Mengenai Saya

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Saya suka melakukan hal-hal yang menurut saya menarik dan orang-orang sulit melakukannya :) Saya suka bercerita tentang apa yang terjadi hari ini dan mendengarkan cerita teman-teman tentang betapa rumitnya hidup :P Saya selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk orang yang saya sayangi :* Sangat susah bagi saya untuk memilih, meskipun saya sudah menentukan prioritas. Seorang sanguinis- koleris yang perfeksionis namun berusaha untuk tidak terlalu idealis. Haha.

Senin, 11 Juli 2011

Hal Sensitif : Uang dalam Kehidupan


Sering denger kan, berita tentang saudara yang bunuh-bunuhan gara-gara masalah hutang? Sering denger juga kan, berita tentang orang atau bocah yang bunuh diri gara-gara masalah keuangan (bayar sekolah, banyak tunjangan, biaya berobat dll)? Atau yang paling sering deh, berita tentang tindak kriminal macem pencurian, penculikan bersyarat tebusan dengan latar belakang kondisi keuangan pasti pada sering baca di koran atau denger dari TV.  Bahkan yang berhenti sekolah karena nggak punya uang, yang berhenti mengejar mimpi karena nggak mampu secara finansial, pasti bayak terjadi di dunia ini.

Orang emang nggak bisa hidup di dunia tanpa uang ya? Maksudnya, uang itu jadi krusial buat kehidupan manusia. Kalau jaman duluuu banget tetua kita mengenal barter, macem beras sekilo dituker sama ikan asin atau apalah itu namanya, terus mulai dihargai dengan emas, perak, dan perunggu, sekarang barang atau jasa yang kita butuhkan dapat kita peroleh dengan memberikan lembaran-lembaran ijo, biru, merah atau koin dengan nominal  angka yang dinamakan uang.

Segitunya, aku jadi mikir, kita hidup, kita lahir, belajar, berusaha memperoleh pendidikan yang tinggi, berusaha memperoleh pekerjaan yang bermanfaat dan upah yang menurut kita layak. Jadi keinget sama pembicaraan sama seorang temen (yang kuliah di ITB juga, jurusan timur –tak usah disebut lah mananya-)
A : Ngapain lo kuliah di jurusan X dis?
B : Karena gw seneng sama segala sesuatu yang berhubungan sama X. Lo kenapa kuliah di jurusan Y?
A : Hem, sebenernya gw pengen kuliah di salah satu jurusannya fakultas Z sih, gw kuliah di Y bukan berarti dari awal gw suka Y, gw suka kimia, gw suka matematika, gw suka ngitung, nggak suka ngehapal kayak lo.
B : Terus kenapa lo malah kuliah di jurusan Y?
A : Karena di fakultas gw yang sekarang gw rasa jurusan Y itu yang ‘paling’.  Lo sendiri, yakin kuliah di jurusan X dis? Emang lo mau jadi apa ntar kerjanya?
B : Gw pengen jadi konsultan, gw pengen jadi penulis, tapi gw pengen jadi dosen juga :p
A : Emang worth ya dengan kuliah lo? Emang duitnye banyak?
B : Loh kok jadi ke duit? Gw sih yang penting gw cinta apa yang gue lakuin dan manfaat, kalo duit, nggak perlu lebih, yang penting cukup buat keluarga gw. Kalo lo?
A : Kalo gw sih, jurusan gw yang sekarang sangat mendukung gaji belasan juta bahkan puluhan juta perbulan pas gw kerja ntar. Kalo gitu lo cari suami jurusan gw atau mirip2 jurusan gw aja biar duitnya banyak. Haha.
B : Emang duit banyak buat apa? (nanya beneran loh bukan ngetest :p)
A : Ya elah, masa lo ga tau duit banyak buat apa?....... (dan pembicaraan pun berakhir sampai sini)
SEE???? Apakah dari anda-anda banyak yang berpikiran seperti ini juga? Bahwa kuliah tinggi ujung-ujungnya buat dapet kerjaan dengan duit gede lalu hidup bahagia (???)

Sebenernya, kalo menurut aku sah-sah aja sih kalo manusia mencari kepuasan, maksudnya dalam hal ini uang. Manusia belajar, berusaha, bekerja, demi mendapatkan uang, demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Itu sah-sah aja asal masih dalam cara yang halal, bukan lewat nipu, bukan lewat nyuri, bukan lewat korupsi, pokoknya dengan tidak merugikan orang lain. Tapi kalo uang dijadikan takaran mendapatkan kebahagian, sori-sori jek, ane mah nggak setuju.

Apakah semua yang berharta hidupnya akan bahagia? Mungkin iya mereka bisa beli apa aja yang dimauin, apa aja yang lagi tren, apa aja yang keren dan diimpikan banyak orang. Tapi dibalik semua itu, kebahagiaan kan nggak bisa dibeli pake uang masbro, mbaksis… Kita perlu inget bahwa uang dan segala kemewahan malah bisa membawa orang lupa diri dan tenggelam dalam kebahagiaan yang semu. #ciyeh

Uang nggak akan bisa membeli senyum tulus seorang anak yang ‘dilupakan’ orang tuanya karena kesibukan pekerjaan. Uang nggak akan bisa membeli persahabatan yang benar-benar nyata. Uang nggak bisa dipake beli cinta dan kasih sayang, uang nggak bisa menghapus tangis seseorang yang ditinggal mati sanak saudara atau orang tuanya. Uang nggak akan bisa membeli kebahagiaan. Kebahagiaan karena uang hanya bersifat sementara. #aseeeek

Aku mungkin belum jadi ‘orang’ yang mapan secara finansial, yang mandiri cari uang sendiri, yang udah jelas bakal dapet uang berapa tiap bulannya. Aku mungkin masih harus disuapin orang tua dalam hal kebutuhan hidup, aku mungkin belum ngerasain sepenuhnya gimana susahnya nyari uang (jadi sori-sori aja nih kalo setelah baca tulisan ini kesannya jadi sotoy). Tapi yang aku tahu, di dunia ini banyak orang yang masih sangat butuh uang, tapi banyak juga orang yang uangnya dipake tujuh turunan juga nggak habis. Banyak orang banting tulang demi dapet uang, ada juga yang tinggal ongkang-ongkang duduk di kursi salah satu ruangan perkantoran eksklusif dan uang mengalir dengan cepat. Banyak orang bekerja mencari uang secara halal, tapi banyak juga yang rela melakukan apapun. Uang, selain sebagai penolong penyambung hidup bisa jadi ‘majikan’ yang menjerumuskan ‘budaknya’ (manusia).

Aku sih bukan kasih nasihat atau apa, bukan berusah menggurui apalagi. Dibalik semua tulisan-apa deh-ngaco-random-ga penting-aneh-sewot-ngelantur-tapi bener-ini aku cuma bisa berdoa, di masa depan nanti semoga kita bisa jadi orang yang mapan, bisa cari uang sendiri dengan ilmu yang kita punya dengan tidak lupa memanfaatkan ilmunya dengan baik. Semoga kita bisa memenuhi kebutuhan  -yang memang dibutuhkan- secara baik, semoga kita bisa ngasih manfaat untuk orang-orang yang benar-benar membutuhkan juga dengan rejeki yang kita hasilkan,  semoga kita tidak diperbudak atau dibutakan oleh uang, semoga semua yang diberikan Tuhan membuat kita senantiasa bersyukur. Amin

Curcol : Post ini dibuat atas ide sendiri, jadi ceritanya baru-baru ini aku baru saja ‘disentil’ dengan yang namanya uang. Aku dapet e-mail yang isinya keputusan bahwa aku diterima jadi salah satu delegasi untuk dateng ke sebuah seminar/konferensi di luar negeri (dan setahu aku ada sektar 20an orang sekampus yang nampak akan berangkat juga). Tentu biaya yang dibutuhkan tidak sedikit, setelah aku hitung uang 10 hari disana (fee acara, hotel, penerbangan, makan, visa etc) bisa menghabiskan biaya 4 semester kuliah aku. Disini, bukan masalah pelit ngeluarin uang, lagi nggak punya atau apa, sebenernya simpenan ada (yang sebelumnya berencana digunakan sesuatu yang lain, tapi jadi galau gara-gara ini). Orang tua sebenernya nggak terlalu masalah, tapi malah aku jadi nggak enak, ngersa beban aja make uangnya, belum bisa ngehasilin uang tapi masih pake uang ‘segitu’ dan mau gimana2 juga uang aku kan tetep uang ortu, beban morilnya gede ya, hehehe. Aku ngerti, kalo pengen sesuatu memang butuh pengorbanan, tapi aku mungkin sedang diuji Tuhan nih mengenai kebijakan mengelola uangnya. Apakah uang itu aku pake berangkat atau aku pake untuk sesuatu yang lebih worth di ‘sini’… doakan aku lulus cobaaan ya.. (ya kalo memang takdir aku yakin pasti ada jalan :p)

Sekian, mohon maaf untuk lanturan yang panjang dan ada yang kurang mengenakkan….. :D

Minggu, 03 Juli 2011

Adikku, Shabirina...

Aku ingin kamu tahu bahwa kamu bisa lebih baik dariku
Aku kagum dengan kemampuanmu menggambar dan melakukan kerajinan tangan
Aku kagum dengan keinginan kuatmu yang ingin bisa belajar banyak bahasa
Aku kagum dengan keteguhanmu tidak tidur demi mengerjakan tugas


Aku ingin kamu tahu bahwa kamu bisa lebih baik dariku
Aku kagum dengan prinsip "I'll go on my way"-mu yang lebih kuat dari milikku
Aku kagum dengan keinginanmu yang tidak pernah mau disamakan denganku
Aku adalah aku, dan tidak bisa kamu tiru,
Kamu adalah kamu, kamu punya banyak kelebihan yang tidak aku punya
Tapi aku dan kamu akan selalu berdampingan selayaknya saudara
Akan selalu mengasihi, saling membantu saat salah seorang jatuh

Adikku yang perempuan satu-satunya, sedikit-banyak berbeda denganku. Umurnya baru 15 tahun ini, dan masih duduk di bangkua kelas XI. Shabirina Nurramadhani Heldaputri namanya. Aku sering kagum dengan kemampuannya dalam hal kerajinan tangan, menggambar, dan menghapal bahasa. Dulu waktu aku mau pesta prom jaman SMA, dia yang membuatkan desain baju untukku. Dan sampai sekarang bajunya masih sering aku pakai.

Di kamarnya aku sering menemukan benda-benda yang ia buat sendiri. Kadang membuatku berdecak kagum, kadang malah membuatku mengerenyitkan dahi. Tapi aku akui, untuk keterampilan tangan aku memang kalah jauh. Dari dia aku belajar beberapa, diantaranya keterampilan paper quilling. Sementara kalau masalah akademik lainnya, adikku juga nggak kalah pintar, tapi aku boleh bangga karena aku sedikit lebih 'beruntung' soalnya aku dapet kesempatan cuma sekolah 2 tahun dan berhasil menyelesaikannya dengan baik.

Saat Indonesia kena demam Korea, adikku juga sama. Dia jadi sering ngoleksi video clip dan lagu-lagu artis Korea. mulai dari SuJu, 2PM, 2AM, SHINEE, SNSD, f(x), MissA, dan entah lagi apa namanya. Tapi kerennya, bukan hanya suka nonton atau nyanyi-nyanyi nggak jelas. Dia juga beli buku-buku bahasa Korea, majalah, buku kamus, percakapan, buku hangul, dan itu semua bikin dia ngerti bahasa Korea dan bisa mempraktikkannya, begitu juga sama bahasa Jepang dan Arab yang dia pelajari di sekolah.

Aku sih boro-boro, belajar bahasa Perancis aja cuma kuat 2 bulan (-____-")

Waktu SMA aku lebih memilih aktif di ekskul musik daripada ekskul lainnya, sementara adikku, dia lebih milih nyibukin diri di OSIS, paskibra, dan karib. Yah, waktunya tersita banyak sih, aku nggak pernah protes selama kegiatannya itu baik dan bermanfaat, tapi kadang-kadang dia suka lupa waktu jadi karus diingetin. Sekarang aja dia lagi asrama paskibra dan nggak pulang selama 10 hari, berhubung aku juga KP jadi kira-kira nggak ketemu selama sebulan, kangen banget.

Jeleknya, adikku ini kalau emosi susah banget di kontrol beda sama aku, atau kakaknya yang cowok. Kena marah sedikit biasanya ngambek masuk kamar, kalau kecewa, nangisnya nggak bisa ditolong. Semoga kedepannya pribadinya bisa lebih baik.

Mudah-mudahan dia bisa terus berbakti, bikin bangga, dan membahagiakan orang tua
Mudah-mudahan dia juga bisa jadi contoh yang baik buat Candra, adik kami yang paling kecil
Mudah-mudahan dia selalu sehat, enteng rejeki, dan enteng jodoh
Mudah-mudahan dia selalu disayang Allah
 
Gimanapun adik aku akan selalu tetep jadi orang yang aku sayang dan aku banggakan.

Terima Kasih..


Aku sangat suka nulis. Seperti yang pernah aku bilang, aku nulis mulai dari yang isinya sampah sampai yang isinya cukup serius.

Sebenernya, saat ini aku bener-bener nggak tau ke depannya aku mau jadi apa, mau berkarir di bidang apa. Di satu sisi pengen jadi researcher/ dosen, yang berarti aku harus belajar serius banget, atau jadi praktisi/konsultan yang kerja di sebuah lembaga/perusahaan. Tapi di sisi lain sebenernya aku juga dari dulu pengen kerja di bidang jurnalistik, yag berkaitan sama nulis, motret, reporting. Menurut aku jadi penulis atau reporter itu asik aja, susah dijelasin pake kata-kata sih, yang jelas minat aku ke bidang ini kuat. Karena cita-cita yang kayaknya susah untuk direalisasikan itulah (aku kan kuliah di kampus yang nggak ada jurusan jurnalistik,) aku mati-matian nyari tempat magang reporter yang nerima mahasiswa berbagai jurusan, sayangnya nggak nemu.

Juli 2010, aku dapet informasi kalo suatu lembaga di ITB buka magang reporter online, aku langsung apply dan Alhamdulillah keterima. Sayangnya, waktu training magang selalu bentrok sama kesibukan kuliah yang saat itu lagi super padet, alhasil jujur aja meskipun aku udah usaha keras, aku tetep keteteran dari sesama maganger yang lain. Padahal aku enjoy banget sama lingkungannya. Meskipun aku udah berusaha nyusul, ngerjain tugas sebaik mungkin, usaha buat ujian semaksimal mungkin, ternyata di akhir program aku cuma berhasil ngejar sampai peringkat 6 dengan beda sekitar 1 poin dari peringkat 5, sementara maganger yang di kontrak jadi reporter selama setahun cuma sampe peringkat 5.

Waktu itu aku kecewa banget sampe sempet nggak mau nulis lagi.

Kata ‘trauma’ mungkin berlebihan ya, tapi ya kira-kira seperti itu lah. Intinya karena kejadian itu aku sempet nggak percaya diri, merasa nggak mampu. Aku ngerasa nulis memang bukan bidang aku. Terus aku sempet vakum nggak nulis apa-apa di tumblr dan blog, padahal biasanya ada aja ide. Mungkin otak aku emang lagi nggak ingin. Hehehe.

Sekitar dua bulan kemudian aku dapet e-mail dari orang BERKALA ITB, katanya kalau aku ada waktu aku boleh main ke annex lt. dasar, direktorat humas dan alumni. Sampai sana aku ngobrol-ngobrol sama orang yg namanya mas Dewa. Ternyata BERKALA ITB lagi butuh contributor tulisan, mungkin aku bisa coba.

Akhirnya aku coba..

Aku nulis lagi dan aku kirimin ke mereka, sempet bolak-balik diedit dan nunggu lama.  Sejujurnya rada kesusahan soalnya formatnya beda dengan tempat magang aku dulu, karena BERKALA ITB ini menurut aku lebih formal dan mencitrakan ITB jadi harus lebih selektif dalam memilih topic dan gaya penulisan. Terus susahnya aku sempet libur nggak nulis karena kesibukan praktikum, ujian, dan kerja praktik (di tim BERKALA ITB sepertinya tinggal aku doang yg kuliah, sisanya angkatan 2004 keatas).

Sampai akhirnya minggu kemarin aku dikontak sama mas Dewa, bilang bahwa ada titipan dari kantor buat aku. Aku sempet heran titipan apa. Akhirnya hari sabtu aku temuin dan, jujur aku agak kaget karena tulisan aku udah dimuat (cuma satu kolom sih di rubrik ‘aneka’, tapi aku cukum amazed) dan honor nulisnya udah cair. Aku kaget tapi bersyukur banget, honornya aku pake beli kado adik dan ibu aku yg lagi ulang tahun dan adik aku yang satu lagi yang baru aja jadi juara kelas.

Seketika pas liat tulisan aku dimuat di BERKALA dengan nama lengkap yang nulisnya, plus nama aku di kolom contributor, semangat aku serasa balik lagi. Aku mikir, mungkin dulu tuh aku bukannya nggak mampu, tapi aku belum beruntung aja, belum jadi kesempatan aku untuk dikontrak jadi reporter di tempat magang aku yang dulu.

Aku tau banget, aku belum selayaknya bangga, karena ini mungkin belum ada apa-apanya disbanding orang hebat di luar sana. Tapi aku ingin bilang terima kasih buat tim BERKALA ITB, yang secara langsung maupun nggak langsung udah ngebangunin aku, udah bikin aku semangat lagi. Mungkin bagi orang-orang, ini nggak seberapa atau biasa aja, tapi buat aku ini berharga banget. Aku bener-bener nggak berharap banyak kedepannya. Tapi aku bakal terus usaha biar kemampuan aku berkembang dan bisa memuaskan tim dengan tulisan-tulisan yang aku buat.

Dan aku belajar bahwa, saat kita gagal mencapai apa yang selama ini kita targetkan, bukan berarti Tuhan menggagalkan rencana dan usaha-usaha kita. Tuhan kasih rencana yang lebih baik untuk kita, Tuhan bikin usaha kita lebih maksimal dan mencapai hasil yang ternyata lebih baik dari apa yang kita rencanakan, dari apa yang kita harapkan. Meskipun mungkin kita ngerasa pahitnya lebih kerasa, dengan ujian dan gerusan-gerusan itu kita malah jadi lebih kuat.

Aku bakal kerja lebih tekun, keras dan semangat.

Mohon doanya. Amin.

Sabtu, 02 Juli 2011

Happy Birthday Mom and Dimas

Udah tiga minggu ini aku nggak tinggal di rumah karena harus kerja praktik (KP) di Cibitung, deket Bekasi. Dan udah tiga minggu ini aku jadi anak kostan bareng sama temenku, Faiza, yang anak Bandung juga. Keribetan selama KP membuat aku nggak bisa setiap saat pulang ke Bandung, dan masih dua minggu lagi sampai KP selesai, 17 Juli 2011.

Sebenernya, cukup nggak tahan tinggal di Cibitung, terutama karena panas dan debunya itu luar biasa, maklum, kawasan industri. Aku yang dari kecil sampe umur sekarang nggak pernah tinggal lama di tempat selain Bandung tentu nggak biasa sama lingkungannya. Apalagi mesti ngekost, agak aneh juga nggak ada keluarga ya. Dan sekarang aku ngerti (sedikit) rasanya jadi temen2 rantau dari berbagai daerah buat belajar di ITB, mandiri tanpa orang tua.

Hari ini, tanggal 3 Juli, ibu aku dan adik aku (namanya Dimas) ulang tahun. Ibu ulang tahun yang ke-48 sedangkan Dimas yang ke 17. Sejak beberapa hari lalu, aku excited banget pengen ada di Bandung weekend ini, biar bisa ngerayain ultah sama beli kado. Lagian aku udah kangen banget sama keluarga di Bandung. Sayangnya, adik aku yang perempuan, Shabirina, lagi diklat paskibra dan masuk asrama sampai minggu depan, jadi nggak bisa ketemu.

Rencana aku terwujud, aku hari ini ada di Bandung…

Hari Sabtu, 2 Juli 2011, aku cuma ketemu ibu kurang dari 1 jam, soalnya beliau temenin eyang di Cimahi, eyang lagi sakit jadi ibu bolak balik rumah - Cimahi. Sorenya ibu balik lagi ke Cimahi dan aku pergi nyari kado. Aku sempet nanya ibu mau kado apa dari aku (karena kebetulan aku baru dapet honor nulisku dari BERKALA yang super lumayan). Ibu bilang bingung jadi kadonya ditunda dulu aja, yang penting beli kado buat Dimas dan Candra (adikku yang satu lagi, dia ranking 1 dan aku janji beliin hadiah). Jadi, pergilah aku nyari kado.

Pagi ini, tanggal 3 Juli, ibu rencananya pulang ke rumah siang. Pagi-pagi aku ucapin selamat ulang tahun ke Dimas dan kasih kadonya, alhamdulillah dia suka. Aku mikir, ya udah lah ngucapin selamat ulang tahunnya siang aja, langsung, pas ibu sampai rumah.

Tapi ternyata ibu nggak pulang hari ini…

Aku nggak marah, aku ngerti ada prioritas yang lebih saat ini. Aku cuma menyayangkan aja. Padahal aku udah tunda kepulanganku ke Cibitung jadi jam 3 sore biar bisa ketemu ibu lagi, ngucapin selamat ulang tahun sambil peluk dan cium ibu.

Dan mungkin aku cuma bisa ngucapin selamat lewat telepon, padahal asli bela-belain pulang demi ibu..
Semoga ibu senantiasa sehat
Semoga ibu senantiasa dilimpahi berkah, rizki, dan cinta Allah
Semoga ibu memiliki anak-anak yang shaleh
Semoga aku masih punya banyak kesempatan berharga sama ibu
Ibu akan selalu jadi wanita terbaik yang pernah aku kenal
“Happy birthday Mom, Allah always loves you, and I love you soooo much..”
Sumpah kangen banget…

Kamis, 26 Mei 2011

Reminder


Kenapa ini salah? kenapa ini ngecewain? kenapa sistemnya jelek?
Dan aku terus meruntuki buruknya pengaturan suatu sistem dengan kondisi yang sangat tidak aku sukai. Kenapa ini harus begini dan itu harus begitu, menurutku mereka tidak seharusnya menentukan ini untuk itu, itu untuk ini. Dan menurutku dengan mereka begitu, orang-orang akan semakin kecewa sama sistem yang ada, semakin menganggapnya kacau. Entropi semakin meningkat, ulalala~

Dan ruang keluarga menjadi salah satu tempat paling nyaman untuk mengungkapkan kekecewaan, kekesalan, penyesalan, keraguan yang selama ini ditumpuk dalam diri, semuanya ditumpahkan di depan ayah dan ibu yang diyakini dapat menenangkan dan memberikan solusi. Ya, dan mulutku terus meracau mengumumkan kekurangan-kekurangan dan hal-hal dari sebuah sistem, dari sebuah kondisi yang setting-annya aku anggap salah. Gilanya, tanpa sadar aku jadi menggebu, melihat suatu hal dari satu sisi, dari pandanganku saja..

Kemudian ‘tamparan’ itu datang, tamparan berwujud kata-kata seorang ayah yang mungkin tidak ingin anaknya terjun terlalu dalam ke jurang ‘pemikiran yang sempit’, yang akhirnya menyadarkan aku bahwa hari ini aku melakukan suatu kekhilafan. Memandang masalah dari satu sisi, dengan mata yang tidak ‘terbuka’, dengan pola pikir pribadi yang egois, yang memandang diri sebagai ‘si benar’ dan ‘si paling tahu apa yang benar’. Dan, menurutku seharusnya hal itu tidak dilakukan oleh seorang gadis menuju umur 20 yang sedang menimba ilmu menuju kedewasaan. Bebaskan pikiran, jangan terkunci pada satu pola pikir.

"Saat kamu kecewa akan suatu kondisi/sistem, ngomong saja ngga akan merubah keadaan. Kalau kamu berani, terjun ke dalamnya, temukan kekurangannya lalu  ubah seperti yang kamu mau, yang seharusnya dilakukan, dan menurut kamu benar…"

Thanks dad, for reminding me…

Selasa, 24 Mei 2011

Kangen


Sering ngerasa kangen sama temen-temen, terutama karena emang udah lama nggak ketemu terus pengen jalan bareng.
Kangen sama temen-temen karena pengen cerita banyak dan selalu ingin bilang  “eh lo tau nggak, kan gini , ceritanya…..”.
Kangen sama temen-temen karena banyak masalah terus keinget kalo temen adalah orang yang bisa dipercaya dan ngasih saran plus setia ngedengerin setiap cerita.
Kangen sama temen-temen saat ingin berbagi, kalo dia lagi sedih, lagi seneng, kalo lagi banyak masalah, kalo lagi ketakutan.
Kangen sama temen-temen yang super lengket, yang udah trade mark kalo ada dia ada kita juga sampe kalo dia nggak ada pasti kita jadi orang yang pertama ditanyain “temen lo mana?”.
Kangen sama temen-temen pas liburan, pas kita mati gaya di rumah terus keinget temen-temen yang super asik dan ricuh bikin ketawa.
Kangen sama temen-temen begitu inget pernah gila-gilaan bareng, ketawa-ketawa, nangis.
Kangen sama temen-temen terutama kalo kita sakit, atau dia yang sakit.
Kangen sama temen-temen terutama pas inget dulu deket banget tapi sekarang jadi jauh, jarang komunikasi, karena sesuatu hal.

Hey, I miss you guys…..

Randomized : SD, SMP, SMA, Kuliah


Waktu jadi anak SD :
Rasanya kerjaannya main-main terus.  Masalah yang ada cuma tentang “gimana caranya main sepeda tiap hari tanpa dimarahin?”, “gimana caranya bales kenakalan si X ke aku kemarin?”. Bener-bener rasanya ngga punya beban berat, tumbuh, berkembang seperti anak kecil pada umumnya.
“Liburan kapan sih, pengen cepet2 jalan2..”
“Enak ya jadi orang gede, bisa lakuin apa aja yang mereka mau..”
Masalah-masalah anak kecil yang sekarang keliatan lucu, dan simple. Bikin kangen…

Waktu jadi anak SMP :
                Rasanya udah gede dan ngga mau disebut anak kecil lagi. Sok-sokan ya keliatannya. Hahaha. Lagi seneng-senengnya nyobain yang namanya bersosialisasi, jadi banyak pengen tau urusan orang dewasa. Banyak temen-temen yang udah mulai ‘belajar’ pacaran. Mulai ikut ke organisasi. ‘Belajar’ gaul, main ke mall. Udah mulai bandel. Mulai belajar gosipin orang (terutama yang jelas-jelas nggak suka sama kita). Mulai kenal sama yang namanya persaingan (dan taktik memenangkannya). Terhimpit sama yang namanya pem-bully-an sama kakak kelas (gara-gara macem alasan). Suka baca novel remaja, nonton film romantis. Belajar serius hanya pas kelas 3. Tapi mulai bisa diandalkan sama orang tua.
“Aduh pengen cepet-cepet SMA pasti seru.”
Masa SMP itu menurut aku masanya manusia jadi daydreaming. Haha.

Waktu jadi anak SMA :
                Mulai berpikir sedikit lebih logis dari jaman SMP, sampai2 tiap ngeliat diary jaman SMP pasti langsung bilang “buset, labil banget gue waktu SMP.” . Kalo kata orang-orang anak SMA itu lagi gila2nya, lagi menikmati masa muda, lagi bandel2nya, lagi getol2nya pacaran, lagi males2nya belajar. Well, kalo anak aksel ceritanya agak beda (haha). Lagi gila-gilanya usaha keras biar terus ada di aksel dan dapet nilai bagus. Lagi gila-gilanya nyerap mata pelajaran yang dikebut, harusnya satu hatuh ajaran jadi cuma delapan bulan. Tapi pas SMA pun banyak hal yang berkembang, kedewasaan dalam melihat masalah. Mulai kenal orang yang perilakunya aneh-aneh. Mulai punya jati diri, suka sama apa (atau, siapa?), nggak suka sama apa, merasa kurang dalam hal apa, lebih dalam hal apa. Mulai bisa memposisikan diri di berbagai kondisi (meski terkadang masih labil). Pikiran, kelakuan, dan perkataan udah mulai terbentuk lah ya.

Waktu jadi mahasiswi :
                Amazing, waktu berjalan dengan cepat. Tba-tiba udah terperangkap dalam kerasnya kehidupan perkuliahan (ahahaha). Dan bukan hal yang mudah dalam menyesuaikan kehidupan. Mulai tau gimana cara belajar yang benar, efektif, dan efisien. Berteman dengan semakin banyak orang dengan segala sifat dan etnis, agama, dll. Lebih membuka pikiran dan terpacu untuk menjadi dewasa. Makin suka ngobrol, tapi ke arah yang lebih bermutu. (Akhirnya) Jatuh cinta (serius, dan bukan main-main). Mengahadapi kekompleksan masalah keluarga, akademik, pertemanan, hubungan dengan (ehem) dll sampai kadang rasanya udah nggak bisa bertahan lagi, otak panas, badan capek, sangat butuh ketenangan. Terkadang saking lelahnya pengen balik jadi anak kecil lagi. Semakin suka mencoba hal baru dan menantang. Semakin suka menulis dari mulai yang sampah sampai menginspirasi. Makin punya ambisi, mulai kebentuk nantinya pengen jadi apa, mau apa, ingin meraih apa. Cukup kesulitan memelihara kesehatan badan karena gerusan malam-malam di pengerjaan tugas. Teledor yang sudah berkurang. Pikiran yang lebih logis (kadang kalau tertekan masih labil juga sih). Belajar untuk meminta maaf dan memaafkan lebih sering. Tahu kekurangan dan kelebihan serta bagaimana memanfaatkan (dan memperbaikinya). Semakin banyak diuji oleh Tuhan, dan pertahanan semakin digerus, tapi hal ini lah yan membuat diri semakin kuat.