendek itu.
Setelah mengamati kebekuan-kebekuan, aku sadar, mungkin perkiraanku benar bahwa kita tidak bisa bicara lagi untuk beberapa waktu kedepan. Kalau mau kau boleh anggap aku bodoh karena jujur aku sama sekali tidak tahu ini terjadi karena apa. Bisakah kamu menjelaskannya? Aku sangat menghargai pertemanan kita, karena lewat kamu Tuhan memberiku banyak pelajaran, dan aku sangat menyadari hal itu. Tapi mungkin sekarang kita sudah sampai di jalan keluar labirin suatu bagian kehidupan dimana ada aku dan kamu berpapasan didalamnya.
Jalan keluar ini, aku akui sangat indah. Mungkin kamu tidak mengerti maksudku, tapi mungkin karena meskipun aku kehilangan satu bagian namun beberapa masalah telah aku jalani dan selesaikan dengan baik. Jalan keluar ini, aku akui merupakan jalan yang paling baik, karena aku merasa senang, dan tenang karenanya. Tapi setelah ini mungkin kita akan pergi ke arah yang berbeda. Jalan keluar ini, kurasa, ternyata harus dibayar dengan mahal, mungkin dengan kehangatan yang berubah menjadi kebekuan yang aku rasakan sekarang. Atau ini hanya perasaanku saja?
Jika aku salah, beri tahu aku. Jika kamu pun masih merasa bahwa kita ini teman, apakah kamu akan mengakuinya? Bagi kamu, mungkin, apa yang aku tuliskan, menjadi berlebihan. Tapi inilah aku, dengan segala pikiranku.
Aku hanya berharap suatu hari kamu membaca ini temanku yang baik. Karena aku merasa segan bicara di depanmu. Aku tidak mau lagi mencoba-coba karena aku takut akan semakin merusak. Sekali lagi aku hanya berharap suatu hari kamu membaca tulisan ini temanku yang baik, meskipun mungkin sulit terwujud nampaknya. Kalau kamu sudah baca dan jadi tak suka, katakan padaku, dan aku akan menghapusnya. Dan setelah ini aku tak akan menyesal meski kamu membenciku, karena pada dasarnya aku hanya ingin kamu tahu, aku hanya ingin menunjukkan ini, sebuah kejujuran dariku.
Terimakasih
Karena aku menjadi berani menuliskan ini, meski belum berani untuk aku utarakan langsung.
Sabtu, 26 Maret 2011
Mimpi Itu Membuat Semakin Kuat Atau Lemah?
Semua orang pasti tau mimpi kan? Pernah merasakan mimpi?
Sering merasa mimpi indah atau mimpi buruk?
Tiba-tiba kepikiran untuk menulis tentang mimpi, gara-gara baru aja terbangun dari mimpi beberapa jam lalu dan merasa senang gara-gara mimpi tersebut. Masalahnya di mimpi itu aku mendapatkan apa yang selama ini diinginkan bahkan melebihi ekspektasi selama ini, hehe...
Tapi tiba-tiba kepikiraan, mimpi itu sebenernya baik nggak sih? Atau jangan-jangan mimpi hanya membuat kita semakin lemah? Pemikiran ini bukan didasari tanpa alasan, aku hanya mengambil beberapa pemisalan. Misalnya, seseorang yang sedang jatuh cinta bermimpi mendapatkan pasangannya, bahkan dikejar2 orang yang disukainya, padahal di dunia nyata, orang yang disukainya malah sama sekali nggak tahu perasaan dia. Atau seseorang yang gelisah akan ujian bermimpi dapet nilai ujian jelek, mimpi itu berubah jadi sugesti sehingga pagi hari saat ujian dia tidak bisa berkonsentrasi dan beneran dapet nilai jelek.
"Aku takut mimpi membawaku terjatuh semakin jauh ke dalam...."
"Aku ingin tidur dan mimpi selamanya, karena hanya di dalam mimpi aku dapatkan yang aku inginkan..."
Apakah kata-kata itu menunjukkan seorang menjadi lemah karena mimpi?
Aku masih sering berpikir dari mana datangnya mimpi? Nampak harus nanya bu lulu yang orang neurobiologi. Karena jujur, saat bangun dari mimpi terutama yang disebut mimpi indah, yang aku lakukan adalah senyum-senyum sendiri, wondering-wondering nggak penting, jadi berharap lagi, merasa dapet kekuatan lagi, padahal jelas-jelas kok hal di dalam mimpi itu susah diwujudkan di dunia nyata ya? Apalagi mimpi buruk, bagaimanapun itu membuatku takut. Mimpi, membuatku senang sekaligus takut, kuat sekaligus lemah.
Setelah aku baca beberapa artikel, misalnya dari forumsains, atau buku ibu tentang Kekuatan Mimpi, mimpi muncul dalam keadaan tak sadar, saat pikiran berada di luar kendali akal sehat. Kesadaran kita yang hilang membuat mimpi berjalan tanpa kontrol, entah dimana awal dan akhirnya, tidak akan ada keinginan bergerak secara sadar maupun rasionalitas saat bermimpi.
Apakah mimpi itu dunia kita yang lain?
Mimpi merupakan daya imajinasi otak secara tak sadar yang diatur oleh otak kanan sehingga dalam mimpi bisa saja terjadi hal wajar yang pernah dilakukan sehari-hari sampai hal tak wajar sekalipun (btw, aku pernah mimpi adikku berubah jadi jagung. haha). Mimpi dapat terjadi berulang-ulang, meskipun kita tidak akan mengingat awal dan akhir mimpi, kita masih bisa mengingat beberapa bagiannya, artinya alam sadar kita masih berhubungan dengan alam bawah sadar kita.
Jika kalian terbangun setelah larut dalam mimpi, bersyukurlah karena artinya otak kanan kalian masih berfungsi dengan baik...
Tapi, tetaplah ingat bahwa otak kanan bisa terpengaruh otak kiri yang mudah stress, dan berbalik memunculkan mimpi buruk..
Seseorang pernah berkata padaku bahwa mimpi menjadi petunjuk seberapa banyak pengaru alam sadar terhadap alam bawah sadar kita. Misalnya selama seharian penuh aku memikirkan ujian Evolusi besok, kemungkinan mimpi yang keluar adalah mimpi soal ujian, mimpi nilai ujian, mimpi lagi ujian, atau mimpi kediangan terus ngga bisa ujian. Mimpi juga berpengaruh pada metabolisme dan 'rasa' pada tubuh. Mimpi buruk bisa membuat orang marah-marah, sakit, lelah, capek, lemas, ketakutan, kurang tidur, bahkan fobia. Sementara mimpi indah lebih membuat metabolisme teratur, misalnya jika kita bermimpi berpacaran dengan orang yang kita "cintai", pada saat bangun kita akan merasa "lebih nyaman " dan pikiran lebih tenang".
Jadi mimpi itu membuat kita semakin kuat atau lemah?
Jawabannya kita sendiri yang menentukan :)
Sering merasa mimpi indah atau mimpi buruk?
Tiba-tiba kepikiran untuk menulis tentang mimpi, gara-gara baru aja terbangun dari mimpi beberapa jam lalu dan merasa senang gara-gara mimpi tersebut. Masalahnya di mimpi itu aku mendapatkan apa yang selama ini diinginkan bahkan melebihi ekspektasi selama ini, hehe...
Tapi tiba-tiba kepikiraan, mimpi itu sebenernya baik nggak sih? Atau jangan-jangan mimpi hanya membuat kita semakin lemah? Pemikiran ini bukan didasari tanpa alasan, aku hanya mengambil beberapa pemisalan. Misalnya, seseorang yang sedang jatuh cinta bermimpi mendapatkan pasangannya, bahkan dikejar2 orang yang disukainya, padahal di dunia nyata, orang yang disukainya malah sama sekali nggak tahu perasaan dia. Atau seseorang yang gelisah akan ujian bermimpi dapet nilai ujian jelek, mimpi itu berubah jadi sugesti sehingga pagi hari saat ujian dia tidak bisa berkonsentrasi dan beneran dapet nilai jelek.
"Aku takut mimpi membawaku terjatuh semakin jauh ke dalam...."
"Aku ingin tidur dan mimpi selamanya, karena hanya di dalam mimpi aku dapatkan yang aku inginkan..."
Apakah kata-kata itu menunjukkan seorang menjadi lemah karena mimpi?
Aku masih sering berpikir dari mana datangnya mimpi? Nampak harus nanya bu lulu yang orang neurobiologi. Karena jujur, saat bangun dari mimpi terutama yang disebut mimpi indah, yang aku lakukan adalah senyum-senyum sendiri, wondering-wondering nggak penting, jadi berharap lagi, merasa dapet kekuatan lagi, padahal jelas-jelas kok hal di dalam mimpi itu susah diwujudkan di dunia nyata ya? Apalagi mimpi buruk, bagaimanapun itu membuatku takut. Mimpi, membuatku senang sekaligus takut, kuat sekaligus lemah.
Setelah aku baca beberapa artikel, misalnya dari forumsains, atau buku ibu tentang Kekuatan Mimpi, mimpi muncul dalam keadaan tak sadar, saat pikiran berada di luar kendali akal sehat. Kesadaran kita yang hilang membuat mimpi berjalan tanpa kontrol, entah dimana awal dan akhirnya, tidak akan ada keinginan bergerak secara sadar maupun rasionalitas saat bermimpi.
Apakah mimpi itu dunia kita yang lain?
Mimpi merupakan daya imajinasi otak secara tak sadar yang diatur oleh otak kanan sehingga dalam mimpi bisa saja terjadi hal wajar yang pernah dilakukan sehari-hari sampai hal tak wajar sekalipun (btw, aku pernah mimpi adikku berubah jadi jagung. haha). Mimpi dapat terjadi berulang-ulang, meskipun kita tidak akan mengingat awal dan akhir mimpi, kita masih bisa mengingat beberapa bagiannya, artinya alam sadar kita masih berhubungan dengan alam bawah sadar kita.
Jika kalian terbangun setelah larut dalam mimpi, bersyukurlah karena artinya otak kanan kalian masih berfungsi dengan baik...
Tapi, tetaplah ingat bahwa otak kanan bisa terpengaruh otak kiri yang mudah stress, dan berbalik memunculkan mimpi buruk..
Seseorang pernah berkata padaku bahwa mimpi menjadi petunjuk seberapa banyak pengaru alam sadar terhadap alam bawah sadar kita. Misalnya selama seharian penuh aku memikirkan ujian Evolusi besok, kemungkinan mimpi yang keluar adalah mimpi soal ujian, mimpi nilai ujian, mimpi lagi ujian, atau mimpi kediangan terus ngga bisa ujian. Mimpi juga berpengaruh pada metabolisme dan 'rasa' pada tubuh. Mimpi buruk bisa membuat orang marah-marah, sakit, lelah, capek, lemas, ketakutan, kurang tidur, bahkan fobia. Sementara mimpi indah lebih membuat metabolisme teratur, misalnya jika kita bermimpi berpacaran dengan orang yang kita "cintai", pada saat bangun kita akan merasa "lebih nyaman " dan pikiran lebih tenang".
Jadi mimpi itu membuat kita semakin kuat atau lemah?
Jawabannya kita sendiri yang menentukan :)
Inspirasi dari Buku Bagus Datang..
Nggak selamanya pergi ngebolang sendirian itu buruk loh :)
Hari rabu kemarin setelah dari toko buku Elvira buat nyari buku Microbiology aku ke Gramedia terus ke BEC. Sebenernya niat lewat Gramedia cuma lewat doang, tapi terus aku liat ada bazaar buku murah di lantai dasar.menuju parkiran. Rasanya udah lama ngga beli buku..
Setelah liat-liat isi buku dan tengok-tengok harga, ternyata isinya banyakan harlequin, majalah, buku komputer sama buku masakan. Rak novelnya cuma dua. Aku ngga begitu suka Harlequin meski ceritanya bagus-bagus, merasa terlalu dewasa aja ceritanya, problemnya pelik. Hehe.
Setelah menggerak2kan mata di sekeliling rak novel, asalnya aku mau beli novel yang judunya UHU tentang burung hantu, ternyata itu novel anak. Tiba-tiba di rak deretan paling bawah ada buku yang cukup eye catching. Aku suka covernya, ukurannya juga kecil, sekitar 20x10cm. Dan setelah aku baca sinopsisnya, nampak cukup menarik. Penulisnya Peter O'Connor. Akhirnya aku beli buku ini buku yang nampaknya bagus, apalagi harganya cuma 10rb tidak boleh disia-siakan. Jeng jeng jeng.
Hari rabu kemarin setelah dari toko buku Elvira buat nyari buku Microbiology aku ke Gramedia terus ke BEC. Sebenernya niat lewat Gramedia cuma lewat doang, tapi terus aku liat ada bazaar buku murah di lantai dasar.menuju parkiran. Rasanya udah lama ngga beli buku..
Setelah liat-liat isi buku dan tengok-tengok harga, ternyata isinya banyakan harlequin, majalah, buku komputer sama buku masakan. Rak novelnya cuma dua. Aku ngga begitu suka Harlequin meski ceritanya bagus-bagus, merasa terlalu dewasa aja ceritanya, problemnya pelik. Hehe.
Setelah menggerak2kan mata di sekeliling rak novel, asalnya aku mau beli novel yang judunya UHU tentang burung hantu, ternyata itu novel anak. Tiba-tiba di rak deretan paling bawah ada buku yang cukup eye catching. Aku suka covernya, ukurannya juga kecil, sekitar 20x10cm. Dan setelah aku baca sinopsisnya, nampak cukup menarik. Penulisnya Peter O'Connor. Akhirnya aku beli buku ini buku yang nampaknya bagus, apalagi harganya cuma 10rb tidak boleh disia-siakan. Jeng jeng jeng.
Ceita tentang seekor elang muda yang bertualang untuk membuktkan cerita para tetua. Tidak selamanya hidup dalam zona nyaman itu adalah pilihan yang tepat. Terkadang memang kita harus keluar dari tempat kita yang aman untuk meyakinkan diri bahwa kita akan tetap aman meski keluar dari zona aman kita, tergantung siapa yang kuat dan siapa yg mampu bertahan dengan fisik dan pikiran.
Eh, ini aku bukan beli dua buku loh, aku belinya satu buku, tapi di satu buku itu ada dua cerita dengan cover berbeda di kedua sisi buku. Kalau yang ini ceritanya tentang cucu dan kakeknya yang pergi untuk mencari gerhana matahari total
Yang jelas, dari kedua buku ini aku dapet banyak sekali semangat yang sangat berguna buat keseharian aku yang akhir-akhir ini berantakan, banyak pikiran, banyak masalah, banyak kerjaan, banyak tuntutan, dan lain-lain. Hoho. Buku ini seriusan inspiratif banget, tulisannya besar-besar, nggak bikin bosen. Kalau ada salah satu dari kalian yang baca post ini dan pengen pinjem bukunya, hubungi aku aja via e-mail atau sms, atau mention twitter. :D
"Kebebasan adalah pilihan yang hanya bisa dibuat olehmu sendiri, kau diikat hanya oleh belenggu ketakutanmu..."
"Meski kita semua mempunyai tujuan yang sama, masing-masing harus menemukan jalannya sendiri; sebab tak ada jawaban yang bisa ditemukan hanya dengan mengikuti jejak kaki orang lain..."
Dikutip dari Seeking Daylight's End
Jumat, 25 Maret 2011
Just On A Street Singer Boy's Mind
Malam dingin, yang ku tahu di luar hujan
Tadi siang kita masih mengamen di perempatan jalan raya
Dan sekarang kita duduk menumpang sebuah angkot
Aku duduk di lantainya
Kak, aku lelah
Di depanku kau sibuk menghitung uang, sementara aku terkantuk kelelahan
Tubuh kita basah dan aku kedinginan, kakak pernah bilang kita butuh jaket tapi tak punya uang
Orang-orang mulai naik dan aku mulai terhimpit karena kita tidak bayar
Sejak lahir, ibu tidak pernah bilang apa-apa
Terutama tentang mengapa kita hidup seperti ini,
Orang-orang bisa makan dengan enak tanpa memikirkan uang sekolah
Sementara yang aku tahu kakak berhenti sekolah karena membantu ibu
Aku tidak mengerti darimana orang-orang mendapat mobil
Kata ayah mobil mahal, harus seribu tahun mengamen agar bisa beli mobil
Aku lebih tidak mengerti lagi mengapa begitu mudahnya anak-anak mendapat mainan
Ibu bilang setelah toko itu berbaik hati memberi gratis baru aku bisa memilikinya
Di sebelah kakak, ada kakak perempuan sedang membaca buku
Tebal sekali, aku rasa nantinya hanya akan jadi bungkus gorengan
Kak, kakak perempuan itu melirik padaku dan memberikan dua koin 500 rupiah
Cukup untuk beli penyedap rasa, biar terasa makan enak terus
Meski aku anak-anak, aku tidak bodoh
Aku mengamati setiap pandangan hina yang ditujukan pada kita
Memangnya ada yang salah? Ayah bilang mengamen boleh yang penting tidak mengemis
Asalkan kita berusaha dengan jujur
Meskipun aku yakin tidak akan cukup dapat mobil karena hidup seribu tahun tak mungkin
Tapi aku yakin kita masih bisa makan hari ini, besok, dan seterusnya
Tadi siang kita masih mengamen di perempatan jalan raya
Dan sekarang kita duduk menumpang sebuah angkot
Aku duduk di lantainya
Kak, aku lelah
Di depanku kau sibuk menghitung uang, sementara aku terkantuk kelelahan
Tubuh kita basah dan aku kedinginan, kakak pernah bilang kita butuh jaket tapi tak punya uang
Orang-orang mulai naik dan aku mulai terhimpit karena kita tidak bayar
Sejak lahir, ibu tidak pernah bilang apa-apa
Terutama tentang mengapa kita hidup seperti ini,
Orang-orang bisa makan dengan enak tanpa memikirkan uang sekolah
Sementara yang aku tahu kakak berhenti sekolah karena membantu ibu
Aku tidak mengerti darimana orang-orang mendapat mobil
Kata ayah mobil mahal, harus seribu tahun mengamen agar bisa beli mobil
Aku lebih tidak mengerti lagi mengapa begitu mudahnya anak-anak mendapat mainan
Ibu bilang setelah toko itu berbaik hati memberi gratis baru aku bisa memilikinya
Di sebelah kakak, ada kakak perempuan sedang membaca buku
Tebal sekali, aku rasa nantinya hanya akan jadi bungkus gorengan
Kak, kakak perempuan itu melirik padaku dan memberikan dua koin 500 rupiah
Cukup untuk beli penyedap rasa, biar terasa makan enak terus
Meski aku anak-anak, aku tidak bodoh
Aku mengamati setiap pandangan hina yang ditujukan pada kita
Memangnya ada yang salah? Ayah bilang mengamen boleh yang penting tidak mengemis
Asalkan kita berusaha dengan jujur
Meskipun aku yakin tidak akan cukup dapat mobil karena hidup seribu tahun tak mungkin
Tapi aku yakin kita masih bisa makan hari ini, besok, dan seterusnya
Yang Di Sebut Pencuri
Bertahun lalu, begitu yang kuingat, entah tanggal berapa
Aku bertemu seorang yang awalnya tak ku kenal
Perangainya ramah, santun, dan tampak bersahabat
Dengan senang hati aku anggap seorang teman
Beberapa bulan setelahnya aku menyadari
Bahwa aku bertemu seorang pencuri
Ternyata ia bukan sekadar teman baik
Bahkan ia behasil membawa sesuatu milikku pergi
Ya, aku bertemu pencuri dan hingga kini milikku tak kembali
Aku mengejarnya namun ia semakin cepat berlari
Aku ingin berteriak "kembalikan!"
Namun aku tahu ia hanya akan tersenyum dan berkata,
"Aku mencuri? Bukankah kamu memberikannya dengan rela hati?"
Ya, aku bertemu pencuri
Yang lama ku anggap teman tempat berbagi
Lucunya, aku sampai tak sadar bahwa ia mencuri sesuatu dariku
Ia mencuri hatiku
from Buku Berkertas Kusam Dari Tong Sampah
Aku bertemu seorang yang awalnya tak ku kenal
Perangainya ramah, santun, dan tampak bersahabat
Dengan senang hati aku anggap seorang teman
Beberapa bulan setelahnya aku menyadari
Bahwa aku bertemu seorang pencuri
Ternyata ia bukan sekadar teman baik
Bahkan ia behasil membawa sesuatu milikku pergi
Ya, aku bertemu pencuri dan hingga kini milikku tak kembali
Aku mengejarnya namun ia semakin cepat berlari
Aku ingin berteriak "kembalikan!"
Namun aku tahu ia hanya akan tersenyum dan berkata,
"Aku mencuri? Bukankah kamu memberikannya dengan rela hati?"
Ya, aku bertemu pencuri
Yang lama ku anggap teman tempat berbagi
Lucunya, aku sampai tak sadar bahwa ia mencuri sesuatu dariku
Ia mencuri hatiku
from Buku Berkertas Kusam Dari Tong Sampah
Langganan:
Postingan (Atom)

