Mengenai Saya

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Saya suka melakukan hal-hal yang menurut saya menarik dan orang-orang sulit melakukannya :) Saya suka bercerita tentang apa yang terjadi hari ini dan mendengarkan cerita teman-teman tentang betapa rumitnya hidup :P Saya selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk orang yang saya sayangi :* Sangat susah bagi saya untuk memilih, meskipun saya sudah menentukan prioritas. Seorang sanguinis- koleris yang perfeksionis namun berusaha untuk tidak terlalu idealis. Haha.

Minggu, 17 Juli 2011

Dua Anak Kecil, Mau Kemana?


Kemarin, sepulang arak-arakan wisuda, aku pulang ke rumah naik angkot, tentunya dengan basah kuyup. Badan menggigil dan yakin banget kalau sampai rumah  harus langsung mandi biar nggak sakit. Seseorang pernah bilang sama aku, kalo badan kita keujanan lama apalagi sampai basah kuyup dan menggigil, badan terutama kepala kita harus disiram pake air anget biar nggak sakit.

Masuk jalan menuju rumah, aku papasan sama Putri, adik aku. Dia abis dari warung sebrang jalan, beli es krim. Aku liat dia lagi ngobrol sama dua anak kecil yang penampilannya sangat sederhana. Yang perempuan kira-kira usianya 10-12 tahun bawa keranjang gede, yang kecil laki-laki kira-kira 6 tahun pake baju merah, diem malu-malu gitu..

Aku samperin Putri dan dua anak itu,  aku tanya ada apa. Putri  bilang, dua anak itu mau pulang ke rumahnya di Banjaran, tapi ongkosnya kurang, mereka sempet nawarin adik aku beli dagangan mereka, sayuran, tapi Putri bingung juga soalnya dia nggak perlu sayuran. Aku sempet kaget, udah jam setengah delapan malem dan dua anak itu belum pulang, aku ajak mereka ngobrol di pinggir *soalnya asalnya di tengah jalan*. Nggak tega, muka anak kecil yang laki-laki  keliatannya capek banget. Dia diem terus.

Ternyata mereka jualan sayur dari pagi dan baru laku sedikit. Pas aku tanya orang tuanya dimana, anak yang perempuan bilang kalo ibunya lagi sakit. Biasanya mereka jualan sama ibunya, makanya mereka tau jalan. Aku tanya rumahnya di Banjaran sebelah mana, mereka bilang berhenti di pertigaan alfamart terus naik kretek *aku tau kayaknya jalannya, makanya aku positif thinking aja, Insya Allah anak-anak itu nggak bohong*

“Mbak, kita kasih aja uangnya gimana? Kasian soalnya…” Kata Putri

Aku juga nggak tega sih, anak kecil malem-malem, jauh dari rumah, bawa keranjang sayur yang berat..

“Coba teteh liat, kalian jualan apa?”

“Ini teh, ada jagung, cengek, paria, terong, sawi, sama bawang merah..” Anak perempuan itu buka barang belanjaan dia dengan semangat dan buka daftar dagangan dari dompet, sempet aku lirik, isi dompetnya cuma sekitar tiga ribu gitu..

Aku kepikiran masak buat besok harinya, tapi sayuran yang aku suka cuma jagung. Ya udah lah aku pikir dibeli aja.

“Jagung berapa?”

“3500 teh…”

Aku keluarin uang, Putri juga. Aku cuma berharap mereka bisa pulang selamat, terus mudah-mudahan dagangannya besok-besok laris. Aku yakin Putri juga gitu.

“Teh, maaf, ini uangnya nggak ada kembaliannya.”

“Ambil aja kok, memang buat kamu sama adik kamu..”

Dan rasa hangat menjalari aku begitu ngeliat anak laki-laki kecil yang asalnya mukanya capek banget dan diem terus itu senyum, terus bilang “Alhamdulillah…”

Mereka pun pergi sambil meninggalkan senyum manis.

Ya Allah, aku bersyukur banget aku nggak mesti jualan sayur  semalem itu dan sejauh itu untuk nyari uang. Dari dua anak itu aku jadi keinget kalau kita harus bersyukur sama rejeki yang dikasih Tuhan. Dua anak itu harus rela dan berani pergi tanpa ibunya buat bantu ibunya yang lagi sakit. Dua anak itu harus mau jalan jauh demi nyari orang yang mau beli dagangan mereka. Dua anak itu hari ini melewatkan malam minggu, malam dimana biasanya keluarga menghabiskaa waktu bersama. Kalau dipikir-pikir, keluarga aku kalau malam minggu biasanya jalan-jalan, makan enak, atau sekedar ketawa-ketawa di rumah, sedangkan diluar sana banyak yang harus kerja keras. Yah, namanya juga hidup. Hidup itu berat dan kita sebagai pemerannya harus kuat, karena kita nggak tau apa yang akan terjadi nanti..

Aku berharap mudah-mudahan dua anak kecil itu selamat sampai rumah, untuk hari ini dan seterusnya. Mudah-mudahan rejeki mereka lancar untuk hari ini dan seterusnya. Mudah-mudahan mereka bahagia, mudah-mudahan mereka akan selalu nemuin orang yang baik sama mereka untuk hari ini dan seterusnya. Dan mudah-mudahan mereka selalu diliputi berkah, kasih sayang dan cinta Allah hari ini dan seterusnya.. Amin.

Seeing from The Distance


Aku orang yang sangat suka bersosialisasi, aku adalah orang yang doyan banget ngobrol. Aku seneng karena punya banyak temen yang bisa diajak ngobrol, ketawa-ketawa, seneng-seneng, beberapa dari mereka bahkan selalu ada saat aku susah, saat aku sedih, saling menghibur. Aku seneng berada di deket orang-orang yang membuatku sangat nyaman. Berada di sekitar orang yang menyenangkan.

Tapi ada orang yang hanya bisa aku lihat dari jauh. Orang ini bukan artis, apalagi presiden. Orang ini bukan orang penting juga, apalagi buronan yang membuatnya harus jauh-jauh dari orang lain. Hahaha.

Dia adalah orang yang tetep bisa membuatku nyaman meski kami berjauhan.
Tapi selalu aja ada alasan aku untuk melihat orang ini dari jauh. Just seeing from the distance.

Aku melihat orang ini dari jauh, orang ini memilih hanya tersenyum saat teman-temannya larut dalam kegembiraan, tertawa-tawa keras. Orang ini memilih mengobrol dengan pak tua pengumpul sampah/gelas plastik sementara teman-temannya bercanda tawa di beberapa sudut. Orang ini memilih tersenyum dan hanya mengamati sementara teman-temannya berjoget-joget gembira dan menjadi pusat perhatian. Tapi buatku, orang ini yang jadi pusat perhatian.

Orang ini tentu nggak melihatku, toh aku memperhatikannya dari jauh.

Ini bukan stalking…

Kalau pun aku bisa, aku juga nggak ingin cuma melihat orang ini dari jauh. Kalau pun aku bisa, aku akan menarik tangan orang ini, mengajaknya bergabung bersama aku dan teman-teman yang lain. Membuatnya memiliki lebih banyak teman, membuatnya merasakan ikut berbagi. Melihat senyumnya lebih jelas dan lebih dekat. Mengobrol tentang banyak hal yang menyenangkan, bukan hanya sekedar berpandangan kemudian membuang muka.

Ya, but for now, I just can seeing from the distance…

Senin, 11 Juli 2011

Hal Sensitif : Uang dalam Kehidupan


Sering denger kan, berita tentang saudara yang bunuh-bunuhan gara-gara masalah hutang? Sering denger juga kan, berita tentang orang atau bocah yang bunuh diri gara-gara masalah keuangan (bayar sekolah, banyak tunjangan, biaya berobat dll)? Atau yang paling sering deh, berita tentang tindak kriminal macem pencurian, penculikan bersyarat tebusan dengan latar belakang kondisi keuangan pasti pada sering baca di koran atau denger dari TV.  Bahkan yang berhenti sekolah karena nggak punya uang, yang berhenti mengejar mimpi karena nggak mampu secara finansial, pasti bayak terjadi di dunia ini.

Orang emang nggak bisa hidup di dunia tanpa uang ya? Maksudnya, uang itu jadi krusial buat kehidupan manusia. Kalau jaman duluuu banget tetua kita mengenal barter, macem beras sekilo dituker sama ikan asin atau apalah itu namanya, terus mulai dihargai dengan emas, perak, dan perunggu, sekarang barang atau jasa yang kita butuhkan dapat kita peroleh dengan memberikan lembaran-lembaran ijo, biru, merah atau koin dengan nominal  angka yang dinamakan uang.

Segitunya, aku jadi mikir, kita hidup, kita lahir, belajar, berusaha memperoleh pendidikan yang tinggi, berusaha memperoleh pekerjaan yang bermanfaat dan upah yang menurut kita layak. Jadi keinget sama pembicaraan sama seorang temen (yang kuliah di ITB juga, jurusan timur –tak usah disebut lah mananya-)
A : Ngapain lo kuliah di jurusan X dis?
B : Karena gw seneng sama segala sesuatu yang berhubungan sama X. Lo kenapa kuliah di jurusan Y?
A : Hem, sebenernya gw pengen kuliah di salah satu jurusannya fakultas Z sih, gw kuliah di Y bukan berarti dari awal gw suka Y, gw suka kimia, gw suka matematika, gw suka ngitung, nggak suka ngehapal kayak lo.
B : Terus kenapa lo malah kuliah di jurusan Y?
A : Karena di fakultas gw yang sekarang gw rasa jurusan Y itu yang ‘paling’.  Lo sendiri, yakin kuliah di jurusan X dis? Emang lo mau jadi apa ntar kerjanya?
B : Gw pengen jadi konsultan, gw pengen jadi penulis, tapi gw pengen jadi dosen juga :p
A : Emang worth ya dengan kuliah lo? Emang duitnye banyak?
B : Loh kok jadi ke duit? Gw sih yang penting gw cinta apa yang gue lakuin dan manfaat, kalo duit, nggak perlu lebih, yang penting cukup buat keluarga gw. Kalo lo?
A : Kalo gw sih, jurusan gw yang sekarang sangat mendukung gaji belasan juta bahkan puluhan juta perbulan pas gw kerja ntar. Kalo gitu lo cari suami jurusan gw atau mirip2 jurusan gw aja biar duitnya banyak. Haha.
B : Emang duit banyak buat apa? (nanya beneran loh bukan ngetest :p)
A : Ya elah, masa lo ga tau duit banyak buat apa?....... (dan pembicaraan pun berakhir sampai sini)
SEE???? Apakah dari anda-anda banyak yang berpikiran seperti ini juga? Bahwa kuliah tinggi ujung-ujungnya buat dapet kerjaan dengan duit gede lalu hidup bahagia (???)

Sebenernya, kalo menurut aku sah-sah aja sih kalo manusia mencari kepuasan, maksudnya dalam hal ini uang. Manusia belajar, berusaha, bekerja, demi mendapatkan uang, demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Itu sah-sah aja asal masih dalam cara yang halal, bukan lewat nipu, bukan lewat nyuri, bukan lewat korupsi, pokoknya dengan tidak merugikan orang lain. Tapi kalo uang dijadikan takaran mendapatkan kebahagian, sori-sori jek, ane mah nggak setuju.

Apakah semua yang berharta hidupnya akan bahagia? Mungkin iya mereka bisa beli apa aja yang dimauin, apa aja yang lagi tren, apa aja yang keren dan diimpikan banyak orang. Tapi dibalik semua itu, kebahagiaan kan nggak bisa dibeli pake uang masbro, mbaksis… Kita perlu inget bahwa uang dan segala kemewahan malah bisa membawa orang lupa diri dan tenggelam dalam kebahagiaan yang semu. #ciyeh

Uang nggak akan bisa membeli senyum tulus seorang anak yang ‘dilupakan’ orang tuanya karena kesibukan pekerjaan. Uang nggak akan bisa membeli persahabatan yang benar-benar nyata. Uang nggak bisa dipake beli cinta dan kasih sayang, uang nggak bisa menghapus tangis seseorang yang ditinggal mati sanak saudara atau orang tuanya. Uang nggak akan bisa membeli kebahagiaan. Kebahagiaan karena uang hanya bersifat sementara. #aseeeek

Aku mungkin belum jadi ‘orang’ yang mapan secara finansial, yang mandiri cari uang sendiri, yang udah jelas bakal dapet uang berapa tiap bulannya. Aku mungkin masih harus disuapin orang tua dalam hal kebutuhan hidup, aku mungkin belum ngerasain sepenuhnya gimana susahnya nyari uang (jadi sori-sori aja nih kalo setelah baca tulisan ini kesannya jadi sotoy). Tapi yang aku tahu, di dunia ini banyak orang yang masih sangat butuh uang, tapi banyak juga orang yang uangnya dipake tujuh turunan juga nggak habis. Banyak orang banting tulang demi dapet uang, ada juga yang tinggal ongkang-ongkang duduk di kursi salah satu ruangan perkantoran eksklusif dan uang mengalir dengan cepat. Banyak orang bekerja mencari uang secara halal, tapi banyak juga yang rela melakukan apapun. Uang, selain sebagai penolong penyambung hidup bisa jadi ‘majikan’ yang menjerumuskan ‘budaknya’ (manusia).

Aku sih bukan kasih nasihat atau apa, bukan berusah menggurui apalagi. Dibalik semua tulisan-apa deh-ngaco-random-ga penting-aneh-sewot-ngelantur-tapi bener-ini aku cuma bisa berdoa, di masa depan nanti semoga kita bisa jadi orang yang mapan, bisa cari uang sendiri dengan ilmu yang kita punya dengan tidak lupa memanfaatkan ilmunya dengan baik. Semoga kita bisa memenuhi kebutuhan  -yang memang dibutuhkan- secara baik, semoga kita bisa ngasih manfaat untuk orang-orang yang benar-benar membutuhkan juga dengan rejeki yang kita hasilkan,  semoga kita tidak diperbudak atau dibutakan oleh uang, semoga semua yang diberikan Tuhan membuat kita senantiasa bersyukur. Amin

Curcol : Post ini dibuat atas ide sendiri, jadi ceritanya baru-baru ini aku baru saja ‘disentil’ dengan yang namanya uang. Aku dapet e-mail yang isinya keputusan bahwa aku diterima jadi salah satu delegasi untuk dateng ke sebuah seminar/konferensi di luar negeri (dan setahu aku ada sektar 20an orang sekampus yang nampak akan berangkat juga). Tentu biaya yang dibutuhkan tidak sedikit, setelah aku hitung uang 10 hari disana (fee acara, hotel, penerbangan, makan, visa etc) bisa menghabiskan biaya 4 semester kuliah aku. Disini, bukan masalah pelit ngeluarin uang, lagi nggak punya atau apa, sebenernya simpenan ada (yang sebelumnya berencana digunakan sesuatu yang lain, tapi jadi galau gara-gara ini). Orang tua sebenernya nggak terlalu masalah, tapi malah aku jadi nggak enak, ngersa beban aja make uangnya, belum bisa ngehasilin uang tapi masih pake uang ‘segitu’ dan mau gimana2 juga uang aku kan tetep uang ortu, beban morilnya gede ya, hehehe. Aku ngerti, kalo pengen sesuatu memang butuh pengorbanan, tapi aku mungkin sedang diuji Tuhan nih mengenai kebijakan mengelola uangnya. Apakah uang itu aku pake berangkat atau aku pake untuk sesuatu yang lebih worth di ‘sini’… doakan aku lulus cobaaan ya.. (ya kalo memang takdir aku yakin pasti ada jalan :p)

Sekian, mohon maaf untuk lanturan yang panjang dan ada yang kurang mengenakkan….. :D

Minggu, 03 Juli 2011

Adikku, Shabirina...

Aku ingin kamu tahu bahwa kamu bisa lebih baik dariku
Aku kagum dengan kemampuanmu menggambar dan melakukan kerajinan tangan
Aku kagum dengan keinginan kuatmu yang ingin bisa belajar banyak bahasa
Aku kagum dengan keteguhanmu tidak tidur demi mengerjakan tugas


Aku ingin kamu tahu bahwa kamu bisa lebih baik dariku
Aku kagum dengan prinsip "I'll go on my way"-mu yang lebih kuat dari milikku
Aku kagum dengan keinginanmu yang tidak pernah mau disamakan denganku
Aku adalah aku, dan tidak bisa kamu tiru,
Kamu adalah kamu, kamu punya banyak kelebihan yang tidak aku punya
Tapi aku dan kamu akan selalu berdampingan selayaknya saudara
Akan selalu mengasihi, saling membantu saat salah seorang jatuh

Adikku yang perempuan satu-satunya, sedikit-banyak berbeda denganku. Umurnya baru 15 tahun ini, dan masih duduk di bangkua kelas XI. Shabirina Nurramadhani Heldaputri namanya. Aku sering kagum dengan kemampuannya dalam hal kerajinan tangan, menggambar, dan menghapal bahasa. Dulu waktu aku mau pesta prom jaman SMA, dia yang membuatkan desain baju untukku. Dan sampai sekarang bajunya masih sering aku pakai.

Di kamarnya aku sering menemukan benda-benda yang ia buat sendiri. Kadang membuatku berdecak kagum, kadang malah membuatku mengerenyitkan dahi. Tapi aku akui, untuk keterampilan tangan aku memang kalah jauh. Dari dia aku belajar beberapa, diantaranya keterampilan paper quilling. Sementara kalau masalah akademik lainnya, adikku juga nggak kalah pintar, tapi aku boleh bangga karena aku sedikit lebih 'beruntung' soalnya aku dapet kesempatan cuma sekolah 2 tahun dan berhasil menyelesaikannya dengan baik.

Saat Indonesia kena demam Korea, adikku juga sama. Dia jadi sering ngoleksi video clip dan lagu-lagu artis Korea. mulai dari SuJu, 2PM, 2AM, SHINEE, SNSD, f(x), MissA, dan entah lagi apa namanya. Tapi kerennya, bukan hanya suka nonton atau nyanyi-nyanyi nggak jelas. Dia juga beli buku-buku bahasa Korea, majalah, buku kamus, percakapan, buku hangul, dan itu semua bikin dia ngerti bahasa Korea dan bisa mempraktikkannya, begitu juga sama bahasa Jepang dan Arab yang dia pelajari di sekolah.

Aku sih boro-boro, belajar bahasa Perancis aja cuma kuat 2 bulan (-____-")

Waktu SMA aku lebih memilih aktif di ekskul musik daripada ekskul lainnya, sementara adikku, dia lebih milih nyibukin diri di OSIS, paskibra, dan karib. Yah, waktunya tersita banyak sih, aku nggak pernah protes selama kegiatannya itu baik dan bermanfaat, tapi kadang-kadang dia suka lupa waktu jadi karus diingetin. Sekarang aja dia lagi asrama paskibra dan nggak pulang selama 10 hari, berhubung aku juga KP jadi kira-kira nggak ketemu selama sebulan, kangen banget.

Jeleknya, adikku ini kalau emosi susah banget di kontrol beda sama aku, atau kakaknya yang cowok. Kena marah sedikit biasanya ngambek masuk kamar, kalau kecewa, nangisnya nggak bisa ditolong. Semoga kedepannya pribadinya bisa lebih baik.

Mudah-mudahan dia bisa terus berbakti, bikin bangga, dan membahagiakan orang tua
Mudah-mudahan dia juga bisa jadi contoh yang baik buat Candra, adik kami yang paling kecil
Mudah-mudahan dia selalu sehat, enteng rejeki, dan enteng jodoh
Mudah-mudahan dia selalu disayang Allah
 
Gimanapun adik aku akan selalu tetep jadi orang yang aku sayang dan aku banggakan.

Terima Kasih..


Aku sangat suka nulis. Seperti yang pernah aku bilang, aku nulis mulai dari yang isinya sampah sampai yang isinya cukup serius.

Sebenernya, saat ini aku bener-bener nggak tau ke depannya aku mau jadi apa, mau berkarir di bidang apa. Di satu sisi pengen jadi researcher/ dosen, yang berarti aku harus belajar serius banget, atau jadi praktisi/konsultan yang kerja di sebuah lembaga/perusahaan. Tapi di sisi lain sebenernya aku juga dari dulu pengen kerja di bidang jurnalistik, yag berkaitan sama nulis, motret, reporting. Menurut aku jadi penulis atau reporter itu asik aja, susah dijelasin pake kata-kata sih, yang jelas minat aku ke bidang ini kuat. Karena cita-cita yang kayaknya susah untuk direalisasikan itulah (aku kan kuliah di kampus yang nggak ada jurusan jurnalistik,) aku mati-matian nyari tempat magang reporter yang nerima mahasiswa berbagai jurusan, sayangnya nggak nemu.

Juli 2010, aku dapet informasi kalo suatu lembaga di ITB buka magang reporter online, aku langsung apply dan Alhamdulillah keterima. Sayangnya, waktu training magang selalu bentrok sama kesibukan kuliah yang saat itu lagi super padet, alhasil jujur aja meskipun aku udah usaha keras, aku tetep keteteran dari sesama maganger yang lain. Padahal aku enjoy banget sama lingkungannya. Meskipun aku udah berusaha nyusul, ngerjain tugas sebaik mungkin, usaha buat ujian semaksimal mungkin, ternyata di akhir program aku cuma berhasil ngejar sampai peringkat 6 dengan beda sekitar 1 poin dari peringkat 5, sementara maganger yang di kontrak jadi reporter selama setahun cuma sampe peringkat 5.

Waktu itu aku kecewa banget sampe sempet nggak mau nulis lagi.

Kata ‘trauma’ mungkin berlebihan ya, tapi ya kira-kira seperti itu lah. Intinya karena kejadian itu aku sempet nggak percaya diri, merasa nggak mampu. Aku ngerasa nulis memang bukan bidang aku. Terus aku sempet vakum nggak nulis apa-apa di tumblr dan blog, padahal biasanya ada aja ide. Mungkin otak aku emang lagi nggak ingin. Hehehe.

Sekitar dua bulan kemudian aku dapet e-mail dari orang BERKALA ITB, katanya kalau aku ada waktu aku boleh main ke annex lt. dasar, direktorat humas dan alumni. Sampai sana aku ngobrol-ngobrol sama orang yg namanya mas Dewa. Ternyata BERKALA ITB lagi butuh contributor tulisan, mungkin aku bisa coba.

Akhirnya aku coba..

Aku nulis lagi dan aku kirimin ke mereka, sempet bolak-balik diedit dan nunggu lama.  Sejujurnya rada kesusahan soalnya formatnya beda dengan tempat magang aku dulu, karena BERKALA ITB ini menurut aku lebih formal dan mencitrakan ITB jadi harus lebih selektif dalam memilih topic dan gaya penulisan. Terus susahnya aku sempet libur nggak nulis karena kesibukan praktikum, ujian, dan kerja praktik (di tim BERKALA ITB sepertinya tinggal aku doang yg kuliah, sisanya angkatan 2004 keatas).

Sampai akhirnya minggu kemarin aku dikontak sama mas Dewa, bilang bahwa ada titipan dari kantor buat aku. Aku sempet heran titipan apa. Akhirnya hari sabtu aku temuin dan, jujur aku agak kaget karena tulisan aku udah dimuat (cuma satu kolom sih di rubrik ‘aneka’, tapi aku cukum amazed) dan honor nulisnya udah cair. Aku kaget tapi bersyukur banget, honornya aku pake beli kado adik dan ibu aku yg lagi ulang tahun dan adik aku yang satu lagi yang baru aja jadi juara kelas.

Seketika pas liat tulisan aku dimuat di BERKALA dengan nama lengkap yang nulisnya, plus nama aku di kolom contributor, semangat aku serasa balik lagi. Aku mikir, mungkin dulu tuh aku bukannya nggak mampu, tapi aku belum beruntung aja, belum jadi kesempatan aku untuk dikontrak jadi reporter di tempat magang aku yang dulu.

Aku tau banget, aku belum selayaknya bangga, karena ini mungkin belum ada apa-apanya disbanding orang hebat di luar sana. Tapi aku ingin bilang terima kasih buat tim BERKALA ITB, yang secara langsung maupun nggak langsung udah ngebangunin aku, udah bikin aku semangat lagi. Mungkin bagi orang-orang, ini nggak seberapa atau biasa aja, tapi buat aku ini berharga banget. Aku bener-bener nggak berharap banyak kedepannya. Tapi aku bakal terus usaha biar kemampuan aku berkembang dan bisa memuaskan tim dengan tulisan-tulisan yang aku buat.

Dan aku belajar bahwa, saat kita gagal mencapai apa yang selama ini kita targetkan, bukan berarti Tuhan menggagalkan rencana dan usaha-usaha kita. Tuhan kasih rencana yang lebih baik untuk kita, Tuhan bikin usaha kita lebih maksimal dan mencapai hasil yang ternyata lebih baik dari apa yang kita rencanakan, dari apa yang kita harapkan. Meskipun mungkin kita ngerasa pahitnya lebih kerasa, dengan ujian dan gerusan-gerusan itu kita malah jadi lebih kuat.

Aku bakal kerja lebih tekun, keras dan semangat.

Mohon doanya. Amin.

Sabtu, 02 Juli 2011

Happy Birthday Mom and Dimas

Udah tiga minggu ini aku nggak tinggal di rumah karena harus kerja praktik (KP) di Cibitung, deket Bekasi. Dan udah tiga minggu ini aku jadi anak kostan bareng sama temenku, Faiza, yang anak Bandung juga. Keribetan selama KP membuat aku nggak bisa setiap saat pulang ke Bandung, dan masih dua minggu lagi sampai KP selesai, 17 Juli 2011.

Sebenernya, cukup nggak tahan tinggal di Cibitung, terutama karena panas dan debunya itu luar biasa, maklum, kawasan industri. Aku yang dari kecil sampe umur sekarang nggak pernah tinggal lama di tempat selain Bandung tentu nggak biasa sama lingkungannya. Apalagi mesti ngekost, agak aneh juga nggak ada keluarga ya. Dan sekarang aku ngerti (sedikit) rasanya jadi temen2 rantau dari berbagai daerah buat belajar di ITB, mandiri tanpa orang tua.

Hari ini, tanggal 3 Juli, ibu aku dan adik aku (namanya Dimas) ulang tahun. Ibu ulang tahun yang ke-48 sedangkan Dimas yang ke 17. Sejak beberapa hari lalu, aku excited banget pengen ada di Bandung weekend ini, biar bisa ngerayain ultah sama beli kado. Lagian aku udah kangen banget sama keluarga di Bandung. Sayangnya, adik aku yang perempuan, Shabirina, lagi diklat paskibra dan masuk asrama sampai minggu depan, jadi nggak bisa ketemu.

Rencana aku terwujud, aku hari ini ada di Bandung…

Hari Sabtu, 2 Juli 2011, aku cuma ketemu ibu kurang dari 1 jam, soalnya beliau temenin eyang di Cimahi, eyang lagi sakit jadi ibu bolak balik rumah - Cimahi. Sorenya ibu balik lagi ke Cimahi dan aku pergi nyari kado. Aku sempet nanya ibu mau kado apa dari aku (karena kebetulan aku baru dapet honor nulisku dari BERKALA yang super lumayan). Ibu bilang bingung jadi kadonya ditunda dulu aja, yang penting beli kado buat Dimas dan Candra (adikku yang satu lagi, dia ranking 1 dan aku janji beliin hadiah). Jadi, pergilah aku nyari kado.

Pagi ini, tanggal 3 Juli, ibu rencananya pulang ke rumah siang. Pagi-pagi aku ucapin selamat ulang tahun ke Dimas dan kasih kadonya, alhamdulillah dia suka. Aku mikir, ya udah lah ngucapin selamat ulang tahunnya siang aja, langsung, pas ibu sampai rumah.

Tapi ternyata ibu nggak pulang hari ini…

Aku nggak marah, aku ngerti ada prioritas yang lebih saat ini. Aku cuma menyayangkan aja. Padahal aku udah tunda kepulanganku ke Cibitung jadi jam 3 sore biar bisa ketemu ibu lagi, ngucapin selamat ulang tahun sambil peluk dan cium ibu.

Dan mungkin aku cuma bisa ngucapin selamat lewat telepon, padahal asli bela-belain pulang demi ibu..
Semoga ibu senantiasa sehat
Semoga ibu senantiasa dilimpahi berkah, rizki, dan cinta Allah
Semoga ibu memiliki anak-anak yang shaleh
Semoga aku masih punya banyak kesempatan berharga sama ibu
Ibu akan selalu jadi wanita terbaik yang pernah aku kenal
“Happy birthday Mom, Allah always loves you, and I love you soooo much..”
Sumpah kangen banget…

Kamis, 26 Mei 2011

Reminder


Kenapa ini salah? kenapa ini ngecewain? kenapa sistemnya jelek?
Dan aku terus meruntuki buruknya pengaturan suatu sistem dengan kondisi yang sangat tidak aku sukai. Kenapa ini harus begini dan itu harus begitu, menurutku mereka tidak seharusnya menentukan ini untuk itu, itu untuk ini. Dan menurutku dengan mereka begitu, orang-orang akan semakin kecewa sama sistem yang ada, semakin menganggapnya kacau. Entropi semakin meningkat, ulalala~

Dan ruang keluarga menjadi salah satu tempat paling nyaman untuk mengungkapkan kekecewaan, kekesalan, penyesalan, keraguan yang selama ini ditumpuk dalam diri, semuanya ditumpahkan di depan ayah dan ibu yang diyakini dapat menenangkan dan memberikan solusi. Ya, dan mulutku terus meracau mengumumkan kekurangan-kekurangan dan hal-hal dari sebuah sistem, dari sebuah kondisi yang setting-annya aku anggap salah. Gilanya, tanpa sadar aku jadi menggebu, melihat suatu hal dari satu sisi, dari pandanganku saja..

Kemudian ‘tamparan’ itu datang, tamparan berwujud kata-kata seorang ayah yang mungkin tidak ingin anaknya terjun terlalu dalam ke jurang ‘pemikiran yang sempit’, yang akhirnya menyadarkan aku bahwa hari ini aku melakukan suatu kekhilafan. Memandang masalah dari satu sisi, dengan mata yang tidak ‘terbuka’, dengan pola pikir pribadi yang egois, yang memandang diri sebagai ‘si benar’ dan ‘si paling tahu apa yang benar’. Dan, menurutku seharusnya hal itu tidak dilakukan oleh seorang gadis menuju umur 20 yang sedang menimba ilmu menuju kedewasaan. Bebaskan pikiran, jangan terkunci pada satu pola pikir.

"Saat kamu kecewa akan suatu kondisi/sistem, ngomong saja ngga akan merubah keadaan. Kalau kamu berani, terjun ke dalamnya, temukan kekurangannya lalu  ubah seperti yang kamu mau, yang seharusnya dilakukan, dan menurut kamu benar…"

Thanks dad, for reminding me…